JAKARTA, KOMPAS.com — Mahkamah Kehormatan Dewan mulai menggelar sidang terkait pelanggaran kode etik yang diduga dilakukan oleh Ketua DPR Setya Novanto atas tuduhan pencatutan nama Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla demi mendapatkan saham PT Freeport.

Sidang perdana digelar dengan meminta keterangan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said, Rabu (2/12/2015), yang merupakan pelapor dalam kasus ini.

Selain mendengarkan keterangan Sudirman Said, sidang MKD juga memperdengarkan rekaman pembicaraan yang diduga melibatkan Setya Novanto, pengusaha minyak Riza Chalid, dan Presiden Direktur PT Freeport Maroef Sjamsoeddin.

Sejumlah hal menarik terungkap dalam rekaman, di antaranya pembicaraan mengenai rencana divestasi PT Freeport.

baca selengkapnya…>

Sejumlah anggota perhimpunan eksil Indonesia mendengarkan pembacaan Teks Proklamasi dalam acara peringatan kemerdekaan di Belanda. TEMPO/Yuke Mayaratih

Sejumlah anggota perhimpunan eksil Indonesia mendengarkan pembacaan Teks Proklamasi dalam acara peringatan kemerdekaan di Belanda. TEMPO/Yuke Mayaratih

Rencana pulang ke tanah air pun ditunda akibat belum menentunya situasi pasca peristiwa G 30 S/1965. Tak terbesit sedikit pun bayangan tentang dahsyatnya peristiwa tersebut bagi nasibnya. Menunggu hingga situasi sudah kondusif. Hanya itu yang bisa dilakukan sembari terus mencari informasi tentang perkembangan situasi di tanah air yang penuh dengan rumor dan ketidakpastian.

Harapan untuk bisa pulang akhirnya sirna juga setelah KBRI Moskow di bawah pengawasan Atase Pertahanan mencabut paspornya. Bukti status sebagai warga negara Indonesia diambil negara, artinya hilanglah keawarganegaraan Indonesia yang ia banggakan selama ini. Mau tak mau, status sebagai alien citizen (tanpa kewarganegaraan dalam perlindungan UNHCR) menjadi satu-satunya pilihan. Pemerintah dan universitas Uni Soviet saat itu cukup membantu dalam proses ini.
baca selengkapnya…>

12049407_10206415218773444_5364517065564256627_n

Ketika berkenalan dengan orang baru, saya selalu menyebut Lumajang sebagai kota asal. Mayoritas dari mereka tak tahu di mana itu Lumajang. Saya maklum saja, Lumajang memang kota kecil, tak setenar tetangga: Malang dan Jember. Agar mereka tahu di mana itu Lumajang, Gunung Semeru selalu saya jadikan patokan. Kalau ada berita heboh banjir lahar Semeru, maka itulah Lumajang.

Namun, mulai Sabtu kemarin, mengenalkan Lumajang tak perlu lagi pakai Semeru sebagai alat. Lumajang saat ini jadi isu nasional. Bukan karena prestasi, tapi pembunuhan dan penganiayaan warga penolak tambang pasir di Selok Awar-Awar, Pasirian.
baca selengkapnya…>

0923218011-fot0127780x390
Desember kelak Indonesia bakal selenggarakan pemilihan umum kepala daerah serentak. Sebanyak 204 daerah akan selenggarakan pemilukada, baik pemilihan bupati, walikota, maupun gubernur. Tentu saja, termasuk wakil-wakilnya juga. Satu paket.

Dibalik itu semua, ada hal yang agak ganjil dalam setiap hajatan pemilukada. Namun, khusus pemilukada serentak kali ini keganjilannya semakin mengemuka. Apakah gerangan itu sehingga layak dijuluki penuh keganjilan?
baca selengkapnya…>

Panas, menyengat, dan sumpek. Inilah gambaran awal Surabaya dulu ketika masih duduk di bangku sekolah dulu. Surabaya saat itu sangat kering, pepohonan dan taman sangat jarang. Bahkan, ketika pertama kali ke Jakarta, saya tak percaya jika sudah ada di ibukota. Apa benar Jakarta lebih hijau daripada Surabaya? Logikanya, Surabaya yang ibukota provinsi saja kerontang, bagaimana dengan Jakarta yang jadi ibukota negara? Surabaya pada awal dekade 2000-an terkenal dengan panasnya yang sangat menyengat.

Surabaya tak ramah untuk jadi destinasi wisata yang jauh dari keruwetan kota. Jalur hijau sangat minim dan taman-taman kota kondisinya cukup mengenaskan. Ruang publik sangat terbatas karena keberadaannya kurang mendapat perhatian dari pemerintah kota. Alhasil, ruang publik yang sejatinya hati bagi sebuah kota akhirnya terbengkalai sehingga mengurangi konektivitas masyarakat.
– baca selengkapnya…>

Langit ibukota dan daerah penyangganya sepanjang Kamis kemarin (Idul Adha) tertutup kabut asap, dan mungkin daerah lainnya. Bukan asap gara-gara kebakaran hutan lho, tapi akibat banyaknya orang memanggang sate. Di berbagai tempat penuh canda riang dengan aroma semerbak kombinasi daging kambing gosong dan kecap manis. Pedagang sate pun terpaksa tutup lapaknya. Hari itu benar-benar indah…

Di mana-mana, pemandangan menguliti sapi dan kambing, serta memotong dagingnya sesuai ukuran jadi hal biasa. Kalau tak ada malah terkesan aneh. Banyak ekor sapi dan kambing disembelih dan keceriaan pun tak bisa dicegah untuk hadir. Fenomena ini tak lepas dari peringatan Idul Adha yang mana disunnahkan untuk mengorbankan hewan ternak untuk bisa dibagikan kepada kaum fakir-miskin.
baca selengkapnya…

Pembangunan tata dunia baru yang berkeadilan dan damai menjadi isu sentral pada penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika 60 tahun silam. Kemerdekaan bangsa-bangsa Asia-Afrika dari imperialisme dan kolonialisme berdengung kencang. KAA membawa inspirasi besar bagi bangsa-bangsa Asia-Afrika untuk menuntut kemerdekaan dan kesetaraan. Dalam kurun waktu 30 tahun sejak penyelenggaran KAA, sebanyak 78 negara di kawasan Asia-Afrika memeroleh kemerdekaan.

Dasasila Bandung (Bandung Declaration) menjadi bukti nyata adanya semangat merdeka. Penghargaan tinggi terhadap kemanusiaan, perdamaian, dan kemerdekaan setiap bangsa. Inilah semangat dasar dari KAA yang masih memunyai relevansi dengan situasi ekonomi-politik dunia kontemporer. Kerjasama antar negara anggota KAA bukan sekedar bisnis biasa, tapi lebih kepada solidaritas antar-bangsa.
baca selengkapnya…