Archive for the ‘Bung Karno dan Marhaenisme’ Category

Ada dua moment paling bersejarah dalam sejarah suksesi kekuasaan di Indonesia. Dua moment ini melahirkan era baru dalam dinamika ekonomi dan politik dengan ekses berbeda. Namun, kedua moment ini melahirkan suatu kepastian dan kualitas kepemimpinan masing-masing, terlepas latar belakang munculnya peristiwa tersebut. Keduanya memunyai kesamaan dalam hal runtuhnya kekuasaan sebagai pemimpin tertinggi di republik ini.

Dua moment tersebut yakni, penurunan Presiden Sukarno dan mundurnya Presiden Suharto dari tampuk kekuasaan. Keduanya memunyai keterkaitan erat karena banyak pihak menduga, naiknya Suharto sebagai Presiden RI banyak diwarnai intrik-intrik tertentu. Namun, kedua presiden ini memunyai keberanian dalam bentuk beda. Sukarno berani mempertanggungjawabkan semua kebijakannya dalam wujud Pidato Nawaksara di depan MPRS. Sedangkan Suharto dalam wujud mengundurkan diri setelah 32 tahun membangun rezim fasis-militeristik.
baca selanjutnya…

Iklan

Sumber: Okezone.com

Indonesia bukanlah negara yang baru dikenal oleh negara Rusia maupun rakyatnya. Kenangan manis kemesraan masa lalu masih melekat kuat hingga saat ini. “Keterputusan” hubungan emosional di era rezim Suharto tak menghapus memori yang terlanjur melekat kuat tersebut. Indonesia tetap jadi bagian dari sejarah sejarah masyarakat Rusia yang pernah merasakan manisnya persahabatan tersebut, bahkan generasi setelah mereka.

Beda dengan negara lain, di Rusia, Indonesia tak hanya dikenal sekedar kemolekan Pulau Dewata saja. Mereka juga mengenal aspek lainnya selain Bali. Barangkali, ini disebabkan oleh kedekatan hubungan Indonesia-Rusia (saat itu bernama Uni Soviet) pada dekade 1950-an hingga medio 1960-an. RSUP Persahabatan, Tugu Tani, dan Stadion Gelora Bung Karno merupakan contoh nyata kedekatan hubungan dua negara ini. Selain itu, akhir era 1950-an, ribuan pelajar Indonesia belajar pada banyak universitas di Rusia.
baca selengkapnya…

 

Peringatan hari lahir Bung Karno ke-111 masih jauh dari harapan. Pemimpin negara ini masih takut untuk meluruskan sejarah tentang Sang Proklamator Kemerdekaan ini. Mereka masih terbius komunisto-phobi rezim Suharto sehingga mengabaikan status Presiden I RI. Bung Karno sampai detik ini masih berstatus tahanan politik dan upaya rehabilitasi terhadap hal ini masih jauh dari harapan. Beda dengan Corby yang dengan mudahnya mendapatkan grasi dari Presiden meski tak punya jasa apa pun bagi tanah air.

 

Melalui TAP MPRS No. XXXIII/MPRS/1967 tentang Pencabutan Kekuasaan Pemerintahan Negara dari Presiden Soekarno, Bung Karno disudutkan sedemikian rupa. Pada Pasal 3 TAP MPRS tersebut, secara tegas melarang Sukarno untuk melakukan aktivitas politik apa pun sampai dengan pelaksanaan Pemilu selanjutnya. Sukarno juga dituduh membuat kebijakan yang secara tidak langsung menguntungkan bagi G 30 S/PKI dan tokoh-tokohnya. Hal ini tertuang dalam bab pertimbangan TAP MPRS tersebut.
baca selengkapnya…

Bagi sebagian besar orang Indonesia, peci atau kopiah bukanlah hal istimewa. Penutup kepala ini sangat familiar dan banyak ditemui di berbagi tempat. Namun, di belahan bumi lainnya, kopiah bukanlah sesuatu yang biasa. Keberadaannya memunyai makna tersendiri dan penegas ketokohan sesorang. Mereka yang mengenakannya disebut menyerupai sosok besar bagi Bangsa Indonesia.

“You like Sukarno,” ujar lelaki berusia paruh baya asal Tunisia, Ahmad (nama samaran). Sebutan ini diberikan kepada seseorang yang mengenakan kopiah di negaranya, Tunisia. Menurut Ahmad, kopiah tak bisa lepas dari identitas Sukarno yang sampai sekarang tetap dikenang di Tunisia.
baca selengkapnya…

C Anto Saptowalyono dan Ahmad Arif

Jalan aspal itu lurus dan mulus. Tak ada guncangan ketika mobil melaju kencang di atasnya. Ini berbeda dengan jalan trans- Kalimantan dari Nunukan, Kalimantan Timur, hingga Palangkaraya, Kalimantan Tengah, yang penuh lubang dan bergelombang.

Warga setempat mengenal jalan itu sebagai Jalan Palangkaraya-Tangkiling. Namun, Gardea Samsudin (70) mengenangnya sebagai Jalan Rusia.

Samsudin, lelaki asal Bandung, Jawa Barat, adalah sedikit saksi yang tersisa dari sepotong jalan sepanjang 34 kilometer dengan lebar 6 meter yang dibangun oleh para insinyur dari Rusia—dulu The Union of Soviet Socialist Republics. Bersama puluhan warga Dayak, Samsudin dan ratusan orang Jawa lain bekerja di bawah arahan belasan insinyur Rusia. ”Saya ikut menyusun batu-batu yang menjadi fondasi jalan ini,” kata Samsudin yang kini menetap di Palangkaraya.
baca selengkapnya…

Apakah Sukarno menjadi seorang Trotskyis ketika mesti memilih pada jalan mana revolusi harus ditempuh?

Pada 1958 Presiden Sukarno pernah menyampaikan beberapa kuliah tentang Pancasila di Istana Negara. Antara lain ada kuliah tentang masing-masing sila, termasuk peri-kemanusiaan. Di dalam kuliah tersebut Sukarno sempat menguraikan perbandingannya antara Joseph Stalin dan Leon Trotsky, dua pemimpin revolusi Rusia. Dalam membaca dan merenungkan komentar Sukarno ini tentu saja kita harus catat waktu dan konteks yang berlaku pada saat itu. Pidato Sukarno pada 1958 itu dilakukan dua tahun setelah Nikita Kruschev, sebagai Sekretaris Pertama Partai Komunis Uni Soviet, membongkar kejahatan-kejahatan politik Stalin melalui pidato di kongres partainya. Pada waktu itu Kruschev mengatakan:

“We have to consider seriously and analyze correctly [the crimes of the Stalin era] in order that we may preclude any possibility of a repetition in any form whatever of what took place during the life of Stalin, who absolutely did not tolerate collegiality in leadership and in work, and who practiced brutal violence, not only toward everything which opposed him, but also toward that which seemed to his capricious and despotic character, contrary to his concepts.”
baca selengkapnya…

Bung Karno Sumber: http://fan2be.blogspot.com

Dalam artikelnya yang masyhur “Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme” sejatinya Sukarno melakukan pembelahan bukan persatuan.

Sejak saya mulai belajar sejarah Indonesia di University of Sydney tahun 1969, saya selalu diajari oleh para dosen bahwa Sukarno seorang permersatu. Bahkan mereka, baik dosen Australia, Indonesia atau Belanda, cukup banyak yang menyebut Sukarno – dengan nada minor – gandrung persatuan. Dalam bulan Juni 2011 ini – dengan banyak spanduk yang menyatakan ini bulan Sukarno – masalah persatuan, apalagi dalam menghadapi “asing”, suka disebut-sebut lagi.

Baik sebagai seorang akademisi yang “Indonesianis” maupun sebagai warga dunia yang berkewajiban berideologi, saya menyatakan sebelumnya bahwa saya termasuk seorang yang sangat menghargai kepemimpinan Sukarno serta pikirannya, meskipun saya juga berpendapat dia bukan manusia sempurna: pernah juga melakukan kekeliruan dan kadang-kadang analisa yang salah. Sebagai seorang yang menilai peranan Sukarno secara umum sangat positif, saya mau menekankan bahwa gambaran atau stereotipe Sukarno sebagai seorang pemersatu adalah keliru total. Sukarno bukan pemersatu bangsa, dia adalah seorang yang membelah bangsa dan negeri Indonesia.

Apakah ini celaan atau sebuah kritikan? Tidak, ini sebuah pujian. Izinkan saya jelaskan pendapat saya itu.

Kalau kita buka buku Di Bawah Bendera Revolusi jilid I artikel pertama, kita akan temukan artikel “Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme”. Artikel itu dimuat di Suluh Indonesia Muda pada tahun 1926. Artikel terkenal itu mengambil sebuah peranan awal dalam kampanye propaganda Sukarno yang kemudian sering dianggap sebagai artikel yang mengusung gagasan persatuan. Tetapi pandangan seperti itu adalah pandangan yang dangkal kalau tak boleh disebut sebagai pandangan yang sangat menyesatkan. Tulisan “Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme” sejatinya adalah tulisan pembelahan, bukan penyatuan.
baca selengkapnya…