obey12

Melalui bukunya yang berjudul “Naar de Republik Indonesia” (1925), Tan Malaka mencita-citakan lahirnya Republik Indonesia yang merdeka dan berdaulat. Karena itu, beliau mendapatkan gelar sebagai Bapak Republik Indonesia karena menjadi orang pertama yang cetuskan negara-bangsa bernama “Indonesia”.

Sejarah resmi Indonesia memang tak menulis jejak Tan Malaka dengan gempita. Nama Tan Malaka hanya diletakkan di pinggiran, bahkan seringkali dikonotasikan sebagai pemberontak. Iya benar, pemberontak. Pemberontak terhadap kolonialisme dan imperialisme Belanda.

baca selengkapnya…>

indonesia_satu_by_emilleart-d3ei67b

Amerika Serikat mengenal pakem kepemimpinan berdasarkan identitas pribadi, yakni: white, protestan, dan anglo-saxon. Pakem tersebut senantiasa menjadi rujukan dalam setiap pemilihan presiden. Meski demikian, hal tersebut bukanlah harga mati karena bukan atas dasar konstitusi, melainkan kultur politik belaka.

Presiden J.F. Kennedy bukanlah seorang Protestan, tapi penganut Katholik. Barrack Obama juga tak berkulit putih. Artinya, tradisi politik berdasarkan identitas sosial-kultural tersebut tak hilangkan hak warga negara untuk menjadi seorang pemimpin. Namun, butuh kerja keras dan perjuangan lebih untuk itu.
baca selengkapnya…>

Membakar dan melarang buku bukanlah hal baru di Indonesia. Sejarah mencatat, penguasa Indonesia telah beberapa kali melarang peredaran dan membakar buku. Pelarangan dan pembakaran buku ini paling massif terjadi kala Suharto berkuasa. Apa pun yang berpotensi memunculkan sikap kritis bakal diberangus.

Berbagai naskah yang telah dikerjakan bertahun-tahun dibakar oleh rezim Suharto sudah biasa terjadi. Naskah-naskah karya Pramoedya Ananta Toer menjadi salah satu korban “kebejatan” perangai ini. Novel “Gadis Pantai” yang begitu memesona bakal sangat indah jika naskah novel Gadis Pantai 2 dan 3 tak ikut dibakar. Juga naskah Ensiklopedi Indonesia yang juga turut dibumihanguskan.
baca selengkapnya…>

Kebun zaitun tampak sejauh mata memandang. Pohon dan daunnya tampak berjejer rapi di daerah perbukitan agak kering dengan dengan kondisi tanah lumayan tandus. Sangat aneh, di wilayah seperti itu bisa tumbuh pohon zaitun dengan subur.

Ini bukan mukjizat atau keajaiban alam, tapi akal-budi manusia. Ternyata, di bagian bawah pepohonan tersebut ada sistem pengairan dengan pipa-pipa cukup rumit. Tiap pohon diairi satu kran air yang diatur sedemikian rupa. Ini bukan perkebunan, tapi pertanian yang dikelola masyarakat setempat.

“Pemerintah menyubsidi para petani dan memberi perhatian khusus kepada merek,” ujar sumber yang mengunjungi lokasi tersebut.

Pemerintah Spanyol menggelontorkan dana cukup besar untuk para petani agar produk mereka senantiasa kompetitif. Para petani di Almeria hidup sejahtera dengan profesinya. Mengapa? Pemerintah melindungi kepemilikan lahan pertanian dan aktif menjaga hasil panennya supaya tetap bagus.

Sunber juga menceritakan kehidupan para petani di Almeria. Kehidupan mereka sangat dinamis dengan tingkat kesejahteraan cukup tinggi. “Sangat jauh jika dibandingkan dengan keadaan petani di Indonesia,” tegasnya.

Apa yang dikemukakan sumber di atas memang benar adanya. Tingkat perhatian pemerintah terhadap petani memang jauh berbeda. Subsidi pertanian di Indonesia tak sebesar yang diberikan Pemerintah Spanyol kepada petaninya.

Minimnya subsidi pertanian memaksa pemerintah Indonesia melakukan pembatasan impor produk pertanian. Salah satu langkah shortcut melindungi kepentingan perlindungan petani. Tentunya, negara lain berkepentingan dengan hal tersebut. Masalah ini dibawa ke WTO karena Indonesia dinilai melakukan proteksi. Barang haram dalam rezim perdagangan bebas.

Beberapa hari yang lalu seorang kawan mengirim pesan pendek. Isinya sangat getir karena mengingatkan kembali nasib petani Indonesia ke depan. “Gimana bung kondisi outlook perekonomian Indonesia 2017? Kita kalah dalam sidang di WTO tentang impor produk holtikultura. Dipastikan buah-buahan dan sayur-sayuran, serta kebutuhan pangan lainnya dari luar negeri semakin membanjiri pasar di Indonesia,” tulisnya.

Pada 22 Desember 2016, World Trade Organisation (WTO) memenangkan gugatan Amerika Serikat dan Selandia Baru terkait kebijakan proteksi Indonesia atas produk holtikultura dan peternakan. Indonesia mau tak mau harus mematuhi putusan tersebut karena sudah bergabungbdalam rezim perdagangan bebas WTO sejak 1995.

Sengaja ku biarkan pesan tersebut tanpa balasan. Hanya bisa berpikir dan merenungkan kembali kisah Bung Karno dengan Pak Marhaen. Apakah ini pertanda andai Bung Karno masih hidup dan bertemu petani lagi tetap akan membicarakan hal yang sama seperti puluhan tahun silam? Ini hanya imajinasi belaka.

Dalam demagoginya, seorang teman memberikan jawaban sederhana atas imajinasi tersebut. “Bisa, asal Indonesia mundur dari semua rezim perdagangan bebas. Hampir mustahil bisa berdaulat atas pangan jika masih terlibat di berbagai rezim tersebut.”

Aku pun menjawab, “kita lihat saja kelanjutannya.”

Sembari membuka foto-foto ladang pertanian zaitun di Almeria, tiba-tiba muncul pertanyaan. Mungkin bakal ada menyebutnya hanya ilusi atau halusinasi, bahkan delusi. Butuh berapa lama para petani Indonesia bisa seperti petani di Almeria?

 

lontong balap

lontong balap Kompas/Runik Sri Astuti (NIK) 22-05-2015

Kalau dengar kata “Surabaya”, bayangan hawa panas dan matahari sangat terik hampir pasti muncul. Semua orang yang pernah menjalani hidup di Surabaya hampir pasti bersuara senada: panas. Panasnya Kota Pahlawan ini jangan sampai membuat perut ikut “panas” gara-gara bingung cari tempat kuliner. Perut harus tetap dibuat “adem”. Karena itu, jangan ragu untuk tetap melangkah ke Surabaya tanpa harus takut “kepanasan”.

Cari pusat kuliner di Surabaya memang agak susah, terutama khas Surabaya atau Jawa Timur. Meski tak ada pusat kuliner yang cocok buat perut, ternyata warung yang jual makanan khas Suroboyo atau Jawa Timur ternyata banyak sekali. Namun, meski banyak, lokasinya tersebar di berbagai sudut kota.
baca selengkapnya…>

Hantu komunisme berpotensi bangkit. Itulah wacana yang saat ini sedang dibangun oleh penguasa. Orang-orang yang mengenakan segala atribut yang mengandung unsur komunis (palu-arit) ditangkap. Bahkan, lambang komunitas pecinta kopi pun juga jadi sasaran. Barangkali, palu untuk memaku dan arit buat potong rumput yang kita simpan di rumah perlu juga untuk disembunyikan. Kalau perlu, dikubur di halaman rumah karena keduanya mengandung unsur lambang komunisme, palu dan arit.

Berbagai buku tentang pemikiran Karl Marx, Lenin, dan tokoh-tokoh komunis lainnya sedang dicari aparat keamanan untuk disita. Buku tentang sejarah gerakan komunis di Indonesia atau segala sesuatu terkait Partai Komunis Indonesia juga alami hal serupa. Tak ketinggalan pula buku yang halaman depannya bergambar palu-arit juga jadi sasaran penyitaan. Untuk itu, bersegeralah membeli buku-buku tersebut sebelum hilang dari peredaran. Anggap saja investasi karena siapa tahu harganya bakal selangit di kemudian hari karena langka dan tak diproduksi lagi.
baca selengkapnya…>

“Hanya untuk kasus korupsi saja tak dihubung-hubungkan dengan kebangkitan PKI atau bahaya laten komunis.”

Beberapa hari terakhir merebak isu kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI). Berbagai komentar pun keluar dari masyarakat terhadap isu ini. Rata-rata mengajak semua pihak untuk mewaspadai bahaya laten komunisme. Tak hanya itu saja, aparat keamanan dan pertahanan pun ikut turun gunung dengan otoritas yang mereka miliki.

Pemberitaan pun banyak mengabarkan tentang penangkapan terhadap orang yang memakai kaos bergambar palu-arit. Gambar yang diidentikan sebagai bendera PKI meski faktanya bukan. Mulai dari kaos merah bergambar palu-arit kuning hingga logo band luar negeri yang mengandung unsur “terkutuk” juga kena penertiban. Semua hal yang terkait palu-arit jadi sorotan.
baca selengkapnya…>