Posts Tagged ‘demokrasi’

fzsvtl3

Salah satu oli terbaik bagi kapitalisme, yakni rasisme. Rasisme dengan berbagai topeng kebencian pada dasarnya merupakan alat bagi pemilik kapital untuk melindungi cengkeraman yang tengah berlangsung. Mereka gunakan isu rasisme untuk menciptakan “liyan” bagi yang berbeda dan hendak meruntuhkan logika tersebut.

Tak hanya itu saja, rasisme merupakan akar dari fasisme dalam berbagai spektrum. Eropa era Hitler merupakan contoh terbaik bagaimana fasisme dibangun melalui rasisme. Tak ada kisah dari rasisme yang berujung pada kebaikan bersama, pasti berakhir pada fasisme.

Fasisme merupakan salah satu bahaya terbesar bagi kemanusiaan. Bahaya ini dapat dilihat dari sikap dr. Tjipto Mangunkusumo dalam melihat dan bersikap terhadap fasisme. Soak komitmen, kita semua pasti tak meragukan lagi sikapnya terhadap kolonialisme Belanda. Indische Partij dan penghargaan Dari Belanda yang beliau taruh di pantatnya merupakan bukti anti-kolonialismenya.

Namun, ketika Hitler berkuasa di Eropa, beliau bersikap sebaliknya. Bagi dr. Tjipto, Belanda harus dibantu, bukan dimusuhi. Semua varian dari fasisme sangat berbahaya sehingga mereka harus dilawan. “Perjuangan di Eropa sekarang itu ialah perjuangan antara demokrasi dengan totalitarianisme. Dalam perjuangan semacam itu tidak salah kita memilih, di manakah akan diletakkan perasaan simpati kita. Sudah tentu di pihak demokrasi,” tegasnya.

Oleh karena itu, semua ruang dan peluang berkembangnya fasisme harus ditutup rapat. Mereka bisa berubah dengan seribu wajah, bahkan (merasa) menjadi moralis paling suci dengan membangun tatanan “liyan” untuk yang berbeda.

Iklan

perppu-ormas-ilustrasi-_170720173138-115

Timeline ku berhiaskan 2,5 kategori terkait Perrpu No.2/2017 tentang Perubahan UU No. 17/2017 Tentang Ormas. Mereka wira-wiri bergantian jadi pertamax. Tak masalah, inilah pro dan kontra, biasa-biasa saja dan menyehatkan pikiran.

Lho, kok 2,5 kategori? Yap, karena ada 1 kategori yang ku pecah karena berbeda pandangan dalam menafsirkan demokrasi. Padahal hal ini merupakan hal paling mendasar. Namun, abaikan saja dulu hal ini.

Kategori pertama, yakni pendukung Perppu. Mereka mendukung langkah presiden terkait hal ini karena menilai ada potensi ancaman eksternal dan internal. Semua argumennya masuk akal. Berbagai periatiwa teror dan huru-hara politik di tanah air jadi rujukan. Apa yang terjadi di Syria dan Filipina dijadikan contoh.

Kategori kedua melingkupi: alasan demokrasi sepenuhnya dan “setengah” demokrasi. Pihak pertama menekankan pada kebebasan berserikat dan berkumpul, serta bahaya stigmatisasi. Mereka mencontohkan peristiwa pembantaian dan stigmatisasi terhadap orang-orang yang dicap PKI beserta keturunannya. Kejadian tersebut berpotensi berulang dengan adanya Perppu ini.

Sedangkan pada pihak yang lain, mereka mengabarkan tentang ancaman terhadap demokrasi. Meski demikian, mereka tetap setia pada slogan, “awas bahaya laten komunisme!” Ingat, yang disasar bukan hanya PKI sebagai institusi, juga termasuk ideologinya. Kemarin main ke mana saja kok baru sekarang teriak demokrasi?

Saya pun menikmati perbedaan pendapat ini. Namun bisa berubah menjadi muak dan murka jika ada yang menyinggung soal SARA sebagai jurus andalannya. Mungkin perlu minum seteguk vodka biar andalannya jurus mabuk saja. Itu jauh lebih baik.

Lha kamu bagaimana? Saya tetap berpegang teguh pada prinsip, pikiran tak boleh dipenjarakan dan hak negara untuk tetap survive. Saya tak mau menjelaskan lebih jauh soal pandangan ini.

Hantu komunisme berpotensi bangkit. Itulah wacana yang saat ini sedang dibangun oleh penguasa. Orang-orang yang mengenakan segala atribut yang mengandung unsur komunis (palu-arit) ditangkap. Bahkan, lambang komunitas pecinta kopi pun juga jadi sasaran. Barangkali, palu untuk memaku dan arit buat potong rumput yang kita simpan di rumah perlu juga untuk disembunyikan. Kalau perlu, dikubur di halaman rumah karena keduanya mengandung unsur lambang komunisme, palu dan arit.

Berbagai buku tentang pemikiran Karl Marx, Lenin, dan tokoh-tokoh komunis lainnya sedang dicari aparat keamanan untuk disita. Buku tentang sejarah gerakan komunis di Indonesia atau segala sesuatu terkait Partai Komunis Indonesia juga alami hal serupa. Tak ketinggalan pula buku yang halaman depannya bergambar palu-arit juga jadi sasaran penyitaan. Untuk itu, bersegeralah membeli buku-buku tersebut sebelum hilang dari peredaran. Anggap saja investasi karena siapa tahu harganya bakal selangit di kemudian hari karena langka dan tak diproduksi lagi.
baca selengkapnya…>

Sejak 16 Januari 2013, berita-berita sudah mengabarkan adanya banjir di Jakarta. Banjir terjadi di daerah yang sedari dulu menjadi langganan air bah ini. Saya pun menyimak berita itu tanpa ada firasat apa pun tentang Jakarta. Masih menilai sebagai hal “wajar” karena daerah-daerah tersebut memang sering sekali terkena banjir.

Jam sudah menunjukkan pukul 02.00 waktu Moskow (GMT +4 atau lebih lambat 3 jam dari WIB), saya pun beraanjak ke peraduan. Sebelum benar-benar tertidur, saya sesekali membaca berita dari tanah air tentang situasi Jakarta terkini. “Masih belum ada perubahan, normal,” gumamku. Setelah itu aku pun tak tahu karena sudah terbawa mimpi di tengah dinginnya Moskow.
baca selengkapnya…

Terima kasih atas sambutan yang hangat ini. Terima kasih kepada semua penduduk Jakarta. Dan terima kasih bagi seluruh bangsa Indonesia.

* *

Saya senang akhirnya bisa berkunjung ke negeri ini dengan ditemani oleh Michelle. Tahun ini, kami telah dua kali gagal datang ke Indonesia. Namun, saya berkeras untuk menyambangi sebuah negeri yang amat bermakna bagi saya ini. Sayangnya, lawatan ini begitu singkat. Tapi saya berharap bisa datang lagi tahun depan pada saat Indonesia menjadi tuan rumah KTT Asia Timur.

Sebelum berbicara lebih jauh, saya ingin menyampaikan bahwa doa dan perhatian kami tertuju kepada para korban bencana tsunami dan gunung meletus baru-baru ini, khususnya bagi mereka yang kehilangan orang tercinta serta tempat tinggal. Amerika Serikat senantiasa ada di sisi pemerintah dan bangsa Indonesia dalam menghadapi bencana alam ini, dan kami akan dengan senang hati menolong semampunya. Sebagaimana tetangga yang mengulurkan tangan kepada tetangganya yang lain, dan banyak keluarga menampung orang-orang yang kehilangan rumah, saya tahu bahwa kekuatan dan ketahanan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia akan sanggup mengangkat kalian keluar dari kesusahan ini.

Saya akan memulai dengan pernyataan sederhana: Indonesia bagian dari diri saya. Pertama kali saya bersentuhan dengan negeri ini adalah ketika ibu saya menikahi seorang pria Indonesia bernama Lolo Soetoro. Sebagai seorang bocah, saya terdampar di sebuah dunia yang berbeda. Namun, orang-orang di sini membuat saya merasa berada di rumah saya sendiri.

Pada masa itu, Jakarta terlihat begitu berbeda. Kota ini disesaki gedung-gedung yang tak begitu tinggi. Hotel Indonesia adalah salah satu bangunan tinggi. Kala itu, ada sebuah pusat perbelanjaan baru bernama Sarinah. Jumlah becak jauh lebih banyak daripada kendaraan bermotor. Dan jalan raya tersisih oleh jalan-jalan kampung tak beraspal.

Kami tinggal di Menteng Dalam, pada sebuah rumah mungil yang halamannya ditumbuhi sebatang pohon mangga. Saya belajar mencintai Indonesia pada saat menerbangkan layang-layang, berlarian di sepanjang pematang sawah, menangkap capung, dan jajan sate atau bakso dari pedagang keliling. Yang paling saya kenangkan adalah orang-orangnya: lelaki dan perempuan sepuh yang menyapa kami dengan senyumnya; anak-anak yang membuat seorang asing seperti saya jadi seperti tetangga; dan guru-guru yang mengajarkan keluasan dunia.
baca selengkapnya…

Apa sih yang membuat mayoritas rakyat saat ini bahagia? Bisa membuat rakyat seolah-olah menjadi raja setelah sekian lama digencet dengan berbagai instrumen kekuasaan. Hanya menjadi obyek kekuasaan dengan dipaksa untuk menerima apa pun dari atas. Tanpa ada pilihan meski seolah-olah mereka dibuatkan alternatif atau opsi atas isu tertentu. Dalam bahasa marxis, hal ini disebut sebagai quasi-alternatif.

Rakyat merasa sangat bahagia bila Pemilihan Kepala Daerah (pilkada) sedang berlangsung. Kaos, goody bag, spanduk, serta logistik dalam berbagai bentuk melimpah ruah. Tak seperti biasanya, beberapa orang yang menjadi calon kepala daerah begitu antusias untuk ”menyumbangkan” sebagian kekayaannya dengan Cuma-Cuma. Sungguh dramatis dan sangat mengharukan.
baca selengkapnya…

LAWAN PELARANGAN BUKU!!!