Pembangunan tata dunia baru yang berkeadilan dan damai menjadi isu sentral pada penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika 60 tahun silam. Kemerdekaan bangsa-bangsa Asia-Afrika dari imperialisme dan kolonialisme berdengung kencang. KAA membawa inspirasi besar bagi bangsa-bangsa Asia-Afrika untuk menuntut kemerdekaan dan kesetaraan. Dalam kurun waktu 30 tahun sejak penyelenggaran KAA, sebanyak 78 negara di kawasan Asia-Afrika memeroleh kemerdekaan.

Dasasila Bandung (Bandung Declaration) menjadi bukti nyata adanya semangat merdeka. Penghargaan tinggi terhadap kemanusiaan, perdamaian, dan kemerdekaan setiap bangsa. Inilah semangat dasar dari KAA yang masih memunyai relevansi dengan situasi ekonomi-politik dunia kontemporer. Kerjasama antar negara anggota KAA bukan sekedar bisnis biasa, tapi lebih kepada solidaritas antar-bangsa.

Peringatan 60 tahun KAA yang sedang berlangsung saat ini merupakan momentum untuk menghidupkan kembali roh Dasasila Bandung. Kemerdekaan Palestina bukan satu-satunya isu penting yang harus dibahas, lebih dari itu, kondisi ekonomi-politik dan politik internasional yang asimetris perlu dapat perhatian juga. Negara di kawasan Asia-Afrika masih di bawah bayang-banyang imperialisme baru. Tak bisa dipungkiri, negara di Asia-Afrika mayoritas berada di bawah bayang-bayang kemiskinan, konflik, dan ketergantungan.

Human Development Report (HDR) 2014 yang dirilis Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dapat menjadi gambaran situasi mayoritas negara di kawasan Asia-Afrika. Human Development Index 2014 negara-negara Asia-Afrika mayoritas masuk kategori low human development. Ketidakadilan struktur ekonomi menjadi salah satu penyebab utama kesenjangan yang berdampak pada kemiskinan dan rendahnya HDI (HDR 2014).

Terhadap fenomena ketidakadilan global ini, Paus Francis I menegaskan, pelanggaran hak asasi manusia bukan hanya akibat terorisme, represi atau pembunuhan. Juga disebabkan oleh ketidakadilan struktur ekonomi yang menciptakan kesenjangan besar. KAA perlu menaruh perhatian serius fenomena ini dalam kerangka meningkatkan kesejahteraan dan perdamaian masyarakat di kawasan Asia-Afrika.

Tata Dunia Baru yang Damai dan Berkeadilan

Untuk menuju tata dunia baru yang damai dan berkeadilan tak semudah membalik telapak tangan. Perlu usaha dan kerja keras dari semua pihak. Dalam konteks kawasan Asia-Afrika, KAA bisa menjadi sarana untuk memperjuangkan hal tersebut dan mengimplementasikan Dasasila Bandung. Perjuangan yang harus dilakukan oleh negara Asia-Afrika sendiri secara kolektif.

Ada dua arena yang perlu direformasi dan direstrukturisasi guna mencapai tujuan tersebut, yaitu: politik internasional serta sistem ekonomi-politik dunia. Kedua arena tersebut memunyai peran signifikan terhadap situasi dan kondisi suatu negara.

Dalam arena politik internasional, struktur Dewan Keamanan (DK) PBB perlu untuk direformasi. Reformasi DK PBB bukan berarti menghapus sistem adanya anggota tetap dan tidak tetap beserta hak-haknya. Penghapusan sistem ini bisa menjadi bom waktu seperti yang pernah dialami oleh Liga Bangsa-Bangsa dulu. Anarkhisme politik internasional memerlukan adanya hegemonic stability untuk menciptakan balance of power.

Untuk melakukan reformasi tersebut, perubahan struktur keanggotaan DK PBB perlu diperjuangkan oleh negara anggota KAA. PBB perlu menambahkan jumlah anggota tetap DK PBB dengan mengakomodasi kekuatan negara Asia dan Afrika (lihat pidato Sukarno, To Build the World A New, 1960). DK PBB harus mencerminkan kekuatan-kekuatan politik dan ekonomi di tiap kawasan.

Kedua, perubahan konsep veto anggota tetap DK PBB. Sistem veto di DK PBB saat ini sangatlah tidak adil. Satu anggota tetap melakukan veto, DK PBB gagal ambil keputusan. Penambahan jumlah anggota DK PBB ini bertemali erat dengan sistem pengambilan keputusan. Perlu mengubah bagaimana veto bisa dilakukan, yakni berdasarkan perhitungan tertentu di antara anggota tetap DK PBB.

Tak bisa dipungkiri, struktur ekonomi-politik internasional kontemporer berjalan asimetris. Konsep Dunia Ketiga (berkembang) yang bersinonim dengan metropolis-satelit belum mati pasca perubahan tatanan politik dunia pasca keruntuhan Uni Soviet (Fakih, 2004). Negara Asia-Afrika mayoritas menjadi negara satelit yang memunyai ketergantungan tinggi terhadap negara metropolis (dunia pertama).

Keberadaan lembaga-lembaga keuangan dunia belum mewakili kepentingan negara berkembang. IMF dan Bank Dunia dinilai belum merepresentasikan kepentingan negara berkembang. Kebijakan yang mereka ambil seringkali menjerumuskan negara berkembang ke jurang krisis yang lebih dalam (Stiglitz, 2002).

Untuk mengatasi persoalan tersebut, negara anggota KAA perlu membentuk lembaga keuangan baru. Lembaga keuangan yang fokus terhadap kepentingan negara di kawasan Asia-Afrika. Pembentukan Compensatory Fund for Structural Convergence di Amerika Selatan bisa menjadi rujukan bagaimana negara Asia-Afrika bekerja mandiri lepas dari ketergantungan dengan gunakan asas solidaritas.

Peringatan 60 tahun KAA merupakan menjawab kebutuhan negara di kawasan Asia-Afrika: penciptaan tata dunia baru yang berkeadilan dan damai. Tanpa itu, hingar-bingar peringatan 60 tahun KAA hanya akan menjadi nostalgia saja. Tak mampu mengimplementasikan Dasasila Bandung secara nyata.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s