Posts Tagged ‘Islam’

indonesia_satu_by_emilleart-d3ei67b

Amerika Serikat mengenal pakem kepemimpinan berdasarkan identitas pribadi, yakni: white, protestan, dan anglo-saxon. Pakem tersebut senantiasa menjadi rujukan dalam setiap pemilihan presiden. Meski demikian, hal tersebut bukanlah harga mati karena bukan atas dasar konstitusi, melainkan kultur politik belaka.

Presiden J.F. Kennedy bukanlah seorang Protestan, tapi penganut Katholik. Barrack Obama juga tak berkulit putih. Artinya, tradisi politik berdasarkan identitas sosial-kultural tersebut tak hilangkan hak warga negara untuk menjadi seorang pemimpin. Namun, butuh kerja keras dan perjuangan lebih untuk itu.
baca selengkapnya…>

Bersama sejumlah anak muda, Mohammad Hatta menggagas Partai Demokrasi Islam Indonesia. Tidak diizinkan Soeharto.

OLEH: WENRI WANHAR

SEJAK mengundurkan diri sebagai wakil presiden, Mohammad Hatta menjadi warga negara biasa dan menjadi tumpuan bagi berbagai kalangan yang menginginkan demokrasi, kebebasan, dan hak berpolitik. Terlebih Presiden Sukarno semakin berkuasa dengan Demokrasi Terpimpin. Dia hanya membenarkan partai yang bisa menurut kepadanya. Maka, Masyumi dan PSI dibubarkan. (Baca laporan utama Riwayat Masyumi Menuju Sunyi di majalah Historia Nomor 16 Tahun II 2014)
Pada masa Demokrasi Terpimpin itu, Hatta kerap mengadakan pertemuan dengan para pemuda dari organisasi Islam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pelajar Islam Indonesia (PII), Gerakan Pemuda Islam Indonesia, Partai Syarikat Islam Indonesia, dan Nahdlatul Ulama. Dari sekian hal yang dirundingkan, tercetus ide mendirikan partai politik Islam.

Menurut Deliar Noer, mantan ketua umum Pengurus Besar HMI (1953-1955) yang rutin menghadiri pertemuan itu, Hatta membenarkan perlunya partai Islam yang akan memberi contoh penerapan ajaran Islam dalam berpolitik.

“Maka disepakatilah secara bersama-sama rancangan anggaran dasar Partai Demokrasi Islam Indonesia, disingkat PDII,” tulis Deliar Noer, “Hatta dan Partai Islam,” dimuat dalam Mengapa Partai Islam Kalah? Rancangan anggaran dasarnya disusun Hatta dengan usulan dari para pemuda. Setelah disusun, konsep itu dibicarakan bersama lagi dengan yang lain. Ini dilakukan berkali-kali.
baca selanjutnya…

Bung Karno Sumber: http://fan2be.blogspot.com

Dalam artikelnya yang masyhur “Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme” sejatinya Sukarno melakukan pembelahan bukan persatuan.

Sejak saya mulai belajar sejarah Indonesia di University of Sydney tahun 1969, saya selalu diajari oleh para dosen bahwa Sukarno seorang permersatu. Bahkan mereka, baik dosen Australia, Indonesia atau Belanda, cukup banyak yang menyebut Sukarno – dengan nada minor – gandrung persatuan. Dalam bulan Juni 2011 ini – dengan banyak spanduk yang menyatakan ini bulan Sukarno – masalah persatuan, apalagi dalam menghadapi “asing”, suka disebut-sebut lagi.

Baik sebagai seorang akademisi yang “Indonesianis” maupun sebagai warga dunia yang berkewajiban berideologi, saya menyatakan sebelumnya bahwa saya termasuk seorang yang sangat menghargai kepemimpinan Sukarno serta pikirannya, meskipun saya juga berpendapat dia bukan manusia sempurna: pernah juga melakukan kekeliruan dan kadang-kadang analisa yang salah. Sebagai seorang yang menilai peranan Sukarno secara umum sangat positif, saya mau menekankan bahwa gambaran atau stereotipe Sukarno sebagai seorang pemersatu adalah keliru total. Sukarno bukan pemersatu bangsa, dia adalah seorang yang membelah bangsa dan negeri Indonesia.

Apakah ini celaan atau sebuah kritikan? Tidak, ini sebuah pujian. Izinkan saya jelaskan pendapat saya itu.

Kalau kita buka buku Di Bawah Bendera Revolusi jilid I artikel pertama, kita akan temukan artikel “Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme”. Artikel itu dimuat di Suluh Indonesia Muda pada tahun 1926. Artikel terkenal itu mengambil sebuah peranan awal dalam kampanye propaganda Sukarno yang kemudian sering dianggap sebagai artikel yang mengusung gagasan persatuan. Tetapi pandangan seperti itu adalah pandangan yang dangkal kalau tak boleh disebut sebagai pandangan yang sangat menyesatkan. Tulisan “Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme” sejatinya adalah tulisan pembelahan, bukan penyatuan.
baca selengkapnya…

Seringkali kita mengatakan kalau pendidikan Islam saat ini mengalami kemunduran. Realitas nyata atas hal itu banyak dijumpai di negara yang penduduknya mayoritas beragama Islam, terutama di belahan bumi selatan. Realitas ini tak dapat dipungkiri karena keadaan tersebut memang sudah jadi kenyataan di depan mata. Namun, apakah kemunduran itu datang dengan sendirinya? Tidak. Pasti ada penyebab kondisi tersebut lahir.

Tulisan A Fatih Syuhud di blognya sangat menarik dan bisa jadi rujukan sederhana untuk menggambarkan kondisi asimetris itu. Artikel berjudul Kemunduran Pendidikan Islam tersebut secara tegas menyatakan, penyebabnya yaitu kemiskinan dan keterbelakangan ekonomi. Di satu sisi, dalam artikel lain yang berjudul Pendidikan di Era Keemasan Islam, persoalan ekonomi ini tak disinggung. Komparasi masa sekarang dan era keemesan Islam jadi sulit dilakukan karena tolok ukurnya beda. Pertanyaan pun muncul, apakah kebebasan berpendapat dalam konteks keilmuan sudah dan dukungan pemerintah tak ada di zaman sekarang?
baca selengkapnya…

Imam Al-Ghazali lebih dikenal sebagai ulama tasawuf dan akidah. Oleh sebab itu sumbangannya terhadap bidang filsafat dan ilmu pengetahuan lain tidak boleh dinafikan begitu saja dalam lembar sejarah pemikiran politik Islam. Al-Ghazali merupakan seorang ahli sufi yang bergelar “hujjatul Islam” karena intelektualitas yang dia miliki dan sumbangsihnya terhadap kemajuan ilmu pengetahuan di dunia Islam saat itu.

Abu Hamid Ibnu Muhammad al-Tusi al-Ghazali adalah tokoh yang dilahirkan di Tusi, Parsi pada tahun 450 Hijrah. Sejak kecil, dia telah menunjukkan kemampuan luar biasa dengan menguasai berbagai cabang ilmu pengetahuan. Imam Al – Ghazali bukan saja produktif dari segi menghasilkan buku dan karya tetapi merupakan seorang ahli fikir Islam yang terbaik dengan karya-karya monumentalnya. Kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan begitu mendalam sehingga mendorongnya mengembara dan merantau dari satu tempat ke tempat yang lain untuk berguru dengan ulama-ulama yang hidup pada zamannya. Hasil kerja kerasnya dapat dinikmatinya sewaktu berada di Baghdad, Al-Ghazali dilantik sebagai Mahaguru Universitas Baghdad.
baca selengkapnya…

Jubah menjadi tanda orang yang telah haji dan memiliki ilmu tinggi. Ia juga menjadi pakaian perang untuk melawan penjajah, dan kini menghajar kemaksiatan.

DI masa lalu pemerintah kolonial Belanda memberlakukan aturan ketat soal pemakaian jubah atau pakaian bergaya Arab. Pakaian ini diasosiasikan dengan orang-orang yang pulang beribadah haji di Mekah, yang kerap menjadi penyebab keonaran.

Dalam berbagai pemberontakan dan peperangan besar maupun kecil di Hindia Timur, Belanda dihadapkan pada masyarakat yang memakai jubah panjang putih dengan serban di kepala. Mereka juga mempropagandakan cara hidup puritan; melarang perjudian, minuman-minuman beralkohol; mengisap opium dan tembakau; dan semacamnya.
baca selengkapnya…