Kumpulan Puisi Wiji Thukul

Posted: 4 Agustus 2011 in Puisi
Tag:, ,

ISTIRAHATLAH KATA-KATA

istirahatlah kata-kata
jangan menyembur-nyembur
orang-orang bisu

kembalilah ke dalam rahim
segala tangis dan kebusukan
dalam sunyi yang mengiris
tempat orang-orang mengingkari
menahan ucapannya sendiri

tidurlah kata-kata
kita bangkit nanti
menghimpun tuntutan-tuntutan
yang miskin papa dan dihancurkan

nanti kita akan mengucapkan
bersama tindakan
bikin perhitungan

tak bisa lagi ditahan-tahan

Solo, Sorogenen,
12 Agustus 1988

TETANGGA SEBELAHKU

tetangga sebelahku
pintar bikin suling bambu
dan memainkan banyak lagu

tetangga sebelahku
kerap pinjam gitar
nyanyi sama-sama anaknya

kuping sebelahnya rusak
dipopor senapan

tetangga sebelahku
hidup bagai dalam benteng
melongok-longok selalu
membaca bahaya

tetangga sebelahku
diteror masa lalu

Kalangan-Solo,
November 1991

HUJAN

mendung hitam tebal
masukkan itu jemuran
dan bantal-bantal
periksa lagi genting-genting
barangkali bocornya pindah

udara gerah
ruangan gelap
listrik tak nyala
mana anak kita?

hujan akan lebat lagi nampaknya
semoga tanpa angin keras

burung-burung parkit itu
masih berkicau juga dalam kandangnya
burung-burung parkit itu
apakah juga pingin punya rumah sendiri
seperti kami?

Kalangan-Solo, 25.11.91

PERINGATAN

jika rakyat pergi
ketika penguasa pidato
kita harus hati-hati
barangkali mereka putus asa

kalau rakyat sembunyi
dan berbisik-bisik
ketika membicarakan masalahnya sendiri
penguasa harus waspada dan belajar mendengar

bila rakyat tidak berani mengeluh
itu artinya sudah gawat
dan bila omongan penguasa
tidak boleh dibantah
kebenaran pasti terancam

apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata: lawan!

Solo, 1986


MONUMEN BAMBU RUNCING

monumen bambu runcing
di tengah kota
menuding dan berteriak merdeka
di kakinya tak jemu juga
pedagang kaki lima berderet-deret
walau berulang-ulang
dihalau petugas ketertiban

Semarang, 1 Maret 86

SAJAK KEPADA BUNG DADI

ini tanahmu juga
rumah-rumah yang berdesakan
manusia dan nestapa
kampung halaman gadis-gadis muda
buruh-buruh berangkat pagi pulang sore
dengan gaji tak pantas
kampung orang-orang kecil
yang dibikin bingung
oleh surat-surat izin dan kebijaksanaan
dibikin tunduk mengangguk
bungkuk

ini tanah airmu
di sini kita bukan turis

Solo-Sorogenen
malam Pemilu 87

AKU LEBIH SUKA DAGELAN

di radio aku mendengar berita
katanya partisipasi politik rakyat kita
sangat menggembirakan
tapi kudengar dari mulut seorang kawanku
dia diinterogasi dipanggil gurunya
karena ikut kampanye PDI
dan di kampungku ibu RT
tak mau menegor sapa warganya
hanya karena ia GOLKAR
ada juga yang saling bertengkar
padahal rumah mereka bersebelahan
penyebabnya hanya karena mereka berbeda
tanda gambar

ada juga kontestan yang nyogok
tukang-tukang becak
akibatnya dalam kampanye banyak
yang mencak-mencak

di radio aku mendengar berita-berita
tapi aku jadi muak karena isinya
kebohongan yang tak mengatakan kenyataan
untunglah warta berita segera bubar
acara yang kutunggu-tunggu datang: dagelan!

Solo, 87

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s