Ada dua moment paling bersejarah dalam sejarah suksesi kekuasaan di Indonesia. Dua moment ini melahirkan era baru dalam dinamika ekonomi dan politik dengan ekses berbeda. Namun, kedua moment ini melahirkan suatu kepastian dan kualitas kepemimpinan masing-masing, terlepas latar belakang munculnya peristiwa tersebut. Keduanya memunyai kesamaan dalam hal runtuhnya kekuasaan sebagai pemimpin tertinggi di republik ini.

Dua moment tersebut yakni, penurunan Presiden Sukarno dan mundurnya Presiden Suharto dari tampuk kekuasaan. Keduanya memunyai keterkaitan erat karena banyak pihak menduga, naiknya Suharto sebagai Presiden RI banyak diwarnai intrik-intrik tertentu. Namun, kedua presiden ini memunyai keberanian dalam bentuk beda. Sukarno berani mempertanggungjawabkan semua kebijakannya dalam wujud Pidato Nawaksara di depan MPRS. Sedangkan Suharto dalam wujud mengundurkan diri setelah 32 tahun membangun rezim fasis-militeristik.

Sukarno atau Bung Karno turun dari jabatannya sebagai Presiden RI melalui TAP MPRS No. XIII/MPRS/1967 tentang Pencabutan Kekuasaan Pemerintahan Negara dari Presiden Soekarno. TAP MPRS ini keluar setelah MPRS bermusyawarah, terlepas dari intrik politik didalamnya, dan mendengar pidato pertanggungjawaban dari Presiden Sukarno. Semuanya tidak terjadi seketika, tapi melalui proses cukup panjang sebelumnya.

Sukarno merelakan dirinya di-kuyo-kuyo menjelang akhir kepemimpinannya karena beliau tidak ingin NKRI hancur. Bisa saja Sukarno menggunakan kekuatan pendukungnya yang besar untuk membalik keadaan saat itu, tapi hal itu tidak dilakukannya. Harus ada pengorbanan demi lestarinya Indonesia merdeka yang dulu pernah diperjuangkannya beserta semua elemen masyarakat. Pilihan politik revolusioner Presiden Sukarno telah memangsa anaknya sendiri. Inilah resiko dari perjuangan guna mempertahankan banyak hal yang jauh lebiih besar dibandingkan ego kekuasaan.

Jalan yang ditempuh Sukarno di akhir kekuasaannya beda dengan Suharto. Konfigurasi politik yang ada saat itu beda dengan apa yang dialami Sukarno. Di era Suharto, kekuasaan politik di parlemen masih ada dalam genggamannya. Di bawah kendali oligarkhi triumvirat politik ABG, Suharto hampir mustahil dilengserkan melalui mekanisme di MPR. Terkait formasi politik di DPR/MPR hasil Pemilu 1997, menurut Habibie dalam bukunya Detik-Detik yang Menentukan, di DPR presiden bisa mengendalikan 400 kursi dan di MPR 829 kursi. Padahal di DPR ada 500 kursi dan di MPR 100 kursi. Tentunya peristiwa yang dialami Sukarno sangat sulit terjadi meski Suharto pernah berkata terkait jabatan presiden, “ndak patheken”.

Besarnya tekanan dari masyarakat ternyata mempengaruhi sikap Suharto atas jabatannya. Suharto pernah berkata akan mengundurkan diri sebagai Presiden RI jika rakyat sudah tak menghendakinya dengan menegaskan, “lengser keprabon mandheg pandhito”. Namun, hal itu bukanlah mundur secara sukarela, tapi dengan syarat hal itu dilakukan secara konstitusional (Habibie, idem.). Seiring perkembangan waktu, Suharto pun akhirnya mengundurkan diri sebagai Presiden RI pada 21 Mei 1998 setelah desakan masyarakat menguat dan banyak dari pembantunya yang “lari” dari panggung. Bisa dikatakan, kesediaan Suharto mundur tersebut pada dasarnya hanyalah akrobat politik setelah menghitung kekuatan di MPR meski mayoritas rakyak Indonesia sudah tidak menginginkannya lagi.

Apa yang dilakukan Sukarno memang tampak lebih gentlement. Meski aras politik tidak menghendakinya, Bung Karno tetap melaju dan mempertanggungjawabkan semua kebijakannya di depan MPRS. Sebaliknya dengan Suharto. Komposisi politik yang ada dimainkannya dengan indikasi kesediaan mundur sebagai presiden dengan syarat lewat jalur konstitusional yang sejatinya hampir mustahil terjadi. Namun, mundurnya Suharto tersebut membawa berkah tentang adanya kebebasan yang selama kekuasaannya dipasung.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s