Tol Trans Jawa: (Jalan) Matinya Sebuah Kota (2)

Posted: 4 Juli 2017 in Arbiter
Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , ,

13598098631

Tujuh tahun lalu saya pernah menulis tentang tol trans Jawa yang makan menghubungkan Jakarta-Probolinggo (ternyata sekarang jadi Jakarta-Banyuwangi). “Kematian” kota Purwakarta dan potensi matinya kota-kota di sepanjang pantai utara Jawa (pantura) menjadi perhatian utama. Khusus untuk pantura masih hanya rekaan saja karena belum ada buktinya. Hanya menimbang dari pelajaran berharga dari kota lain yang senyap dan Radiator Springs dalam film Cars 1.

Fenomena Mudik Lebaran 2017 kembali menggugah untuk menulis lagi tentang tol trans Jawa ini. Harus diakui, Mudik Lebaran 2017 jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya. Tak bisa dipungkiri, keberadaan tol darurat Brebes-Pemalang membuat lalu-lintas di sepanjang pantura Jawa Tengah dan pintu tol Brebes Timur tidak se-horor tahun lalu. Berbagai upaya pemerintah untuk menjadikan mudik tahun ini harus mendapatkan apresisasi setinggi-tingginya. Salut!

Dibalik kesuksesan Mudik Lebaran 2017 ternyata ada tragi-komedi tentang “sekaratnya” kota. Tentang matinya sumber kehidupan dan penghidupan, juga tenggelamnya sejarah panjang sebuah jalan. Apalagi kalau bukan “sekaratnya” kota Brebes, Tegal, Pekalongan, dan Batang. Kota yang senantiasa hidup di kala musim mudik lebaran tak lagi segemerlap dulu. Perputaran uang tak sekencang tahun-tahun sebelumnya. Tak bisa dipungkiri, keberadaan tol darurat Brebes-Pemalang memberi sumbangan sangat besar terhadap fenomena ini.

“Pembeli tak seramai dulu mas. Dulu pas arus mudik, di sini sangat ramai kendaraan dan pembeli,” ujar salah satu pedagang di Alas Roban, Batang.

Pernyataan pedagang di Alas Roban senada di atas dengan pengalaman salah seorang aktivis civil society di Pekalongan. Dia mendapatkan cerita dan melihat sendiri bagaimana kawasan Pasar batik Setono tak seramai biasanya ketika arus mudik lebaran tiba. Pasar batik tersebut tak seheboh tahun lalu dan sebelumnya. Bahkan, jam tutup dipercepat karena sepi pengunjung.

“Pasar Batik Setono biasanya kalau musim mudik lebaran tutup sekitar jam 10 malam. Namun, kemarin, jam 6 sore mereka sudah banyak yang tutup karena sepi calon pembeli. Nasib serupa juga dialami penjual telur asin di Brebes,” kisahnya.

Dia juga menambahkan, banyak pedagang di pinggir jalan sepanjang pantura mengalami hal sama. Dagangan mereka sepi pembeli, tak seramai dulu. Tol darurat tersebut diduga memberi sumbangsih cukup besar terhadap fenomena ini. Apa yang terjadi di Brebes, Tegal, Pekalongan, dan Batang memang belum separah Purwakarta. Semua pasti tahu, kemarin hanya tol darurat saja yang dibuka. Bagaimana jika jalan tol tersebut sudah dioperasikan sepenuhnya? “Pengendara bakal malas untuk ke luar tol hanya untuk makan atau mencari buah tangan,” timpa ku.

Pengalaman malas ini terjadi ketika bersama beberapa kawan melakukan perjalanan ke Bumiayu, Brebes pada sekitar November 2016. Sejak di Jakarta hingga pintu keluar tol Bulukumba, kami hanya melintas tol saja. Bahkan untuk beli telur asin saja, kami tak rela jika harus keluar tol sehingga harus membeli sebelumnya meski bukan di daerah yang terkenal dengan telur asinnya. Pokoknya beli di Brebes, itu saja. Bersambung…

Referensi
http://www.antarajateng.com/detail/pasar-grosir-setono-sepi-karena-operasional-tol.html
http://radartegal.com/berita-lokal/tol-brebes-pemalang-berfungsi-warung-tiban-sepi.16083.html

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s