Archive for the ‘Puisi’ Category

TUJUAN KITA SATU IBU

Oleh: Wiji Thukul

kutundukan kepalaku
bersama rakyatmu yang berkabung
bagimu yang bertahan dihutan
dan terbunuh di gunung
di timur sana
di hati rakyatmu
tersebut namamu selalu
dihatiku
aku penyair mendirikan tugu
meneruskan pekik salammu
a luta continua

kutundukan kepalaku
kepadamu lawan yang dijebloskan
ke penjara negara
hormatku untuk kalian
sangat dalam
karena kalian lolos dan lulus ujian
dari ujian pertama yang mengguncang

kutundukan kepalaku
kepadamu ibu-ibu
hukum yang bisu
telah merampas hak anakmu
tapi bukan cuma anakmu ibu
yang diburu dianiaya difitnah
dan di adili di pengadilan
yang tidak adil ini
karena itu aku pun anakmu
karena aku ditindas
sama seperti anakmu
baca selengkapnya

Iklan

Sejumput Rahasia

Posted: 24 November 2011 in Puisi

Saat semua orang terlelap, kita terlalu asyik menambatkan rindu
Hanya malam sunyi dan wingit yang menghiasi
Membuat sajaknya sendiri tentang aku dan kau
Kisah hidup yang tak akan pernah mati

Semua berjejer menunggu nasib
Semua bergegas menjerat asa
Semua pergi dengan penuh kepercayaan
Hanya satu yang tak bisa dibawa, rindu

Lambaian tangan itu bukanlah petanda perpisahan
Itu tanda perjumpaan hebat di suatu masa
Masa yang penuh dengan bintang meski langit sudah terang
Randezvous!

Tak ada yang kuberikan kepadamu
Hanya sejumput rindu yang kelak akan berbuah dengan ranum
Ku selipkan ia ke dalam sakumu dengan rahasia
Simpan ia hingga masa itu datang.. .

Sama Rasa dan Sama Rata

Sair inillah dari pendjara,
Waktoe kami baroe dihoekoemnja,
Di-Weltevreden tempat tinggalnja,
Doea belas boelan poenja lama,

Ini boekan sair Indie Weerbaar,
Sair mana jang bisa mengantar,
Dalam boei jang tidak sebentar,
Membikin hatinja orang gentar,

Kami bersair boekan krontjongan,
Seperti si orang pelantjongan,
Mondar mandir kebingoengan,
Jaitoe pemoeda Semarangan,

Doeloe kita soeka krontjongan,
Tetapi sekarang soeka terbangan,
Dalam S.I. Semarang jang aman,
Bergerak keras ebeng-ebengan.
baca selengkapnya…

Kumpulan Puisi Wiji Thukul

Posted: 4 Agustus 2011 in Puisi
Tag:, ,

ISTIRAHATLAH KATA-KATA

istirahatlah kata-kata
jangan menyembur-nyembur
orang-orang bisu

kembalilah ke dalam rahim
segala tangis dan kebusukan
dalam sunyi yang mengiris
tempat orang-orang mengingkari
menahan ucapannya sendiri

tidurlah kata-kata
kita bangkit nanti
menghimpun tuntutan-tuntutan
yang miskin papa dan dihancurkan

nanti kita akan mengucapkan
bersama tindakan
bikin perhitungan

tak bisa lagi ditahan-tahan

Solo, Sorogenen,
12 Agustus 1988
baca selengkapnya…

Sastra hidup dalam keterombang-ambingan dunia
Sastra juga hidup dalam setiap kata yang terucap
Tiap kata punya makna dan sejarah
semuanya terhampar untuk ditafsirkan

Tak hanya sastra, semua yang mengandung kata
Mereka hidup untuk diketahui
Baik-buruknya dunia bisa tampak jelas
Tergantung, apakah hendak diucap atau tidak
Ingin seluruh dunia tahu atau hanya menyimpannya

Kehidupan tak akan pernah ada tanpa kata
Perang pun dimulai dari kata, bukan senjata
Bahasa hanya membantu kata
Bahasa hanya diam tak berkata-kata

Jika ingin dunia tahu tentangmu, berkata-kata lah
Jika dunia ingin kau kuasai, tembakkan kata-katamu
Jika dunia ingin kau terabas, bahasakan kata-katamu
Jika seseorang ingin kau kutuk, gunakan kata untuk membunuhnya

Si Jamin Memperingati 17 Agustus

Posted: 18 Agustus 2010 in Puisi

Jamin oleh tetangga disebut rakyat biasa
tidak punya apa-apa
merasa ikut punya Indonesia
ia menyambut 17 Agustus 1982

Karena rakyat biasa ia tidak berkuasa
terhadap dirinya pun sangsi apakah berkuasa
ia tidak mampu menguasai rasa laparnya
tidak mampu menolak diri bakal mati
apalagi soal sumber ekonomi
baca selengkapnya…

Pembakar Buku

Posted: 20 Mei 2010 in Puisi
Tag:, ,

Oleh: Rama Prabu

Buku, musuhnya api
Buku, musuhnya rayap
Buku, musuhnya lembab
Buku, musuhnya sebab
Buku, musuhnya musabab
Buku, musuhnya profesor anti buku
Buku, musuhnya agama satanic
tujuh musuh, tujuh rupa
tujuh jiwa, tujuh kuasa
ini kunci mati!
tapi, kemana kau bawa lari kerta-kertasku?
padahal aku tetap rindu!
kenapa kau bakar semua, padahal ada tapakku yang tak bisa kau hapus pupuskan
jenaka punakawan, sia-sia hidup kala laku tak berilmu
seperti dirimu!
ingatlah jiwa buku takkan layu di telan ragu, seperti hidupmu!
mereka telah hidup bersama taring-taringnya, bersama cakar-cakarnya
tapi kenapa kau tak bersikap bijak?
kita kan teriak, buku lawan buku
satu lawan satu
seteru lawan seteru
baku buku dengan baku buku
ini hidup sebelum mati, ini manusiawi sebelum sorgawi
jadi, jangan mati sebelum mati!
baca selengkapnya…