nzabonimana

Beberapa hari yang lalu linimasa FB memuat tulisan Denny Siregar yang dibagikan oleh seorang teman tentang Rwanda dan Partai Komunis Indonesia. Saya membacanya sekilas dan sudah tahu maksudnya. Ternyata, tulisan tersebut tidak bersumber dari data, hanya asumsi belaka. Silakan jika Bung Denny tak sepakat dengan tanggapan saya ini, terbuka untuk kritik tanpa harus nyinyir. Saya benci dengan sikap nyinyir oleh pihak mana pun. Silakan dikritik, koreksi, atau apa pun tulisan ini. Tentunya, tanpa harus nyinyir. Data vs data. Ok?

Terkait tulisan perbandingan antara Rwanda dengan Indonesia. Tulisan yang disajikan hanya menggampangkan masalah tanpa melihat proses yang mengikutinya. Bung Denny Siregar dengan gamblang menyebut, “Tahun 2014, Rwanda memperingati 20 tahun genosida itu. Menarik bahwa Rwanda tidak pernah mempermasalahkan “siapa yang benar dan siapa yang salah” pada waktu genosida itu. Mereka hanya menyesalkan ‘tragedi kemanusiaannya’”. Dari rangkaian tulisan tersebut, saya mendapat kesan bahwa Rwanda telah menuntaskan masalah genosida yang pernah mereka alami dengan sembuh sendiri. Apa benar?

Pada 1994, DK PBB membentuk International Criminal Tribunal for Rwanda (ICTR) melalui Resolusi Nomor 995 tahun 1994. ICTR bertugas untuk mengadili kejahatan genosida di Rwanda pada 1993. Kerja ICTR berakhir pada 2015 dengan diadilinya para tersangka yang dituduh harus bertanggungjawab atas meninggalnya sekitar 1 juta orang akibat genosida dan kejahatan kemanusiaan. ICTR ini merupakan pengadilan internasional keempat setelah Pengadilan Nuremberg (1946), Pengadilan Tokyo (1948), dan International Criminal Tribunal for former Yugoslavia (ICTY). Kalau Bung Denny tidak percaya, silakan buka Resolusi DK PBB No. 995/1994 dan Statuta ICTR.

Mengapa Rwanda bisa menatap jauh ke depan? Proses penyembuhan luka atas tragedi kemanusiaan yang pernah terjadi di negara tersebut telah ditempuh. Masyarakat dunia membantu proses tersebut dengan mekanisme yudisial karena Rwanda belum memiliki mekanisme untuk melakukannya. Apa yang dilakukan masyarakat dunia terhadap tragedi kemanusiaan di Rwanda juga dilakukan di Yugoslavia. Melalui Resolusi DK PBB No. 827/1993, ICTY dibentuk untuk mengadili para tersangka kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan agresi di negara bekas Yugoslavia. Proses penyembuhan luka melalui proses yudisial pun berlangsung.

Bagaimana dengan Indonesia? Tulisan Denny Siregar dengan mudahnya membandingkan Rwanda dengan Indonesia. Rwanda bisa melakukan peringatan dengan tema “kemanusiaan” karena persoalan mendasarnya sudah dituntaskan melalui ICTR. Tentunya hal tersebut tidak bisa tuntas sepenuhnya. Ganjalan yang masih tersisa dapat diselesaikan dengan dialog dan peringatan agar tak terulang kembali. Peristiwa pasca pembunuhan enam jenderal dan satu perwira menengah pada 1965 belum diselesaikan. Belum ada mekanisme yang dibangun untuk menyembuhkan luka semua pihak yang terluka. Apakah itu melalui jalur yudisial atau non-yudisial, itu belum dilakukan.

Penyelesaian luka kejam sejarah memang tak harus melalui jalur yudisial. Jalur non-yudisial (rekonsiliasi) dapat ditempuh seperti yang dilakukan Afrika Selatan pasca runtuhnya politik apartheid. Akibat luka sejarah yang belum sembuh ini akhirnya banyak dampak ikutan yang mengiringi perjalanan bangsa Indonesia. Ketiadaan penyelesaian komprehensif menyebabkan adanya asumsi bahwa tindakan serupa “dapat dibenarkan” karena tak ada yang harus bertanggungjawab. Pastinya, soal “benar atau salah” akan terus menghantui, tanpa ujung. Benar adanya pernyataan aktivis anti-apartheid Afrika Selatan, Desmond Tutu, tentang pentingnya saling memaafkan, “no future without forgiveness”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s