Posts Tagged ‘bung karno’

kamisan-1

Banyak yang berharap lebih kepada Pemerintah Indonesia selain melakukan kecaman terhadap Pemerintah Myanmar. Pemerintah diharapkan, mungkin, mengambil tindakan militer atas dugaan genosida terhadap Suku Rohingya di Myanmar. Kalau benar terjadi, itu sama halnya Indonesia melakukan kejahatan agresi terhadap Myanmar. Mau niru AS era Bush yang seenak udel-nya serang Irak dan Afghanistan? Atau era Obama yang semau gue menghajar Libya? Itu salah kan? Kalau salah, apa perlu meniru tindakan yang sama?

Apa yang bisa dilakukan Pemerintah guna segera menghentikan genosida tersebut? Paling masuk akal, memasukan isu genosida terhadap suku Rohingnya ini menjadi agenda di Dewan HAM PBB. Tentunya juga harus banyak doa agar, jika putusan Dewan HAM PBB positif, DK PBB menyetujui rekomendasinya untuk ditingkatkan menjadi humanitarian intervention. Artinya, tak ada anggota tetap DK PBB yang gunakan hak veto-nya (peluangnya?). Plus lanjutannya, Pengadilan Kriminal Internasional seperti di Yugoslavia, Rwanda, dan Kamboja. Maklum, seperti halnya Indonesia, Myanmar belum ratifikasi Statuta Roma yang memungkinkan segala bentuk the most serious crime dapat langsung diproses tanpa melalui mekanisme di PBB.

Selain itu, ada cara lain lagi untuk penyelesaiannya: melalui ASEAN. Namun demikian, tak perlu berharap lebih terhadap mekanisme ini. Kalau perlu, anggap saja tak ada. Buang-buang waktu dan energi, useless. Dengan tameng prinsip non-intervensi, ASEAN bakal membisu. Paling keras, mungkin, ada respom dalam bentuk pertemuan. Cukup dimaklumi saja.

Meski demikian, segala daya upaya untuk mengakhiri kekerasan di Myanmar harus diapresiasi. Apa pun hasilnya. Hal tersebut menunjukan, Indonesia negara yang pedul terhadap masalah kemanusiaan di kawasan Asia Tenggara (dalam negeri bagaimana?) Ohya, perlu juga Kita ingatkan pemerintah untuk meminta maaf atas kekerasan pasca G 30 S/1965 yang menurut cerita memakan korban jiwa sekitar 3 juta orang meninggal dunia. Juga meminta maaf atas peristiwa Talangsari, dll (Apakah saya akan dicap kuminih juga gegara ini? Ampun…)

Sebelum melangkah lebih jauh, kita perlu menyiapkan cermin terlebih dahulu. Dibuat kerja pararel saja, antara mendesakan agenda genosida di Myanmar dan bercermin. Bercermin untuk apa? Bercermin untuk segala genosida dan/atau kejahatan terhadap kemanusiaan di Indonesia (Pembantaian pasca G 30/S 1965, Talangsari, dll). Apakah itu perlu dituntaskan di dalam negeri atau dibawa juga ke mekanisme PBB?

Ini penting juga jadi cerminan. Kata Bung Karno ketika berpidato di sidang BPUPKI, “mankind is one.” Atau masih juga bisa dipilah-pilah lagi tergantung kepentingan masing-masing?

Iklan

Hantu komunisme berpotensi bangkit. Itulah wacana yang saat ini sedang dibangun oleh penguasa. Orang-orang yang mengenakan segala atribut yang mengandung unsur komunis (palu-arit) ditangkap. Bahkan, lambang komunitas pecinta kopi pun juga jadi sasaran. Barangkali, palu untuk memaku dan arit buat potong rumput yang kita simpan di rumah perlu juga untuk disembunyikan. Kalau perlu, dikubur di halaman rumah karena keduanya mengandung unsur lambang komunisme, palu dan arit.

Berbagai buku tentang pemikiran Karl Marx, Lenin, dan tokoh-tokoh komunis lainnya sedang dicari aparat keamanan untuk disita. Buku tentang sejarah gerakan komunis di Indonesia atau segala sesuatu terkait Partai Komunis Indonesia juga alami hal serupa. Tak ketinggalan pula buku yang halaman depannya bergambar palu-arit juga jadi sasaran penyitaan. Untuk itu, bersegeralah membeli buku-buku tersebut sebelum hilang dari peredaran. Anggap saja investasi karena siapa tahu harganya bakal selangit di kemudian hari karena langka dan tak diproduksi lagi.
baca selengkapnya…>

Apa makna kemerdekaan paling sederhana tapi penuh makna? Pertanyaan ini paling saya sukai dengan gunakan puisi karya Wiji Thukul. “Kemerdekaan adalah nasi. Nasi keluar menjadi tai.” Puisi ini sangat singkat, realistis, dan tak diawang-awang. Benar-benar sesuai kenyataan di bumi manusia ini. Membumi dan langsung mengena pada substasi dari kemerdekaan itu sendiri.

Mengapa kemerdekaan itu nasi? Ini hanyalah simbol dari kebutuhan dasar manusia. Bagi yang makanan pokoknya bukan beras, bisa diganti lain seperti: sagu dan roti. Substansinya, tanpa makan manusia tak akan hidup dan kemerdekaan pada dasarnya untuk menjamin keberlangsungan kehidupan.
baca selengkapnya…

Ada dua moment paling bersejarah dalam sejarah suksesi kekuasaan di Indonesia. Dua moment ini melahirkan era baru dalam dinamika ekonomi dan politik dengan ekses berbeda. Namun, kedua moment ini melahirkan suatu kepastian dan kualitas kepemimpinan masing-masing, terlepas latar belakang munculnya peristiwa tersebut. Keduanya memunyai kesamaan dalam hal runtuhnya kekuasaan sebagai pemimpin tertinggi di republik ini.

Dua moment tersebut yakni, penurunan Presiden Sukarno dan mundurnya Presiden Suharto dari tampuk kekuasaan. Keduanya memunyai keterkaitan erat karena banyak pihak menduga, naiknya Suharto sebagai Presiden RI banyak diwarnai intrik-intrik tertentu. Namun, kedua presiden ini memunyai keberanian dalam bentuk beda. Sukarno berani mempertanggungjawabkan semua kebijakannya dalam wujud Pidato Nawaksara di depan MPRS. Sedangkan Suharto dalam wujud mengundurkan diri setelah 32 tahun membangun rezim fasis-militeristik.
baca selanjutnya…

 

Peringatan hari lahir Bung Karno ke-111 masih jauh dari harapan. Pemimpin negara ini masih takut untuk meluruskan sejarah tentang Sang Proklamator Kemerdekaan ini. Mereka masih terbius komunisto-phobi rezim Suharto sehingga mengabaikan status Presiden I RI. Bung Karno sampai detik ini masih berstatus tahanan politik dan upaya rehabilitasi terhadap hal ini masih jauh dari harapan. Beda dengan Corby yang dengan mudahnya mendapatkan grasi dari Presiden meski tak punya jasa apa pun bagi tanah air.

 

Melalui TAP MPRS No. XXXIII/MPRS/1967 tentang Pencabutan Kekuasaan Pemerintahan Negara dari Presiden Soekarno, Bung Karno disudutkan sedemikian rupa. Pada Pasal 3 TAP MPRS tersebut, secara tegas melarang Sukarno untuk melakukan aktivitas politik apa pun sampai dengan pelaksanaan Pemilu selanjutnya. Sukarno juga dituduh membuat kebijakan yang secara tidak langsung menguntungkan bagi G 30 S/PKI dan tokoh-tokohnya. Hal ini tertuang dalam bab pertimbangan TAP MPRS tersebut.
baca selengkapnya…

“Merdeka,” bukan sekadar kata. Ia adalah salam nasional.

PASCAPROKLAMASI kemerdekaan 17 Agustus 1945, setiap kali orang bertemu pasti akan mengucapkan salam “Merdeka”. Bahkan, pekik perjuangan “Merdeka” ditetapkan Maklumat Pemerintahan tanggal 31 Agustus 1945 sebagai salam nasional, yang berlaku mulai 1 September 1945. Caranya ialah dengan mengangkat tangan setinggi bahu, telapak tangan menghadap ke muka, dan bersamaan dengan itu memekikkan “Merdeka”.

Pekik “Merdeka” menggema dimana-mana kala itu. Semboyan seperti “Sekali Merdeka Tetap Merdeka” atau “Merdeka atau Mati” juga kerapkan diucapkan para pemuda dan pejuang, yang menunjukkan tekad untuk mempertahankan kemerdekaan.
baca selengkapnya…

Soekarno menuturkan itu dalam biografi yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Bung Karno juga bercerita, tempat menyendiri yang paling dia gemari adalah di bawah pohon sukun (Artocarpus communis) yang menghadap ke laut.

Dari perenungannya, Bung Karno menyadari bahwa semangat untuk meraih kemerdekaan tidak bisa berhenti. Namun, tak bisa lepas dari kehendak semesta.

Rumah beratap seng di Jalan Perwira, Ende, menjadi saksi bisu keberadaan Soekarno di Ende, 75 tahun silam.

Di dalam rumah itu tersimpan sejumlah barang peninggalan Soekarno. Dalam sebuah lemari kaca ada dua tongkat kayu yang biasa dibawa Soekarno. Salah satunya ada kepala monyet di ujungnya. Tongkat itu biasa digunakan Bung Karno ketika berbicara dengan penguasa kolonial, sebagai bentuk satire.
baca selengkapnya….