12049407_10206415218773444_5364517065564256627_n

Ketika berkenalan dengan orang baru, saya selalu menyebut Lumajang sebagai kota asal. Mayoritas dari mereka tak tahu di mana itu Lumajang. Saya maklum saja, Lumajang memang kota kecil, tak setenar tetangga: Malang dan Jember. Agar mereka tahu di mana itu Lumajang, Gunung Semeru selalu saya jadikan patokan. Kalau ada berita heboh banjir lahar Semeru, maka itulah Lumajang.

Namun, mulai Sabtu kemarin, mengenalkan Lumajang tak perlu lagi pakai Semeru sebagai alat. Lumajang saat ini jadi isu nasional. Bukan karena prestasi, tapi pembunuhan dan penganiayaan warga penolak tambang pasir di Selok Awar-Awar, Pasirian.

Lumajang bukan lagi kota “tersembunyi”. Lumajang bukan lagi kota lahar semeru. Lumajang kota penuh bercak darah karena pembungkaman aksi petani yang tak ingin bumi kelahirannya rusak akibat eksploitasi pasir. Inilah wajah baru Lumajang tercinta.

Pak Salim dan Pak Tosan, Anda sekalian adalah martir. Martir bagi tumbuhnya kesadaran lingkungan. Martir bagi tumbuh-kembangnya perlawanan setelah sekian lama membisu. Pengorbanan kalian bakal menjadi pembelajaran tentang rakyat dan kekuasaan. “Didiklah rakyat dengan organisasi, dan didiklah penguasa dengan perlawanan.”

Hasta La Victoria Siempre…

Jakarta, 28 September 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s