Posts Tagged ‘eksil’

Istilah eksil mencuat di Indonesia pasca Presiden Wahid (Gus Dur) menjulukinya sebagai “orang-orang kelayapan” dan berusaha memulangkan mereka. Orang-orang yang terhalang pulang bukan atas kemauan sendiri, tapi paksaan negara pasca huru-hara 1965. Mereka menyebar di negara-negara Eropa, dari timur hingga barat. Bahkan ada yang “menyasar” hingga Kuba, bolivia, Korea Utara, dan lainnya.

Para eksil ini bukan lah buronan yang takut pulang untuk menghindari penjara negara. Bukan pula kriminil yang mencoba menghindar dari jerat hukum. Mereka tak pulang karena status sebagai WNI dicabut karena alasan sikap politik yang dinilai tak mendukung rezim fasis-militeristik Suharto.

Siapa mereka (eksil) sebenarnya? Mayoritas dari para eksil 1965 berstatus mahasiswa ikatan dinas (mahid) yang diberangkatkan di era Sukarno. Ada juga anggota keluarga dari mereka yang juga kena terpaksa tak kenal tanah airnya secara langsung. Benar-benar perjuangan berat untuk menjadi seorang Indonesia.

Pada era Suharto, pulang menjadi mantra tersendiri bagi mereka. Tak ada harapan untuk sekadar berkunjung ke makam orang-orang terkasih yang sudah pergi. Pulang sebagai turis dengan status WNA saja butuh perjuangan, apalagi berharap WNI. Kalau menurut eksil di Belanda, Fransisca Fanggidaej, merdeka itu pulang.

Tak ada lisan dan/atau perbuatan melanggar hukum yang mereka lakukan sehingga tak berani pulang. Tak juga pula takut tampil di pemberitaan media massa karena duduk di kursi pesakitan. Bukan itu, mereka tak pulang karena sikap dan negara memang tak menghendakinya. Lenyap sudah generasi unggul di era tersebut.

Menyamakan ikhwal tak pulangnya para eksil dengan buronan kriminal yang lari ke luar negeri tentunya tak sepadan. Mereka sejatinya ingin pulang, bukan menetap atau “mengamankan diri” di negeri orang. Para eksil tak bisa pulang karena dipaksa oleh negara, bukan terpaksa karena keadaan.

Hembusan angin musim gugur tak menghentikan langkahku untuk mencoba mempertemukan keluarga yang telah lama berpisah. Mereka berpisah bukan karena salah satu pihak enggan bertemu. Bukan juga karena ada kebencian di antara mereka. Mereka berpisah karena keadaan, dipaksa untuk tak bisa berkumpul. Siapa lagi kalau bukan negara melalui tangan-tangan kekuasaannya yang menjadi pelaku pemisahan tersebut.

Bandara Internasional Vnukovo di pinggiran Moskow saat itu tampak tenang. Bandara ini memang tak seramai Domodedovo atau Sheremetyevo yang juga berlabel internasional di Moskow. Namun, kala itu ada yang berbeda dari bandara sepi ini. Dari kejauhan tampak sepasang suami istri dengan wajah khas Indonesia tiba melalui bandara ini. Wajah lelah setelah perjalanan jauh sangat terlihat sekali, tapi hal ini tak menyurutkan niat mereka.
baca selengkapnya…>

Saat itu sore yang biasa-biasa saja bagi ku. Tak ada ubahnya dengan sore-sore sebelumnya. Matahari tetap tampak gagah meski saat itu menunjukan waktu maghrib jika di tanah air. Matahari tetap terik dengan sesekali hujan mengguyur bumi. Meski jam menunjukan hampir pukul 19.00, geliat manusia masih terus berjalan dengan pancaran mentari yang masih menyengat. Itulah wajah sore pada musim panas 2013 di Moskow, Rusia.

Setelah membereskan tugas ujian akhir semester, media sosial di laptop menunjukan adanya pesan notifikasi. Pengirim pesan bukan orang yang ku kenal sebelumnya, sama sekali. Perkenalan diri dilakukan di pesan tersebut. Ternyata, pengirim pesan merupakan temannya teman media sosial yang beberapa hari sebelumnya ku temui. Apa pun itu, bertambah teman satu di media sosial dan terus berlanjut sampai sekarang (offline).

baca selengkapnya…>

Dalam ketidakpastian di tanah rantau, melupakan tanah air berserta kenangan dan harapan menjadi suatu kemustahilan. Bagaimana pun juga, Indonesia bukanlah selembar paspor. Bukan juga terkait persoalan legalitas status kewarganegaraan ketika di rantau. Lebih dari itu, Indonesia merupakan identitas sosial, budaya, dan politik yang tak terikat pada status kewarganegaraan. Indonesia adalah imajinasi tentang tanah air dan janji bhakti.

Memelihara rasa ke-Indonesia-an menjadi obat mujarab untuk tetap ingat tanah air. Bahasa menjadi alat untuk tetap mengidentikan diri sebagai Bangsa Indonesia bagi eksil 1965 di Uni Soviet saat itu hingga sekarang. Mereka tetap mengajarkan Bahasa Indonesia kepada anak-cucunya dengan kadar kefasihan tertentu. “Agar mereka (anak-cucunya) tahu jika darah Indonesia masih mengalir di badannya,” ujar salah seorang eksil dengan mantap.

baca selengkapnya…>

Saat awal paspor dicabut oleh Pemerintah Indonesia via KBRI Moskow merupakan masa yang cukup berat bagi para mahasiswa di Uni Soviet. Informasi tentang kondisi tanah air harus dicari dari media lain. KBRI Moskow sudah tertutup bagi mereka karena sudah tak diakui lagi sebagai WNI. Radio dan koran menjadi satu-satunya sarana yang paling memungkinkan. Indonesia pun terasa semakin jauh dah sulit dijangkau.

Kabar tentang Indonesia saat itu simpang-siur adanya. Lambat laun seiring perjalanan waktu, informasi tentang kondisi Indonesia pasca transisi politik berdarah (1965) dapat mereka peroleh.  Akhirnya, mereka pun sadar. Harapan untuk bisa pulang kembali ke Indonesia demi tepati janji ketika berangkat ke Uni Soviet semakin kabur. Namun, ada juga yang masih menyisakan harapan untuk bisa pulang. “Barangkali, 3-5 tahun lagi kondisi akan normal kembali.” Itulah sejengkal harapan yang ada di tengah ketidakpastian.
baca selengkapnya…>

Sejumlah anggota perhimpunan eksil Indonesia mendengarkan pembacaan Teks Proklamasi dalam acara peringatan kemerdekaan di Belanda. TEMPO/Yuke Mayaratih

Sejumlah anggota perhimpunan eksil Indonesia mendengarkan pembacaan Teks Proklamasi dalam acara peringatan kemerdekaan di Belanda. TEMPO/Yuke Mayaratih

Rencana pulang ke tanah air pun ditunda akibat belum menentunya situasi pasca peristiwa G 30 S/1965. Tak terbesit sedikit pun bayangan tentang dahsyatnya peristiwa tersebut bagi nasibnya. Menunggu hingga situasi sudah kondusif. Hanya itu yang bisa dilakukan sembari terus mencari informasi tentang perkembangan situasi di tanah air yang penuh dengan rumor dan ketidakpastian.

Harapan untuk bisa pulang akhirnya sirna juga setelah KBRI Moskow di bawah pengawasan Atase Pertahanan mencabut paspornya. Bukti status sebagai warga negara Indonesia diambil negara, artinya hilanglah keawarganegaraan Indonesia yang ia banggakan selama ini. Mau tak mau, status sebagai alien citizen (tanpa kewarganegaraan dalam perlindungan UNHCR) menjadi satu-satunya pilihan. Pemerintah dan universitas Uni Soviet saat itu cukup membantu dalam proses ini.
baca selengkapnya…>

Tak ada firasat apa pun bagi wartawan LKBN Antara ini ketika berangkat ke Uni Soviet untuk memperdalam ilmu jurnalistik. Pada usia lebih dari 30 tahun, sekitar akhir 1950-an, dia ditugaskan oleh pemerintah untuk belajar pada salah satu kampus di Moskow. Senang dan bahagia tentunya ketika kabar gembira itu menghampirinya. Pengumuman kelulusan untuk melanjutkan studi ke luar negeri.

Berangkat ke Uni Soviet baginya bukanlah suatu kecelakaan meski pilihan lain tersedia. Saat itu, ada pilihan berangkat ke negara lain yang difasilitasi oleh Kementerian Pendidikan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (PTIP). Kanada dan Jerman jadi alternatif, tapi pengumuman dari Uni Soviet datang lebih dulu kepadanya. ”Tak ada salahnya belajar di Uni Soviet. Uni Soviet juga negara yang tradisi ilmu pengetahuannya kuat,” katanya.
baca selengkapnya…