Archive for the ‘Cerita’ Category

Beberapa hari lalu seorang teman meminta ku untuk menulis soal tindihan (sleep paralysis). Bukan tanpa sebab, Dia meminta karena malam sebelumnya ketindihan sewaktu tidur. Membuatnya sulit untuk bangun dan bergerak ketika kejadian ini berlangsung.

“Ayo tulis di blogmu soal tindihan. Semalam aku ketindihan,” katanya padaku.

Aku tak langsung meng-iya-kan permintaan tersbut. Aku hanya menertawakan cerita tindihannya tersebut. Ya, soalnya aku juga sering mengalami peristiwa tersebut. Bahkan dalam semalam bisa tiga kali mengalaminya. Sungguh menyesakkan dan membuat bulu kuduk berdiri.
baca selengkapnya…

Iklan

Saat itu sedang pelajaran IPS. Anton yang saat ini duduk di kelas 5 pada sebuah sekolah dasar (SD) di pelosok meperhatikan dengan cermat. Sang guru kali ini menerangkan soal ketatanegaraan di Indonesia. Anton dengan bersungut-sungut tanpa sedikit pun lengah menyimak semuanya.

“Indonesia adalah negara kesatuan berbentuk republik. Kepala negara dan kepala pemerintahannya dipegang oleh seorang presiden,” jelas sang guru.
baca selengkapnya…

Malam seperti biasa. Tak ada firasat apa pun yang menyelubungi lubuk hati. Tak ada tangkapan sinyal apa pun tentang apa yang akan terjadi saat itu. Semuanya berjalan biasa saja. Tanpa ada sesuatu ganjalan. Seperti biasa, apa adanya.

Semakin larut aku bertarung melawan hawa dingin. Semuanya ku buat sesantai mungkin. Ya, seperti biasa tanpa berpikir sesuatu yang wah. Perlahan tapi pasti, aku pun mengikuti pemberitaan lewat internet di media online. Apalagi kalau bukan banjir dan merapi. Banjir ternyata tak sedahyat semalam (25/10). Namun, merapi justru sebaliknya, menampakkan keperkasaannya.

Pada suatu titik, aku menemukan suatu berita yang cukup meresahkan. Seorang wartawan Vivanews terjebak dalam awan panas Gunung Merapi. Nama wartawan itu sangat jelas, aku mengenalnya dengan baik. Yuniawan Wahyu Nugroho alias Wawan. Ia dikabarkan hilang kontak akibat “wedhus gembel” karena berusaha membujuk Mbah Maridjan agar bersedia dievakuasi.

Hati ku masih biasa saja. Biasa seperti sebelumnya, tak punya firasat apa-apa. Tiba-tiba seorang kawan mengirimkan pesan pendek. Sangat pendek, singkat sekali tapi menggetarkan hati. “Wartawan Vivanews meninggal di rumah Mbah Maridjan”. Sontak aku dibuat kaget olehnya. Hanya bisa berharap semoga bukan kawan ku satu itu. “Siapa lagi wartawan Vivanews yang ada di sana?” tanyaku sembari mengutak-atik berbagai pemberitaan tentang hal itu sebelumnya.
baca selengkapnya…

Mudik: Berburu Tiket Balik (2)

Posted: 24 Agustus 2010 in Cerita

Perjuangan untuk mudik ke kampung halaman saat lebaran tak cukup ketika tiket ke daerah sudah di tangan. Perjuangan masih harus terus dilanjutkan untuk memperoleh tiket balik. Tak mungkin hati jadi tenang tanpa adanya jaminan untuk bisa balik lagi ke ibukota. Hati resah senantiasa membayangi ketika tiket balik belum tergenggam.

Untuk mendapatkan tiket balik perjuangannya tak sama ketika harus berjuang bagi keberangkatan. Tim “pemburu tiket mudik” bubar begitu ada kepastian sehingga perjuangan harus dilakukan individual. Bayangan tak mendapat jatah tiket kereta api terus ada meski tak separah sebelumnya. Hal ini tak bisa lepas dari “kesaktian” kecepatan habisnya tiket yang bisa merobohkan harapan dalam hitungan menit saja.
baca selengkapnya…

Menjelang lebaran Idul Fitri, tiket mudik dan balik adalah satu rangkaian dalam bingkai sembako. Tiket mudik dan balik jadi hal sangat penting yang harus dipenuhi selayaknya sembako. Harus berjuang keras untuk mendapatkannya dengan berbagai macam cara. Tiket di tangan hati pun lega. Tak lagi punya bayangan harus berlebaran di ibukota atau bergelut dengan kemacetan pintu keluar tol Cikampek hingga puluhan jam.

Kereta api tetaplah jadi moda transportasi terfavorit untuk mudik dan balik lebaran. Calon penumpang berjubel di beberapa stasiun untuk bisa mendapatkan tiket sesuai tanggal yang diinginkan pada H-30 sebelum keberangkatan. Alhasil, pada H-30 keberangkatan tanggal favorit mudik/balik lebaran penumpang pun berjubel. Antrean panjang pun tak terhindarkan, bahkan menginap di stasiun hingga dua malam pun jadi keniscayaan.
baca selengkapnya…

Hawa dingin menyelimuti Kota Bandung ketika matahari hendak pergi ke peraduan. Sembari menunggu keberangkatan kereta api Mutiara Selatan yang akan emmbawaku ke Surabaya, aku terus memperhatikan gerak-gerik para calon penumpang. Stasiun Bandung sore itu tampak lain dari biasanya, lebih ramai dengan hiruk-pikuk manusia yang hendak bepergian ke luar kota untuk menikmati libur panjang.

Setelah menunggu dua jam, kereta api Mutiara Selatan pun bersiap untuk menggilas bumi. Tampak dari kejauhan, puluhan anggota TNI yang masih muda berlarian mengejar kereta yang sudah mulai berjalan pelan. Teriakan pun bersahutan kepada sang masinis, “tunggu dulu, tunggu dulu. Berhenti, berhenti!” Akhirnya, kereta pun berhenti sejenak untuk mengangkut mereka. Alhasil, seisi gerbong pun terasa penuh karena banyak dari mereka yang sejatinya tak mendapatkan tiket duduk.
baca selengkapnya…

Obituari Untukmu

Posted: 13 Desember 2009 in Cerita

Pagi itu tanpa sengaja aku membuka situs jaringan pertemanan. Aku mencuri waktu disela waktu dalam sempitnya keadaan. Betapa kagetnya aku ketika membaca salah satu status seorang teman: kabar tentang kondisi terakhir seorang kakak, guru, dan sahabat. Di antara percaya dan tidak karena beberapa bulan lalu dia masih menyatakan dirinya baik-baik saja.

Tanpa berpikir panjang aku langsung menghubungi seorang kawan. Kawan yang dulu juga sering bersama-sama dengan orang yang dikabarkan tadi. Aku langsung bertanya, “ayo kita ke sana nanti malam!” Dia hanya menjawab bila semalam telah berkunjung ke tempat itu. Aku pun hanya bisa pasrah dan bertekad nanti malam akan berkunjung juga, sendiri atau bersama lainnya. Tak peduli entah apa kondisinya nanti.
baca selengkapnya…