Posts Tagged ‘buku’

Membakar dan melarang buku bukanlah hal baru di Indonesia. Sejarah mencatat, penguasa Indonesia telah beberapa kali melarang peredaran dan membakar buku. Pelarangan dan pembakaran buku ini paling massif terjadi kala Suharto berkuasa. Apa pun yang berpotensi memunculkan sikap kritis bakal diberangus.

Berbagai naskah yang telah dikerjakan bertahun-tahun dibakar oleh rezim Suharto sudah biasa terjadi. Naskah-naskah karya Pramoedya Ananta Toer menjadi salah satu korban “kebejatan” perangai ini. Novel “Gadis Pantai” yang begitu memesona bakal sangat indah jika naskah novel Gadis Pantai 2 dan 3 tak ikut dibakar. Juga naskah Ensiklopedi Indonesia yang juga turut dibumihanguskan.
baca selengkapnya…>

Hantu komunisme berpotensi bangkit. Itulah wacana yang saat ini sedang dibangun oleh penguasa. Orang-orang yang mengenakan segala atribut yang mengandung unsur komunis (palu-arit) ditangkap. Bahkan, lambang komunitas pecinta kopi pun juga jadi sasaran. Barangkali, palu untuk memaku dan arit buat potong rumput yang kita simpan di rumah perlu juga untuk disembunyikan. Kalau perlu, dikubur di halaman rumah karena keduanya mengandung unsur lambang komunisme, palu dan arit.

Berbagai buku tentang pemikiran Karl Marx, Lenin, dan tokoh-tokoh komunis lainnya sedang dicari aparat keamanan untuk disita. Buku tentang sejarah gerakan komunis di Indonesia atau segala sesuatu terkait Partai Komunis Indonesia juga alami hal serupa. Tak ketinggalan pula buku yang halaman depannya bergambar palu-arit juga jadi sasaran penyitaan. Untuk itu, bersegeralah membeli buku-buku tersebut sebelum hilang dari peredaran. Anggap saja investasi karena siapa tahu harganya bakal selangit di kemudian hari karena langka dan tak diproduksi lagi.
baca selengkapnya…>

Beginilah Kondisi Sekolahku

“Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan”. Inilah bunyi pasal 31 ayat (1) UUD 1945 yang sudah tentu didalamnya mengandung kewajiban bagi negara untuk menyediakannya. Bukan sekedar menyediakan saja, tapi harus layak dan tidak membahayakan perserta didik, serta murah. Namun, itu hanya ada di atas kertas meskipun anggaran pendidikan mencapai 20 persen APBN. Pendidikan masih jadi “barang” langka bagi mereka yang tinggal di pinggiran negeri.

Potret buram pendidikan di Indonesia salah satunya terjadi di Pulau Bawean, sepelemparan batu dari Pulau Madura. Sekolah di Pulau ini ada yang cukup mengenaskan. Fasilitas pendidikan jauh dari standar, bisa dikatakan tidak layak. Tembok jebol, beralaskan tanah, dan atap bangunan sudah dimakan umur. Bagaiamana mungkin anak-anak itu bisa belajar dengan maksimal jika kondisi gedung sekolahnya sangat mengenaskan?
baca selengkapnya…

Perangkat untuk pengaturan kelas pasti ada. Ketua, wakil ketua, sekretaris, dan bendahara dibentuk dengan pemilihan secara demokratis. Begitu pula di kelas ku ketika Sekolah Dasar. Kami tiap Catur Wulan senantiasa mengadakan pemilihan ketua kelas. Tiap Cawu pula lah kelas ramai dengan huru-hara dukungan. Demokrasi mini dengan periode jelas, bukan “seumur hidup” selama setahun.

Setelah Ketua kelas terpilih, sang guru kemudian membentuk seksi-seksi dibawahnya yang nantinya membantu kerja ketua kelas. Bahkan kelas kami pun memunyai perpustakaan mini yang tiap harinya ada penjaganya. Tak banyak koleksi di dalamnya, setidaknya ada usaha untuk membudayakan membaca. Warga kelas kami boleh meminjam buku-buku di perpustakaan yang jumlahnya sangat terbatas itu.
baca selengkapnya…

Pada masa kolonial Belanda, buku yang menghina Nabi tidak dibakar.

OLEH: HENDRI F. ISNAENI

BUKU terjemahan 5 Kota Paling Berpengaruh di Dunia karya Douglas Wilson mengundang reaksi. Halaman 24 buku itu tertulis: “Muhammad menjadi perampok dan perompak yang memerintahkan penyerangan terhadap karavan-karavan di Mekah. Muhammad memerintahkan pembunuhan untuk menguasai Madinah.” Front Pembela Islam (FPI) melaporkan ke Polda Metro Jaya bahwa buku tersebut menghina Nabi Muhammad. Pada 13 Juni lalu, disaksikan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, pihak penerbit membakar buku itu.

Pada masa kolonial Belanda, kasus serupa pernah terjadi namun tanpa pengerahan massa. Yang ada: polemik. Sebuah buku berjudul Mijn Mislukte Zending (Misi Saya yang Gagal) karya Sir Nevile Henderson terbit dan diresensi koran Java Bode. Peresensinya mengutip buku tersebut: “Karena itulah Hitler makin lama makin yakin sendiri bahwa ia kebal dan besar … ia sendiri lalu menjadi lebih besar sedikit, mungkin semacam Mohamed dengan ‘pedang di sebelah tangannya dan buku Mein Kampf di tangan lainnya’…”
baca selengkapnya…

Sebuah konstitusi negara lazimnya disusun dengan cermat dan memuat aturan pokok bernegara. Konstitusi tersebut disusun berdasarkan latar belakang dan ciota-cita pendirian negara. Namun, rumus tersebut tidak berlaku di Libya selama Khadafi berkuasa sejak September 1969. Konstitusi adalah dirinya dengan beragam argumen yang menyesatkan. Seperti adagium sistem kerajaan tradisional, the king can do no wrong.

Dua Kitab Hijau (Kitab Akhdar) dan buku The Third International Theory jadi dasar Khadafi dalam menjalankan roda pemerintahan Libya. Ketiga terbitan tersebut secara sepihak diresmikan sebagai konstitusi Libya. Tentunya, hal ini sangatlah bertolak belakang dengan logika umum tentang konstitusi suatu negara.
baca selengkapnya…

Pembakar Buku

Posted: 20 Mei 2010 in Puisi
Tag:, ,

Oleh: Rama Prabu

Buku, musuhnya api
Buku, musuhnya rayap
Buku, musuhnya lembab
Buku, musuhnya sebab
Buku, musuhnya musabab
Buku, musuhnya profesor anti buku
Buku, musuhnya agama satanic
tujuh musuh, tujuh rupa
tujuh jiwa, tujuh kuasa
ini kunci mati!
tapi, kemana kau bawa lari kerta-kertasku?
padahal aku tetap rindu!
kenapa kau bakar semua, padahal ada tapakku yang tak bisa kau hapus pupuskan
jenaka punakawan, sia-sia hidup kala laku tak berilmu
seperti dirimu!
ingatlah jiwa buku takkan layu di telan ragu, seperti hidupmu!
mereka telah hidup bersama taring-taringnya, bersama cakar-cakarnya
tapi kenapa kau tak bersikap bijak?
kita kan teriak, buku lawan buku
satu lawan satu
seteru lawan seteru
baku buku dengan baku buku
ini hidup sebelum mati, ini manusiawi sebelum sorgawi
jadi, jangan mati sebelum mati!
baca selengkapnya…