Posts Tagged ‘penjara’

“Hanya untuk kasus korupsi saja tak dihubung-hubungkan dengan kebangkitan PKI atau bahaya laten komunis.”

Beberapa hari terakhir merebak isu kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI). Berbagai komentar pun keluar dari masyarakat terhadap isu ini. Rata-rata mengajak semua pihak untuk mewaspadai bahaya laten komunisme. Tak hanya itu saja, aparat keamanan dan pertahanan pun ikut turun gunung dengan otoritas yang mereka miliki.

Pemberitaan pun banyak mengabarkan tentang penangkapan terhadap orang yang memakai kaos bergambar palu-arit. Gambar yang diidentikan sebagai bendera PKI meski faktanya bukan. Mulai dari kaos merah bergambar palu-arit kuning hingga logo band luar negeri yang mengandung unsur “terkutuk” juga kena penertiban. Semua hal yang terkait palu-arit jadi sorotan.
baca selengkapnya…>

Apa yang kita lakukan di dunia maya ternyata dipantau Badan Intelejen Negara (BIN). Lembaga ini tak hanya memantau yang kasat mata, juga segala sesuatu tindakan kita, kelompok netizen. Alasannya, apalagi kalau bukan jejaring yang mengarah pada terorisme dan subversif. Inilah berita yang cukup mengejutkan di detik.com. kaget karena masih saja gunakan istilah subversif di dalamnya.

Apa yang dipantau BIN di jejaring sosial ada yang ganjil, terutama soal subversif. Apa yang bisa masuk dalam kategori subversif? Apakah suatu gerakan sosial yang menginginkan keadilan masuk kategori subversif? Atau kritik dari para netizen juga termasuk di dalamnya? Sangat lentur sekali pengertian subversif tersebut karena perbedaannya cukup tipis, antara kepentingan penguasa atau negara.
baca selengkapnya…

Layar panggung sandiwara mantan pegawai pajak Gayus HP Tambunan keluar dari Rumah Tahanan Brimob, Kelapa Dua, Depok, terkuak kembali. Adegan demi adegan, publik menyaksikan pentas memalukan. Gayus, yang hidup di balik jeruji besi dan di bawah pengamanan ketat pula, dengan mudahnya pelesiran.

Adegan pertama, Gayus keluar rumah tahanan dan pergi ke Bali. Gayus menonton pertandingan tenis menggunakan rambut palsu (wig) dan kacamata tebal. Adegan kedua, terungkap cerita Gayus keluar Rutan Brimob dan pergi ke luar negeri, yaitu Kuala Lumpur, Makau, dan Singapura. Foto Gayus dengan wig dan kacamata, seperti saat di Bali, juga terpampang pada dokumen paspor atas nama Sony Laksono.

Dua adegan sandiwara itu sebenarnya menjadi tamparan bagi aparat penegak hukum, khususnya kepolisian, jaksa, hakim, termasuk aparat institusi lain, seperti Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.
baca selengkapnya…

Kegagalan Tim Nasional Indonesia menjadi juara Piala AFF akhir tahun lalu menambah daftar hitam sepakbola nasional. Gelar juara yang sudah lama tak disandang Indonesia menambah kegalauan kita semua. Kegagalan ini bukanlah tanpa sebab, ada faktor di balik layar yang mempengaruhinya. Bukan juga karena pemain, tapi akibat kegagalan organisasi sepakbola nasional (PSSI) dalam melakukan pembinaan dan pengelolaan. Indonesia pun miskin prestasi selama pengurus PSSI sekarang menjabat.

Di balik kegagalan kemarin, ada hikmah yang bisa dipetik. Ya, kekuatan pemain ke-12 yang begitu antusias dan penuh semangat dalam mendukung Timnas di setiap pertandingan. Tak peduli hasil yang akan diraih, tetap mengobarkan semangat para pemain. Namun, kejuaraan Piala AFF tersebut juga menghasilkan kontradiksi, arogansi dari PSSI. Suporter dibelenggu kebebasan berekspresinya dengan kasar. Dipaksa patuh pada satu orang, siapa lagi kalau bukan Nurdin Halid. Sang Ketua Umum PSSI secara de jure (secara de facto, para suporter/pecinta sepakbola nasional tak menginginkannya lagi-tolong koreksi bila pernyataan ini salah).
baca selengkapnya…

Jika penjara di Belanda bagaikan hotel, maka penjara di negara-negara Skandinavia lebih mewah lagi. Tapi, hukuman apa yang lebih manjur: roti plus air putih, atau tv layar datar plus pelajaran masak?

Para kriminal harus ditindak lebih keras, demikian pendapat masyarakat luas. Itu juga pendapat kabinet baru Belanda. Kabinet ingin adanya hukuman minimal untuk residivis (penjahat kambuhan, red), pengadilan untuk orang dewasa mulai dari usia 16 tahun, serta hukuman lebih berat atas transaksi narkoba dan kekerasan atas pihak otorita. Fokus mempersiapkan tahanan menjalani kehidupan baik-baik selepas penjara, semakin berkurang. Laporan Marco Hochgemuth.
baca selengkapnya…

Mencuatnya kasus mafia pajak (hukum) yang melibatkan Gayus Tambunan yang kemudian membuka selubung lainnya semakin membuat masyarakat marah. Wacana pengenaan hukuman mati bagi para koruptor menguat. Hampir seluruh lapisan masyarakat menginginkan agar mereka dihukum mati karena telah merugikan masyarakat. Dana yang seharusnya digunakan untuk kesejahteraan rakyat “dimakan” sendiri sehingga pembangunan terhambat. Menurut Peter Eigen dari Transparency International, korupsi tak hanya menghambat upaya kemiskinan, malah melahirkan kemiskinan baru.

Maraknya korupsi di Indonesia membuat masyarakat seringkali merujuk China yang keras terhadap para koruptor. China menghukum para koruptor itu tanpa ampun. Mereka dihukum mati apabila memenuhi kriteria tertentu dan hal itu sering terjadi. “Proyek” hukuman mati ini tak bisa lepas dari tekad Presiden China Jiang Zhe Min ketika terpilih. Dengan tegas dia menyatakan agar dibuatkan 1000 peti mati untuk koruptor. Sebanyak 999 buah untuk para koruptor, dan sisanya untuk dia bila melakukan korupsi. Tak bisa dipungkiri, hal ini menjadi shock therapy tersendiri untuk tidak melakukan korupsi.
baca selengkapnya…