Posts Tagged ‘Jokowi’

170706190107-hamburg-protests-large-169

Di lokasi berlangsungnya KTT G-20 Hamburg, Jerman, ribuan aktivis dari berbagai negara berdemonstrasi menentang kapitalisme global, ketidakadilan sosial, dan pengrusakan lingkungan. Negara-negara anggota G-20 dinilai sebagai penyebab ketimpangan perekonomian dunia dan kerusakan lingkungan akibat keserakahan ekonomi. “Welcome to Hell.” Inilah slogan yang diusung oleh para demonstran yang mayoritas berasal dari negara-negara anggota G-7 (anggota G-7 otomatis jadi anggota G-20) yang mayoritas paling menikmati kondisi asimetris perekonomia dunia saat ini. Sayangnya, aksi vandalisme terjadi selama demonstrasi berlangsung.

Apa yang sedang terjadi di Jerman simetris dengan Indonesia. Indonesia sebagai negara anggota G-20 juga sedang ramai memperbincangkan KTT di Jerman tersebut. Hanya beda satu milimeter saja bias isunya. Di Jerman, para demonstran bahu-membahu menyuarakan keadilan untuk masyarakat dunia dan penyelamatan planet bumi (not free trade, but fair trade). Mereka terinspirasi protes KTT WTO di Seattle 1999 (N-20 Seattle) yang berhasil memaksa para petingggi negara harus berdiam diri di penginapannya. Kelompok ini menamakan dirinya sebagai “Block G20 – Colour the Red Zone”.

Bagaiamana dengan Indonesia? Di Indonesia juga ramai memperbincangkan kehadiran Presiden Jokowi ke KTT G-20 Hamburg, Jerman. Apakah ramai memperdebatkan bahaya kapitalisme global dan pentingnya penyelamatan planet bumi? Atau isu bagaimana mengurangi ketimpangan antara negara kaya dan miskin, serta pemerataan ekonomi? Keduanya bukan isu utama yang mengemuka di Indonesia. Karena itu, semua orang perlu berpikir “melampaui’ nalar dan isu masyarakat dunia: mengapa presiden Jokowi membawa istri dan anaknya dalam kunjungan kenegaraan tersebut?

Isu keadilan global, penyelamatan bumi, dan pemerataan ekonomi ternyata jauh lebih tidak penting dibanding soal jumlah anggota keluarga presiden yang ikut kunjungan kenegaraan. Benar-benar out of the box! Keren kan?

Iklan

Hantu komunisme berpotensi bangkit. Itulah wacana yang saat ini sedang dibangun oleh penguasa. Orang-orang yang mengenakan segala atribut yang mengandung unsur komunis (palu-arit) ditangkap. Bahkan, lambang komunitas pecinta kopi pun juga jadi sasaran. Barangkali, palu untuk memaku dan arit buat potong rumput yang kita simpan di rumah perlu juga untuk disembunyikan. Kalau perlu, dikubur di halaman rumah karena keduanya mengandung unsur lambang komunisme, palu dan arit.

Berbagai buku tentang pemikiran Karl Marx, Lenin, dan tokoh-tokoh komunis lainnya sedang dicari aparat keamanan untuk disita. Buku tentang sejarah gerakan komunis di Indonesia atau segala sesuatu terkait Partai Komunis Indonesia juga alami hal serupa. Tak ketinggalan pula buku yang halaman depannya bergambar palu-arit juga jadi sasaran penyitaan. Untuk itu, bersegeralah membeli buku-buku tersebut sebelum hilang dari peredaran. Anggap saja investasi karena siapa tahu harganya bakal selangit di kemudian hari karena langka dan tak diproduksi lagi.
baca selengkapnya…>

JAKARTA, KOMPAS.com — Mahkamah Kehormatan Dewan mulai menggelar sidang terkait pelanggaran kode etik yang diduga dilakukan oleh Ketua DPR Setya Novanto atas tuduhan pencatutan nama Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla demi mendapatkan saham PT Freeport.

Sidang perdana digelar dengan meminta keterangan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said, Rabu (2/12/2015), yang merupakan pelapor dalam kasus ini.

Selain mendengarkan keterangan Sudirman Said, sidang MKD juga memperdengarkan rekaman pembicaraan yang diduga melibatkan Setya Novanto, pengusaha minyak Riza Chalid, dan Presiden Direktur PT Freeport Maroef Sjamsoeddin.

Sejumlah hal menarik terungkap dalam rekaman, di antaranya pembicaraan mengenai rencana divestasi PT Freeport.

baca selengkapnya…>

Pembangunan tata dunia baru yang berkeadilan dan damai menjadi isu sentral pada penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika 60 tahun silam. Kemerdekaan bangsa-bangsa Asia-Afrika dari imperialisme dan kolonialisme berdengung kencang. KAA membawa inspirasi besar bagi bangsa-bangsa Asia-Afrika untuk menuntut kemerdekaan dan kesetaraan. Dalam kurun waktu 30 tahun sejak penyelenggaran KAA, sebanyak 78 negara di kawasan Asia-Afrika memeroleh kemerdekaan.

Dasasila Bandung (Bandung Declaration) menjadi bukti nyata adanya semangat merdeka. Penghargaan tinggi terhadap kemanusiaan, perdamaian, dan kemerdekaan setiap bangsa. Inilah semangat dasar dari KAA yang masih memunyai relevansi dengan situasi ekonomi-politik dunia kontemporer. Kerjasama antar negara anggota KAA bukan sekedar bisnis biasa, tapi lebih kepada solidaritas antar-bangsa.
baca selengkapnya…

Sumber: anisavitri.wordpress.com

“Tugas pemerintah untuk mengendalikan, bukan anti investasi. Ya, saya pro pengusaha, tapi pengusaha yang kecil-kecil” –Jokowi, @matanajwa

“Perseteruan antara Bibit Waluyo dengan Jokowi terkait pabrik es Saripetojo bisa dilihat dari dua aspek. Pertama, soal keberpihakan pada perekonomian rakyat. Kedua, dari perspektif historis. Dari perspektif keberpihakan, pembangunan mall sangatlah jauh dari ekonomi kerakyatan. Keberadaan mall atau pasar moder ini bisa mematikan perekonomian sekitar. Apalagi di sekitar pabrik es tersebut terdapat pasar tradisional yang menyokong hajat hidup warga setempat. Keberadaan mall dapat membunuh mekanisme yang sudah berjalan.

Trickle down effect yang biasa jadi kerangka acuan sullitlah terwujud. Tak ada makan siang gratis. Tak ada yang menetes dengan Cuma-Cuma dari aktivitas ekonomi di mall yang hendak dibangun tersebut. Andai pun ada, dampaknya tak sebesar kerusakan ekonomi yang bakal diderita warga. Contohnya Jakarta. Banyaknya mall di ibukota ini berdampak pada ekonomi rakyat. Banyak warung yang sebelumnya ramai pembeli tiba-tiba sepi karena harga yang ditawarkan di mall lebih murah. Bagaimana pun juga, prinsip ekonomi tetap dipegang teguh oleh calon pembeli. Hukum pasar ini tak bisa ditawar lagi, sudah jadi harga mati. “Kalau yang gedhe-gedhe itu saja dibiarkan saja. mereka bisa hidup sendiri,” terang Jokowi seperti yang ada dalam catatan akun twitter @matanajwa.
baca selengkapnya…

Menonton “pertarungan” antara Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo dengan Walikota Surakarta Joko Widodo (Jokowi) emngingatkan kembali era Perang Dingin. Seorang pemimpin negara yang pro rakyat hampir pasti ditumbangkan oleh negara super power, Amerika Serikat. Alasannya, mereka yang pro rakyat dianggap komunis. Sukarno, Torrejo, Sandhinista, dan Patrice Lumumba merupakan contoh para pemimpin pro rakyat yang harus tumbang oleh aksi intelejen canggih negara adiidaya.

Namun, “pertarungan” dua pemimpin di Jateng ini bukanlah soal ideologis seperti era perang dingin, tapi tentang keberpihakan. Antara pro pemodal (mall) versus pro rakyat (pasar tradisional), untung besar dengan laba kecil tetapi merata. Melenyapkan atau mempertahankan sejarah sebuah bangunan demi masa sebuah ingatan kolektif. Inilah pertarungan sesungguhnya, antara sikap melawan pragmatisme sesaat. Sebuah “pertarungan” yang layak untuk terus ditunggu bagaimana hasil akhirnya. Ya, karena ini juga “pertarungan antara “atasan” (Gubernur Jateng dengan “bawahan” (Walikota Surakarta)
baca selengkapnya

Ketika menonton acara Mata Najwa dengan tema ”Nyali Sang Perintis” di salah satu stasiun televisi nasional, bulu kudukku merinding takjub. Joko Widodo atau Jokowi yang bisa membuatku takjub seperti itu. Ia memberikan harapan baru dengan karakter kuat kepemimpinannya yang pro rakyat. Setidaknya, Indonesia masih punya pemimpin yang layak untuk dijadikan teladan.

Jokowi saat ini memang jadi fenomena luar biasa di negeri ini. Kalau dengan pikiran nakal, barangkali Presiden SBY kalah populer dengannya. Bahkan, jika mereka berdua ditandingkan dalam suatu pemilihan dengan pemilih masyarakat Surakarta atau Jawa Tengah saja, saya yakin Jokowi bakal menang mudah. Jokowi tak andalkan pencitraan yang miskin implementasi, tapi malah sebaliknya, ampil beda. Inilah poin yang bisa menjadikannya lebih unggul, bahkan dengan presiden sekalipun.
baca selengkapnya…