Posts Tagged ‘petani’

grove-of-olive-trees-on-a-plantation-for-olive-oil-production-almeria-dxy7ng

Kebun zaitun tampak sejauh mata memandang. Pohon dan daunnya tampak berjejer rapi di daerah perbukitan agak kering dengan dengan kondisi tanah lumayan tandus. Sangat aneh, di wilayah seperti itu bisa tumbuh pohon zaitun dengan subur.

Ini bukan mukjizat atau keajaiban alam, tapi akal-budi manusia. Ternyata, di bagian bawah pepohonan tersebut ada sistem pengairan dengan pipa-pipa cukup rumit. Tiap pohon diairi satu kran air yang diatur sedemikian rupa. Ini bukan perkebunan, tapi pertanian yang dikelola masyarakat setempat.

“Pemerintah menyubsidi para petani dan memberi perhatian khusus kepada merek,” ujar sumber yang mengunjungi lokasi tersebut.

Pemerintah Spanyol menggelontorkan dana cukup besar untuk para petani agar produk mereka senantiasa kompetitif. Para petani di Almeria hidup sejahtera dengan profesinya. Mengapa? Pemerintah melindungi kepemilikan lahan pertanian dan aktif menjaga hasil panennya supaya tetap bagus.

Sunber juga menceritakan kehidupan para petani di Almeria. Kehidupan mereka sangat dinamis dengan tingkat kesejahteraan cukup tinggi. “Sangat jauh jika dibandingkan dengan keadaan petani di Indonesia,” tegasnya.

Apa yang dikemukakan sumber di atas memang benar adanya. Tingkat perhatian pemerintah terhadap petani memang jauh berbeda. Subsidi pertanian di Indonesia tak sebesar yang diberikan Pemerintah Spanyol kepada petaninya.

Minimnya subsidi pertanian memaksa pemerintah Indonesia melakukan pembatasan impor produk pertanian. Salah satu langkah shortcut melindungi kepentingan perlindungan petani. Tentunya, negara lain berkepentingan dengan hal tersebut. Masalah ini dibawa ke WTO karena Indonesia dinilai melakukan proteksi. Barang haram dalam rezim perdagangan bebas.

Beberapa hari yang lalu seorang kawan mengirim pesan pendek. Isinya sangat getir karena mengingatkan kembali nasib petani Indonesia ke depan. “Gimana bung kondisi outlook perekonomian Indonesia 2017? Kita kalah dalam sidang di WTO tentang impor produk holtikultura. Dipastikan buah-buahan dan sayur-sayuran, serta kebutuhan pangan lainnya dari luar negeri semakin membanjiri pasar di Indonesia,” tulisnya.

Pada 22 Desember 2016, World Trade Organisation (WTO) memenangkan gugatan Amerika Serikat dan Selandia Baru terkait kebijakan proteksi Indonesia atas produk holtikultura dan peternakan. Indonesia mau tak mau harus mematuhi putusan tersebut karena sudah bergabungbdalam rezim perdagangan bebas WTO sejak 1995.

Sengaja ku biarkan pesan tersebut tanpa balasan. Hanya bisa berpikir dan merenungkan kembali kisah Bung Karno dengan Pak Marhaen. Apakah ini pertanda andai Bung Karno masih hidup dan bertemu petani lagi tetap akan membicarakan hal yang sama seperti puluhan tahun silam? Ini hanya imajinasi belaka.

Dalam demagoginya, seorang teman memberikan jawaban sederhana atas imajinasi tersebut. “Bisa, asal Indonesia mundur dari semua rezim perdagangan bebas. Hampir mustahil bisa berdaulat atas pangan jika masih terlibat di berbagai rezim tersebut.”

Aku pun menjawab, “kita lihat saja kelanjutannya.”

Sembari membuka foto-foto ladang pertanian zaitun di Almeria, tiba-tiba muncul pertanyaan. Mungkin bakal ada menyebutnya hanya ilusi atau halusinasi, bahkan delusi. Butuh berapa lama para petani Indonesia bisa seperti petani di Almeria?

 

12049407_10206415218773444_5364517065564256627_n

Ketika berkenalan dengan orang baru, saya selalu menyebut Lumajang sebagai kota asal. Mayoritas dari mereka tak tahu di mana itu Lumajang. Saya maklum saja, Lumajang memang kota kecil, tak setenar tetangga: Malang dan Jember. Agar mereka tahu di mana itu Lumajang, Gunung Semeru selalu saya jadikan patokan. Kalau ada berita heboh banjir lahar Semeru, maka itulah Lumajang.

Namun, mulai Sabtu kemarin, mengenalkan Lumajang tak perlu lagi pakai Semeru sebagai alat. Lumajang saat ini jadi isu nasional. Bukan karena prestasi, tapi pembunuhan dan penganiayaan warga penolak tambang pasir di Selok Awar-Awar, Pasirian.
baca selengkapnya…>

Cabe Rawit

Cabe rawit ini bukan diimpor dari Indonesia. Antitesa mitos negeri agraris, yang katanya, mayoritas penduduknya petani dan tanahnya subur. Apalagi sudah lama merdeka, tidak seperti Kamboja yang penyelesaian konflik bersenjatanya dibantu Indonesia pada dekade 1990-an.

Konflik agraria terjadi karena UUPA tidak dijalankan.

OLEH: HENDRI F. ISNAENI

SEJAK awal kemerdekaan, pemerintah berupaya merumuskan UU agraria baru untuk mengganti UU agraria kolonial. Pada 1948 pemerintah membentuk Panitia Agraria Yogya. Namun, gejolak politik membuat upaya itu selalu kandas. Panitia agraria pun turut berganti-ganti: Panitia Agraria Jakarta 1952, Panitia Suwahyo 1956, Panitia Sunaryo 1958, dan Rancangan Sadjarwo 1960.

Setelah Peristiwa Tanjung Morawa, pemerintah mengeluarkan UU Darurat No 8 tahun 1954 tentang pemakaian tanah perkebunan hak erfpacht oleh rakyat. Pendudukan lahan tak lagi dianggap sebagai pelanggaran hukum. Pemerintah akan berupaya menyelesaikannya melalui pemberian hak dan perundingan di antara pihak-pihak yang bersengketa.
baca selengkapnya…

Dalam pepatah Jawa terdapat pameo: sedumuk bathuk senjari bumi, toh pati dilakoni, seorang lelaki akan melawan orang yang mengganggu istri dan tanahnya sekalipun nyawa taruhannya.

OLEH: HENDRI F. ISNAENI

TANAH selalu jadi api dalam sekam. Sengketa tanah pun tak henti mewarnai sejarah Indonesia. Kali ini, para petani Jambi dan Suku Anak Dalam sudah sebulan berkemah di lahan kosong depan kantor Kementerian Kehutanan. Bahkan sejumlah petani melakukan long march sejauh 1.000 kilometer dari Jambi menuju Istana Negara Jakarta. Mereka menuntut lahan dan hutan mereka, yang terkikis akibat pengembangan perkebunan kelapa sawit.

Konflik agraria tersebut membuktikan apa yang dikatakan Mochammad Tauhid, tokoh penting dalam pemikiran agraria di Indonesia: “Soal agraria (soal tanah) adalah soal hidup dan penghidupan manusia, karena tanah adalah asal dan sumber makanan bagi manusia. Perebutan tanah berarti perebutan makanan, perebutan tiang hidup manusia. Untuk itu, orang rela menumpahkan darah, mengorbankan segala yang ada demi mempertahankan hidup selanjutnya.”
baca selengkapnya…

“Soal Agraria adalah soal hidup dan penghidupan manusia, karena tanah adalah asal dan sumber makanan bagi manusia. Perebutan tanah berarti perebutan makanan, perebutan tiang hidup manusia. Untuk ini, orang rela menumpahkan darah, mengorbankan segala yang ada demi mempertahankan hidup selanjutnya.” (Moch. Tauchid, 1952)

kisah besar yang sekiranya bakal terukir ketika Oktober menutup diri. Kisah besar yang pasti datang adalah Hari Pahlawan pada 10 November. Patut terus dikenang untuk memperingati heroisme arek-arek Suroboyo dalam mempertahankan kemerdekaan. Selanjutnya soal kedatangan Presiden AS Barrack Obama ke Indonesia. Dua kali batal berkunjung ke Indonesia menyedot perhatian tersendiri. Seperti yang diakui Obama sendiri, ia pada dasarnya bagian dari Indonesia karena selama empat tahun pernah tinggal di Jakarta. Namun, dibalik itu semua ada sesuatu yang tersembunyi: dua orang petani dari Lampung dan Jambi meninggal akibat tembakan aparat kepolisian.

Ditengah gemuruh penyambutan Presiden Obama di Jakarta, Indonesia sesungguhnya sedang menangis. Dua orang pemilik sesungguhnya negeri ini gugur diterjang timah panas aparat. Mereka gugur ketika memperjuangkan hak-haknya sebagai petani. Apa lacur, daya tarik Obama ternyata lebih besar dibanding dua petani ini. Mereka pun pergi “sendirian” ke sisi-Nya, demi sebuah cita-cita yang besarnya: kesejahteraan petani. Inilah paradoks di negeri ini: mereka yang lemah terus ditindas oleh kekuatan modal dan “dilupakan” begitu saja.
baca selengkapnya…

“Tidak dapat dipisahkan rakyat dari bumi yang ada di bawah kakinya”
– Soekarno, Pidato Lahirnya Pancasila –

Dalam catatan sejarah manapun di tanah air ini, senantiasa dikatakan, Marhaenisme merupakan ajaran Soekarno yang lahir pada medio dekade 1920-an. Penjara Sukamiskin menjadi saksi kecermelangan pikiran-pikiran Soekarno untuk membangun Indonesia yang gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kertaraharja. Soekarno, ya Soekarno, aktor yang menjadi mainstream pemikiran ini, marhaenisne dengan segala atribut-atribut didalamnya, dan terus hidup hingga sekarang, didepan mata kita.

Tidak dapat ditampik lagi, Marhaenisme lahir (baca: istilah) ketika Soekarno sedang berjalan-jalan di pematang sawah dengan segenap keheningan yang diiringi nyanyian syahdu burung-burung pipit. Ditengah perjalanan bertemu dengan petani yang benama Pak Marhaen, ia hidup dari tanah dan segala alat-alat produksi untuk mengolah tanah yang memberikannya kehidupan. Dengan segenap faktor-faktor produksi yang ia miliki, Pak Marhaen tetap miskin, ada apa gerangan? Ya, sistem yang ada yang membuatnya ia miskin meskipun mempunyai faktor-faktor produksi, tentunya, marxisme berlaku per se terkait dengan proletariat. Akhirnya, perenungan Soekarno dituangkan dengan nama Marhaenisme sebagai pemikiran untuk menganalisis kondisi masyarakat agar dapat keluar dari jerat imperialisme saat itu dan masa yang akan datang dengan segala tantangan didalamnya.
baca selengkapnya…