Posts Tagged ‘Solo’

Hantu komunisme berpotensi bangkit. Itulah wacana yang saat ini sedang dibangun oleh penguasa. Orang-orang yang mengenakan segala atribut yang mengandung unsur komunis (palu-arit) ditangkap. Bahkan, lambang komunitas pecinta kopi pun juga jadi sasaran. Barangkali, palu untuk memaku dan arit buat potong rumput yang kita simpan di rumah perlu juga untuk disembunyikan. Kalau perlu, dikubur di halaman rumah karena keduanya mengandung unsur lambang komunisme, palu dan arit.

Berbagai buku tentang pemikiran Karl Marx, Lenin, dan tokoh-tokoh komunis lainnya sedang dicari aparat keamanan untuk disita. Buku tentang sejarah gerakan komunis di Indonesia atau segala sesuatu terkait Partai Komunis Indonesia juga alami hal serupa. Tak ketinggalan pula buku yang halaman depannya bergambar palu-arit juga jadi sasaran penyitaan. Untuk itu, bersegeralah membeli buku-buku tersebut sebelum hilang dari peredaran. Anggap saja investasi karena siapa tahu harganya bakal selangit di kemudian hari karena langka dan tak diproduksi lagi.
baca selengkapnya…>

Sumber: anisavitri.wordpress.com

“Tugas pemerintah untuk mengendalikan, bukan anti investasi. Ya, saya pro pengusaha, tapi pengusaha yang kecil-kecil” –Jokowi, @matanajwa

“Perseteruan antara Bibit Waluyo dengan Jokowi terkait pabrik es Saripetojo bisa dilihat dari dua aspek. Pertama, soal keberpihakan pada perekonomian rakyat. Kedua, dari perspektif historis. Dari perspektif keberpihakan, pembangunan mall sangatlah jauh dari ekonomi kerakyatan. Keberadaan mall atau pasar moder ini bisa mematikan perekonomian sekitar. Apalagi di sekitar pabrik es tersebut terdapat pasar tradisional yang menyokong hajat hidup warga setempat. Keberadaan mall dapat membunuh mekanisme yang sudah berjalan.

Trickle down effect yang biasa jadi kerangka acuan sullitlah terwujud. Tak ada makan siang gratis. Tak ada yang menetes dengan Cuma-Cuma dari aktivitas ekonomi di mall yang hendak dibangun tersebut. Andai pun ada, dampaknya tak sebesar kerusakan ekonomi yang bakal diderita warga. Contohnya Jakarta. Banyaknya mall di ibukota ini berdampak pada ekonomi rakyat. Banyak warung yang sebelumnya ramai pembeli tiba-tiba sepi karena harga yang ditawarkan di mall lebih murah. Bagaimana pun juga, prinsip ekonomi tetap dipegang teguh oleh calon pembeli. Hukum pasar ini tak bisa ditawar lagi, sudah jadi harga mati. “Kalau yang gedhe-gedhe itu saja dibiarkan saja. mereka bisa hidup sendiri,” terang Jokowi seperti yang ada dalam catatan akun twitter @matanajwa.
baca selengkapnya…

Menonton “pertarungan” antara Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo dengan Walikota Surakarta Joko Widodo (Jokowi) emngingatkan kembali era Perang Dingin. Seorang pemimpin negara yang pro rakyat hampir pasti ditumbangkan oleh negara super power, Amerika Serikat. Alasannya, mereka yang pro rakyat dianggap komunis. Sukarno, Torrejo, Sandhinista, dan Patrice Lumumba merupakan contoh para pemimpin pro rakyat yang harus tumbang oleh aksi intelejen canggih negara adiidaya.

Namun, “pertarungan” dua pemimpin di Jateng ini bukanlah soal ideologis seperti era perang dingin, tapi tentang keberpihakan. Antara pro pemodal (mall) versus pro rakyat (pasar tradisional), untung besar dengan laba kecil tetapi merata. Melenyapkan atau mempertahankan sejarah sebuah bangunan demi masa sebuah ingatan kolektif. Inilah pertarungan sesungguhnya, antara sikap melawan pragmatisme sesaat. Sebuah “pertarungan” yang layak untuk terus ditunggu bagaimana hasil akhirnya. Ya, karena ini juga “pertarungan antara “atasan” (Gubernur Jateng dengan “bawahan” (Walikota Surakarta)
baca selengkapnya

Ketika menonton acara Mata Najwa dengan tema ”Nyali Sang Perintis” di salah satu stasiun televisi nasional, bulu kudukku merinding takjub. Joko Widodo atau Jokowi yang bisa membuatku takjub seperti itu. Ia memberikan harapan baru dengan karakter kuat kepemimpinannya yang pro rakyat. Setidaknya, Indonesia masih punya pemimpin yang layak untuk dijadikan teladan.

Jokowi saat ini memang jadi fenomena luar biasa di negeri ini. Kalau dengan pikiran nakal, barangkali Presiden SBY kalah populer dengannya. Bahkan, jika mereka berdua ditandingkan dalam suatu pemilihan dengan pemilih masyarakat Surakarta atau Jawa Tengah saja, saya yakin Jokowi bakal menang mudah. Jokowi tak andalkan pencitraan yang miskin implementasi, tapi malah sebaliknya, ampil beda. Inilah poin yang bisa menjadikannya lebih unggul, bahkan dengan presiden sekalipun.
baca selengkapnya…