Posts Tagged ‘Tan Malaka’

obey12

Melalui bukunya yang berjudul “Naar de Republik Indonesia” (1925), Tan Malaka mencita-citakan lahirnya Republik Indonesia yang merdeka dan berdaulat. Karena itu, beliau mendapatkan gelar sebagai Bapak Republik Indonesia karena menjadi orang pertama yang cetuskan negara-bangsa bernama “Indonesia”.

Sejarah resmi Indonesia memang tak menulis jejak Tan Malaka dengan gempita. Nama Tan Malaka hanya diletakkan di pinggiran, bahkan seringkali dikonotasikan sebagai pemberontak. Iya benar, pemberontak. Pemberontak terhadap kolonialisme dan imperialisme Belanda.

baca selengkapnya…>

Iklan

Rusia, saudara lama yang bertemu kembali. Istilah ini mungkin cukup mewakili bagaimana Indonesia menjalin hubungan dengan Rusia. Pernah hangat dengan mesra, bahkan tak bertegur sapa sekali pun. Dibalik itu semua, masih tertinggal sisa-sisa kehangatan hubungan tersebut. Hubungan yang beku terjadi sejak Suharto berkuasa hingga menjelang dia diturunkan oleh gerakan massa.

Banyak kisah yang tertinggal di benak beberapa orang Rusia yang pernah merasakan kehangatan hubungan dengan Indonesia. Bahkan, mereka sampai saat ini terus terkenang dengan orang-orang Indonesia. Salah satu orang Indonesia yang dikenang, yakni Utuy Tatang Sontani. Seorang sastrawan besar ini hampir tak dikenal di Indonesia, tapi namanya harum di Rusia. Sastrawan ini menjadi salah satu dari ribuan orang yang dilarang pulang oleh rezim Suharto.
baca selengkapnya…

Proses pemeriksaan DNA Tan Malaka masih berjalan. Akankah sisa-sisa kerangka Tan Malaka dimakamkan di Kalibata sebagai pengakuan dari pemerintah?

TAN MALAKA merupakan tokoh antikolonial yang mobilitasnya sangat tinggi. Selama 30 tahun dia melalang-buana, dari Pandan Gadang (Suliki) hingga Surabaya, dari Penang hingga Amsterdam. Dia selalu waspada karena bertahun-tahun jadi buronan intel. Polisi kolonial mengganjarnya dengan sebutan “jago menghilang”.

“Rupanya setelah meninggal pun kemampuan menghilang Tan Malaka tak berkurang sehingga DNA-nya sulit dicari,” canda sejarawan Asvi Warman Adam dalam konferensi pers laporan hasil pemeriksaan DNA atas kerangka yang diduga Tan Malaka di Wisma Shalom, Jakarta Pusat (9/1). “Dia tokoh yang mempunyai reputasi internasional, sehingga tampaknya DNA-nya pun harus diperlakukan secara internasional.”
baca selengkapnya…

Pria yang kuburannya digali di Selopanggung, Kediri memiliki DNA yang positif identik dengan keluarga Tan Malaka.

HASIL penyelidikan DNA (deoxyribose nucleic acid) di sebuah laboratorium di Korea Selatan menunjukkan bahwa kerangka tulang yang digali di sebuah makam di Desa Selopanggung, Kediri, pada 12 November 2009, adalah Tan Malaka “mendekati kebenaran”. Saat ini pemeriksaan sisa sampel kerangka di Selopanggung sedang dalam proses pemeriksaan analisis LCN (low number copy) sebuah metode baru ekstrasi sampel DNA.

Menurut Tim Identifikasi Tan Malaka, dokter spesialis forensik Jaya Surya Atmadja dari Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, untuk mendapatkan hasil seratus persen bahwa DNA tersebut adalah Tan Malaka masih harus mengikuti perkembangan teknologi DNA yang semakin maju.
baca selengkapnya…

“Madiun sudah bangkit
Revolusi sudah dikobarkan
Kaum buruh sudah melucuti polisi dan tentara Republik
Pemerintahan buruh dan tani yang baru sudah dibentuk”

Pemberontak. Inilah kesan yang pertama kali ditangkap oleh sebagian besar bangsa Indonesia terhadap Musso. Label ini melekat setelah ia dituduh sebagai pemimpin pemberontakan PKI di Madiun pada September 1948. Namanya pun tenggelam di tengah arus sejarah Indonesia kontemporer. Perjuangannya selama pendudukan Belanda seolah-olah sia-sia akibat label pemberontak itu. Apalagi ditambah dengan komunisto-phobi yang masih melekat kuat pada bangsa Indonesia. Label PKI lah yang sesungguhnya mengubur semua sejarahnya di Indonesia.

Musso merupakan tokoh pergerakan legendaris yang sezaman dengan Tan Malaka. Keduanya sama-sama tokoh PKI, tapi berbeda pandangan dalam melihat peristiwa 1926. Tan Malaka menolak pemberontakan tersebut karena basis ide dan massa sebagai prasyarat memberontak belum terpenuhi. Namun, Musso berpendapat beda sehingga mereka pecah kongsi. Meski demikian, pergerakan mereka tak berhenti. Keduanya bergerak dengan cara beda, tapi nafas sama, komunisme.

Sejarah mencatat, Musso merupakan salah satu guru politik Sukarno ketika indekos di rumah HOS Tjokroaminoto di Surabaya. Sukarno pun mengaku banyak belajar darinya, terutama soal marxisme. Musso tetaplah gurunya meskipun perbedaan politik nan tajam pernah terjadi di antara keduanya. Sukarno pun tak pernah mengelak soal keberadaanya. Ia tetap menaruh hormat kepada Musso seperti yang ditulis Cindy Adams dalam “Sukarno: Penyambung Lidah Rakyat”. “Ajaran Jawa mengatakan, seseorang yang menjadi guru kita harus dihormati lebih dari orang tua.”
baca selengkapnya…