Posts Tagged ‘demokrasi’

Hantu komunisme berpotensi bangkit. Itulah wacana yang saat ini sedang dibangun oleh penguasa. Orang-orang yang mengenakan segala atribut yang mengandung unsur komunis (palu-arit) ditangkap. Bahkan, lambang komunitas pecinta kopi pun juga jadi sasaran. Barangkali, palu untuk memaku dan arit buat potong rumput yang kita simpan di rumah perlu juga untuk disembunyikan. Kalau perlu, dikubur di halaman rumah karena keduanya mengandung unsur lambang komunisme, palu dan arit.

Berbagai buku tentang pemikiran Karl Marx, Lenin, dan tokoh-tokoh komunis lainnya sedang dicari aparat keamanan untuk disita. Buku tentang sejarah gerakan komunis di Indonesia atau segala sesuatu terkait Partai Komunis Indonesia juga alami hal serupa. Tak ketinggalan pula buku yang halaman depannya bergambar palu-arit juga jadi sasaran penyitaan. Untuk itu, bersegeralah membeli buku-buku tersebut sebelum hilang dari peredaran. Anggap saja investasi karena siapa tahu harganya bakal selangit di kemudian hari karena langka dan tak diproduksi lagi.
baca selengkapnya…>

Sejak 16 Januari 2013, berita-berita sudah mengabarkan adanya banjir di Jakarta. Banjir terjadi di daerah yang sedari dulu menjadi langganan air bah ini. Saya pun menyimak berita itu tanpa ada firasat apa pun tentang Jakarta. Masih menilai sebagai hal “wajar” karena daerah-daerah tersebut memang sering sekali terkena banjir.

Jam sudah menunjukkan pukul 02.00 waktu Moskow (GMT +4 atau lebih lambat 3 jam dari WIB), saya pun beraanjak ke peraduan. Sebelum benar-benar tertidur, saya sesekali membaca berita dari tanah air tentang situasi Jakarta terkini. “Masih belum ada perubahan, normal,” gumamku. Setelah itu aku pun tak tahu karena sudah terbawa mimpi di tengah dinginnya Moskow.
baca selengkapnya…

Terima kasih atas sambutan yang hangat ini. Terima kasih kepada semua penduduk Jakarta. Dan terima kasih bagi seluruh bangsa Indonesia.

* *

Saya senang akhirnya bisa berkunjung ke negeri ini dengan ditemani oleh Michelle. Tahun ini, kami telah dua kali gagal datang ke Indonesia. Namun, saya berkeras untuk menyambangi sebuah negeri yang amat bermakna bagi saya ini. Sayangnya, lawatan ini begitu singkat. Tapi saya berharap bisa datang lagi tahun depan pada saat Indonesia menjadi tuan rumah KTT Asia Timur.

Sebelum berbicara lebih jauh, saya ingin menyampaikan bahwa doa dan perhatian kami tertuju kepada para korban bencana tsunami dan gunung meletus baru-baru ini, khususnya bagi mereka yang kehilangan orang tercinta serta tempat tinggal. Amerika Serikat senantiasa ada di sisi pemerintah dan bangsa Indonesia dalam menghadapi bencana alam ini, dan kami akan dengan senang hati menolong semampunya. Sebagaimana tetangga yang mengulurkan tangan kepada tetangganya yang lain, dan banyak keluarga menampung orang-orang yang kehilangan rumah, saya tahu bahwa kekuatan dan ketahanan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia akan sanggup mengangkat kalian keluar dari kesusahan ini.

Saya akan memulai dengan pernyataan sederhana: Indonesia bagian dari diri saya. Pertama kali saya bersentuhan dengan negeri ini adalah ketika ibu saya menikahi seorang pria Indonesia bernama Lolo Soetoro. Sebagai seorang bocah, saya terdampar di sebuah dunia yang berbeda. Namun, orang-orang di sini membuat saya merasa berada di rumah saya sendiri.

Pada masa itu, Jakarta terlihat begitu berbeda. Kota ini disesaki gedung-gedung yang tak begitu tinggi. Hotel Indonesia adalah salah satu bangunan tinggi. Kala itu, ada sebuah pusat perbelanjaan baru bernama Sarinah. Jumlah becak jauh lebih banyak daripada kendaraan bermotor. Dan jalan raya tersisih oleh jalan-jalan kampung tak beraspal.

Kami tinggal di Menteng Dalam, pada sebuah rumah mungil yang halamannya ditumbuhi sebatang pohon mangga. Saya belajar mencintai Indonesia pada saat menerbangkan layang-layang, berlarian di sepanjang pematang sawah, menangkap capung, dan jajan sate atau bakso dari pedagang keliling. Yang paling saya kenangkan adalah orang-orangnya: lelaki dan perempuan sepuh yang menyapa kami dengan senyumnya; anak-anak yang membuat seorang asing seperti saya jadi seperti tetangga; dan guru-guru yang mengajarkan keluasan dunia.
baca selengkapnya…

Apa sih yang membuat mayoritas rakyat saat ini bahagia? Bisa membuat rakyat seolah-olah menjadi raja setelah sekian lama digencet dengan berbagai instrumen kekuasaan. Hanya menjadi obyek kekuasaan dengan dipaksa untuk menerima apa pun dari atas. Tanpa ada pilihan meski seolah-olah mereka dibuatkan alternatif atau opsi atas isu tertentu. Dalam bahasa marxis, hal ini disebut sebagai quasi-alternatif.

Rakyat merasa sangat bahagia bila Pemilihan Kepala Daerah (pilkada) sedang berlangsung. Kaos, goody bag, spanduk, serta logistik dalam berbagai bentuk melimpah ruah. Tak seperti biasanya, beberapa orang yang menjadi calon kepala daerah begitu antusias untuk ”menyumbangkan” sebagian kekayaannya dengan Cuma-Cuma. Sungguh dramatis dan sangat mengharukan.
baca selengkapnya…

LAWAN PELARANGAN BUKU!!!

Aku langsung kaget begitu membaca status teman di facebook yang hanya menuliskan kalimat “Innalillahi wa Innalillahi Roji’un”. Rasa ingin tahu siapa yang pergi meninggalkan dunia ini langsung datang tanpa permisi. Seketika aku terhenyak karena yang pergi itu adalah orang besar negeri ini. Orang yang selama hidupnya mengabdi untuk demokrasi dan keadilan. Siapa lagi kalau bukan Presiden ke-4 kita, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Tersentak, kaget, dan membuat rasa kehilangan muncul tiba-tiba.

Rasa kehilangan itu begitu nyata, tampak jelas di depan mata. Bayangan pemikiran progresif beliau langsung muncul di otak ku. Apalagi kalau bukan tentang demokrasi, kebebasan, dan pluralisme yang sering Gus Dur dengungkan disetiap kesempatan. Kehilangan besar sangat terasa seperti sebilah pisau yang menghujam tepat ke ulu hati. Sangat sakit dan menyesakkan. Beda sekali dengan saat Suharto meninggal awal 2008 silam. Kesedihan sedalam ini tak muncul meskipun ia juga mantan presiden dengan kekuasaan panjangnya selama 32 tahun.
baca selengkapnya…

Pembentukan Badan Hak Asasi Manusia (HAM) ASEAN yang tinggal selangkah lagi layak mendapatkan apresiasi ditengah karut-marut pemenuhan dan penghormatan HAM di kawasan ini. Berbagai harapan muncul dari terobosan besar di kawasan Asia Tenggara ini. Suatu kemajuan berarti bagi upaya menjunjung tinggi kemanusiaan. Meski demikian, pembentukan organisasi ini juga layak diberi catatan tersendiri terutama terkait kebijakan makro yang akan ditempuh ASEAN sebagai dampak dari pemberlakuan Piagam ASEAN. Catatan tersebut terutama untuk masalah pemenuhan hak ekonomi, sosial, dan budaya karena dalam regulasi yang menaungi keberadaannya menunjukkan adanya potensi pengabaian hak-hak tersebut. Hal ini akan tetap menjadi catatan tersendiri meskipun Sekretaris Jenderal ASEAN Dr. Surin Pitsuwan menyatakan, demokrasi dan hak asasi menjadi jiwa dari Piagam ASEAN (Kompas, 22/7/2009).

Keberadaan Badan HAM ASEAN yang sekarang dalam proses akhir ini tak bisa lepas dari eksistensi Piagam ASEAN. Piagam yang telah ditandatangani dan diratifikasi sepuluh negara anggota organisasi regional ini masih menyisakan duri terkait perlindungan dan pemenuhan hak ekosob. Mekanisme pasar yang telah terbukti gagal memberi kesejahteraan hendak diterapkan secara nyata dan terang-terangan di kawasan ini. Karena itu, keberadaan Badan ASEAN dapat tak efektif karena kekuatan-kekuatan capital akan terus menghantui.
baca selengkapnya…