Daging Sapi dan Kambing Kurban

Posted: 25 September 2015 in Arbiter
Tag:, , , , , , , ,

Langit ibukota dan daerah penyangganya sepanjang Kamis kemarin (Idul Adha) tertutup kabut asap, dan mungkin daerah lainnya. Bukan asap gara-gara kebakaran hutan lho, tapi akibat banyaknya orang memanggang sate. Di berbagai tempat penuh canda riang dengan aroma semerbak kombinasi daging kambing gosong dan kecap manis. Pedagang sate pun terpaksa tutup lapaknya. Hari itu benar-benar indah…

Di mana-mana, pemandangan menguliti sapi dan kambing, serta memotong dagingnya sesuai ukuran jadi hal biasa. Kalau tak ada malah terkesan aneh. Banyak ekor sapi dan kambing disembelih dan keceriaan pun tak bisa dicegah untuk hadir. Fenomena ini tak lepas dari peringatan Idul Adha yang mana disunnahkan untuk mengorbankan hewan ternak untuk bisa dibagikan kepada kaum fakir-miskin.

Dibalik itu semua, ada beberapa hal yang sesuangguhnya cukup menggelitik. Benarkah daging-daging kurban tersebut hanya dikonsumsi oleh mereka yang berhak? Jujur saja ya, jawabannya: tidak!  Idul Adha jadi ajang pesta, bukan lagi jadi sarana berbagi nikmatnya protein hewani dengan mereka yang didera kemiskinan. Daging berlimpah ruah dan harus terdistrubusi agar tak membusuk. Suka atau tidak, akhirnya dibagi merata tanpa melihat tujuan awal dari kurban. Semua berpesta.

Jika ditilik dari gambaran di atas, apakah perlu merevitalisasi ibadah kurban agar lebih bermanfaat bagi masyarakat miskin? Idul Adha tak lagi diartikan pemotongan hewan kurban dengan massif, tapi berkurban untuk kesejahteraan bersama. Koperasi. Inilah jawaban paling jelas untuk merevitalisasi “ritual” Idul Adha agar lebih tepat sasaran tanpa menghilangkan esensi utamanya.

Asumsikan saja dalam satu desa ada lima titik pemotongan hewan kurban. Pada tiap-tiap titik tersebut ada seekor sapi dan lima ekor kambing yang hendak disembelih. Sedangkan di desa tersebut ada 200 KK yang layak mendapatkan hewan kurban. Apakah semua hewan kurban tersebut harus disembelih? Bagaimana jika direvitalisasi model pendistribusiannya?

Andai yang disembelih itu seekor sapi dan lima ekor kambing lainnya dijual kembali guna kepentingan pemberdayaan masyarakat tak mampu bagaimana? Daging dari seekor sapi tersebut didistribusikan kepada mereka yang berhak dan panitia. Kemudian kambing-kambing tersebut dijual kembali seharga dua juta rupiah per ekor. Hasil penjualan kambing tersebut kemudian diwujudkan dalam usaha bersama, misal, berupa pabrik tahu/tempe yang kelak memperkerjakan masyarakat tak mampu. Barangkali hal ini akan jauh lebih bermanfaat karena berkurban tak hanya berbagi nikmatnya protein hewani yang habis seketika, lebih dari itu, juga jadi sarana mengangkat masyarakat dari garis kemiskinan.

Tentu saja banyak polemik jika ide revitalisasi ini dilakukan. Pastinya, pertentangan dari aspek syariat akan mengemuka. Perlu ada pendalaman lebih menyeluruh dari berbagai aspek agar Idul Adha tak hanya berarti memotong hewan, melainkan memotong sifat kebinatangan kita semua. Selamat Idul Adha.

Sudah habis berapa tusuk sate kambing kemarin?

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s