Posts Tagged ‘jawa’

indonesia_satu_by_emilleart-d3ei67b

Amerika Serikat mengenal pakem kepemimpinan berdasarkan identitas pribadi, yakni: white, protestan, dan anglo-saxon. Pakem tersebut senantiasa menjadi rujukan dalam setiap pemilihan presiden. Meski demikian, hal tersebut bukanlah harga mati karena bukan atas dasar konstitusi, melainkan kultur politik belaka.

Presiden J.F. Kennedy bukanlah seorang Protestan, tapi penganut Katholik. Barrack Obama juga tak berkulit putih. Artinya, tradisi politik berdasarkan identitas sosial-kultural tersebut tak hilangkan hak warga negara untuk menjadi seorang pemimpin. Namun, butuh kerja keras dan perjuangan lebih untuk itu.
baca selengkapnya…>

Dalam ketidakpastian di tanah rantau, melupakan tanah air berserta kenangan dan harapan menjadi suatu kemustahilan. Bagaimana pun juga, Indonesia bukanlah selembar paspor. Bukan juga terkait persoalan legalitas status kewarganegaraan ketika di rantau. Lebih dari itu, Indonesia merupakan identitas sosial, budaya, dan politik yang tak terikat pada status kewarganegaraan. Indonesia adalah imajinasi tentang tanah air dan janji bhakti.

Memelihara rasa ke-Indonesia-an menjadi obat mujarab untuk tetap ingat tanah air. Bahasa menjadi alat untuk tetap mengidentikan diri sebagai Bangsa Indonesia bagi eksil 1965 di Uni Soviet saat itu hingga sekarang. Mereka tetap mengajarkan Bahasa Indonesia kepada anak-cucunya dengan kadar kefasihan tertentu. “Agar mereka (anak-cucunya) tahu jika darah Indonesia masih mengalir di badannya,” ujar salah seorang eksil dengan mantap.

baca selengkapnya…>

Telinga kita bakal dimanjakan ketika gending atau tembang jawa mengalun merdu. Apalagi jika dinikmati kala pagi ditemani secangkir kopi dan sepiring gorengan, sungguh indah hidup ini. Lebih lengkap lagi bila kita bisa mengikuti (bernyanyi) tembang jawa yang sedang mengalun, serasa enggan untuk beranjak pergi. Inilah “sihir” gamelan yang senantiasa mengiringi gending jawa nan lembut dan menghipnotis, serta hanya ada di Indonesia.

Gamelan bukanlah barang langka di negeri ini. Semua masyarakat Indonesia, khususnya jawa, bisa dipastikan mengenal seperangkat alat musik ini. Suaranya khas dan seolah memunyai daya magis luar biasa kala menikmatinya. Bahkan bisa membuat bulu kuduk merinding bilamana terdengar lirih dalam suasana sepi. Siapa pun hampir bisa dipastikan larut dalam alunan melodi pelog atau slendro yang sedang dimainkan.
baca selengkapnya…

Saat ini Indonesia sedang berduka. Dalam budaya agraris yang dekat dengan alam, nasib seseorang dipersepsi masuk dalam siklus roda waktu yang silih berganti. Hidup tak ubahnya roda pedati, “cakra manggilingan” , ada senang ada susah. Itu pun hanya sejenak, sekedar “mampir ngombe” kata orang jawa. Bila tanda – tanda alam dipercaya sebagai metafora sejarah, maka terdapat siklus yang kekal untuk semua rentetan peristiwa. Ada repetisi, pengulangan berkali-kali yang menetap, meski dengan cara yang tak sama. Tidak cuma siklus alam, siklus juga terjadi dalam sejarah. Dalam sejarah bangsa Indonesia ditandai dengan siklus 20-tahunan.

Sementara putaran zaman yang kita alami kini sedang memasuki masa senja. Orang Jawa mengatakan “wayah surup”. Menjelang senja, asar hampir usai, magrib akan tiba. Sedang berlangsung pergantian , masa transisi dari terang ke kegelapan. Kata para nabi, jangan tidur pada waktu saat – saat menjelang sampai melewati magrib. Ia akan mengalami kebingungan kejiwaan, sebab kesadaran seseorang sedang melemah. Pada saat surup, mata kita rabun tak memiliki daya tangkap obyektif untuk membedakan cahaya dan kegelapan. Orang tidak mengerti kapan merasa bangga, kapan harus malu. Orang hampir tidak punya parameter nyaris terhadap apa pun. Tak tampak nyata yang baik dan buruk, mulia atau hina, elegan atau tak terpuji. Yang dimengerti cuma satu : menuruti selera dan kebutuhan sesaat. Begitu banyaknya orang dari berbagai profesi dan keahlian, tetapi sedikit pun tak mengetahui bahwa sebenarnya mereka sedang “kesurupan”.
baca selengkapnya…