Pulang: Kisah Eksil di Uni Soviet (1)

Posted: 30 September 2014 in Arbiter, Politik
Tag:, , , , , , , , , ,

Tak ada firasat apa pun bagi wartawan LKBN Antara ini ketika berangkat ke Uni Soviet untuk memperdalam ilmu jurnalistik. Pada usia lebih dari 30 tahun, sekitar akhir 1950-an, dia ditugaskan oleh pemerintah untuk belajar pada salah satu kampus di Moskow. Senang dan bahagia tentunya ketika kabar gembira itu menghampirinya. Pengumuman kelulusan untuk melanjutkan studi ke luar negeri.

Berangkat ke Uni Soviet baginya bukanlah suatu kecelakaan meski pilihan lain tersedia. Saat itu, ada pilihan berangkat ke negara lain yang difasilitasi oleh Kementerian Pendidikan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (PTIP). Kanada dan Jerman jadi alternatif, tapi pengumuman dari Uni Soviet datang lebih dulu kepadanya. ”Tak ada salahnya belajar di Uni Soviet. Uni Soviet juga negara yang tradisi ilmu pengetahuannya kuat,” katanya.

Beliau pun berangkat ke Uni Soviet pada sekitar 1958. tak ada pikiran apa pun tentang keberangkatannya itu. Tak terbesit olehnya, kepergiannya saat itu menjadi saat-saat terakhir menginjakkan kaki di tanah air. Semua baik-baik saja dan ibu pertiwi bakal menyambutnya saat tiba waktunya untuk mengabdi. Mengabdi di bidang yang ia geluti selama ini, jurnalistik.

Waktu pun berjalan seperti biasa. Beliau pun menjadi salah satu tokoh mahasiswa saat itu karena menjadi ketua pertama Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Uni Soviet. Setelah sekian lama hidup di Moskow, beliau pun jatuh cinta dengan gadis Moskow yang menarik hatinya. Beliau memutuskan untuk menikahinya. Selang beberapa tahun, beliau pun dikaruniai seorang anak laki-laki. Tentu saja berwajah blesteran karena sang Ibu gadis Uni Soviet.

Setelah lama meninggalkan tanah air, kerinduan atas tanah air, kampung halaman, dan keluarga pun tak tertahankan. Beliau pun memutuskan pulang ke Indonesia untuk mengabdi seperti janjinya dulu ketika hendak berangkat ke Uni Soviet. Diputuskanlah untuk pulang pada akhir September 1965. Sekali lagi, tak ada bayangan apa pun tentang apa yang akan terjadi di tanah air pada waktu itu. ”Tiga koper sudah siap untuk dibawa ke Indonesia,” ujarnya dengan mantap.

Rencananya, beliau sekeluarga hendak ke Indonesia pada 30 September 1965. Namun, karena ada halangan yang memaksanya untuk memundurkan jadwal kepulangan tersebut. Menjelang 30 September 1965, beliau memutuskan untuk pulang pada awal Oktober 1965. Tak ada kaitannya sama sekali dengan peristiwa yang tengah terjadi di tanah air saat itu. Murni karena faktor lainnya.

Rencana tinggal rencana. Pada 1 Oktober 1965, beliau menerima kabar tentang situasi yang tengah terjadi di tanah air. Rencana kepulangannya pun diundur sembari menunggu saat yang tepat. Perkembangan situasi sosial-politik di tanah air pasca peristiwa 30 September 1965 terus diikutinya. Pada satu titik akhirnya beliau mengambil kesimpulan untuk menunda kepulangan ke tanah air.

”Tiga koper yang telah kami persiapkan akhirnya dibongkar. Keinginan istri saya untuk ke Indonesia harus ditunda,” paparnya. (Bersambung)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s