Sebuah Keputusan

Posted: 5 Juni 2014 in Politik
Tag:, , , ,

Tempat terpanas di neraka disediakan untuk mereka yang di saat krisis moral melanda tetap bersikap netral” – Dante

Duri dalam daging. Inilah peribahasa yang paling mendekati dengan fenomena Indonesia saat ini. Perlu mengeluarkan duri dalam tubuh dengan resiko tertentu atau tetap membiarkannya tertancap beserta konsekuensi-konsekuensinya. Pilihan yang sangat sulit, rumit, dan butuh kejelian dengan perhitungan “zero sum game”beserta rentetan peristiwa yang bakal menyertainya. Keputusan harus diambil, mencabut duri dalam daging tersebut atau tetap membiarkannya tumbuh dalam tubuh ini. Sikap harus tetap diambil di tengah pilihan dilematis dengan pertimbangan konsekuensi logisnya dan tanpa dibumbui slogan, “pejah-gesang ndherek panjenengan (hidup-mati ikut Anda)”.

Kisah dr. Cipto Mangunkusumo pada awal era 1940-an bisa menjadi contoh tentang bagaimana harus memilih ketika berada dalam posisi sulit seperti saat ini. Sikap dari dr. Cipto ini telah menginspirasi dan mengubah pendirian saya terhadap fenomena politik yang sekarang tengah berkembang di tanah air. Memilih pasangan Prabowo-Hatta atau Jokowi-Jusuf Kalla? Semuanya mengandung resiko dan, menurut pandangan awam saya, kedua kubu sepertinya berbau amis darah juga (secara langsung atau tidak). Namun, ada hal substansi lainnya yang bisa menjadi pembeda sehingga pilihan tersebut harus diputuskan juga.

Apa yang dilakukan dr. Cipto ketika itu? Pada 1940, Belanda jatuh ke tangan Jerman yang saat itu tengah berambisi menaklukan Eropa dengan semangat fasisme. Pejuang kemerdekaan yang berani menanggalkan semua atribut kebangsawanannya ini mengajukan pendapat yang sangat kontroversial saat itu, mengajak rakyat Indonesia untuk membantu Belanda. “[…]sekarang kita lebih baik tolong lawan kita itu, Holland…”, ujar dr. Cipto di majalah politik Nationale Commentaren yang dipimpin oleh Sam Ratulangi.

Sikap dr. Cipto ini mengundang kritik dari para pejuang kemerdekaan lainnya dengan ejekan “orang tua yang pikun.” Sutan Sjahrir menyebut sikap dr. Cipto tersebut tidak hanya dengan pertimbangan politik, juga kesehatannya yang memudar. Namun, konsistensi dr. Cipto dibuktikan dengan menjadi tuan rumah pembentukan dan penasehat Gerakan Anti Fasis (Geraf) yang diketuai Amir Sjarifuddin.

Jika dikaitkan dengan sepak terjangnya sejak awal abad ke-20, sikap dr. Cipto terhadap Belanda pada 1940 sangat bertolak belakang. Tak bisa dipungkiri, dr. Cipto merupakan salah seorang peletak dasar gerakan kemerdekaan modern di Indonesia. Sikap anti-kolonialismenya tak perlu diragukan lagi. Pemerintah kolonial pun tak tinggal diam terhadapnya sehingga pengasingan dan penjara sudah menjadi sesuatu yang biasa baginya.

“Perjuangan di Eropa sekarang itu ialah perjuangan antara demokrasi dengan totalitarianisme. Dalam perjuangan semacam itu tidak salah kita memilih, di manakah akan diletakkan perasaan simpati kita. Sudah tentu di pihak demokrasi,” tegas dr. Cipto di majalah Nationale Commentaren.

Apa kaitannya sikap dr. Cipto dengan situasi politik saat ini? Tak bisa dipungkiri, salah satu pasangan calon presiden dan calon wakil presiden 2014-2019 diindikasikan mengusung “fasisme” meski program yang diduga tersebut sudah dihapus dari manifesto partai. Tentu saja, penghapusan tersebut bukan berarti indikasi yang telah melekat bisa hilang begitu saja. Ditambah lagi, pasangan tersebut juga menggandeng ormas yang selama ini identik dengan aksi-aksi premanisme. Semakin kuat saja dugaan tersebut meski dalam hal ini perlu untuk telaah lebih lanjut.

Adanya dugaan fasisme tersebut membulatkan tekad untuk memilih demokrasi sebagai jalan meski penuh liku. Ini merupakan pilihan paling pahit yang harus diputuskan meskipun masa depan penuntasan keadilan bagi korban kekerasan Talangsari 1998, Aceh, Kerusuhan Mei 1998, dan Timor-Leste juga terancam. Pilihan yang pernah diutarakan dr. Cipto, dukungan perjuangan sebaiknya diberikan kepada pihak demokrasi meski rasanya sangat pahit agar terhindar dari potensi totalitarisme.

Neo-Local Strongmen

Segala kekerasan berasal dari kelemahan” – Jean Jacques Rousseau

Dalam pertarungan politik, dukungan dari sebuah elemen masyarakat menjadi hal sangat penting dan sangat ditunggu oleh para aktor. Begitu pula dalam Pilpres, dukungan dari elemen masyarakat menjadi oase dan harapan untuk bisa jadi pemenang. Deklarasi dukungan terhadap salah satu pasangan calon oleh beberapa ormas yang notabene sering diberitakan melakukan aksi premanisme menjadi petanda bagi masa depan. Tak bisa dipungkiri, sebuah dukungan tak akan gratis, harus ada harga yang harus dibayar jika berhasil.

Dukungan oleh ormas yang selama ini terkenal memaksakan kehendak tersebut bisa jadi penguat asumsi terhadap fasisme. Asumsi ini tentunya sangat rapuh karena butuh telaah mendalam lagi. Dalam hal ini, saya hanya memotret sebatas dari permukaan saja. Jika dikaitkan dengan aksi-aksi mereka selama ini, indikasi tersebut cukup nyata adanya. Pendapat tentang potensi munculnya fasisme pun menguat sehingga pilihan pun harus diputuskan dengan segaala resikonya.

Adanya pendapat, ormas yang selama ini sering melakukan aksi premanisme perlu dirangkul pada satu sisi bisa dibenarkan. Pembenaran ini bisa dilakukan dalam konteks, apabila sang pasangan calon menang maka ormas-ormas tersebut bisa dikontrol oleh sang big boss. Asumsinya, di antara mereka sudah ada kontrak politik bilamana sang pasangan calon berhasil melaju jadi RI 1 dan RI 2. Hal ini penting dilakukan untuk mencegah terjadinya konflik horisontal dalam masyarakat karena mereka bisa dikendalikan.

Pendapat tersebut pada dasarnya pernah dilakukan ketika rezim Suharto berkuasa. Suharto dalam menjaga kekuasaannya merangkul sejumlah jagoan di daerah agar bisa mengamankan semua kepentingan rezim terhadap masyarakat. Rezim Suharto menciptakan local strongmen sebagai perpanjangan tangan kekuasaannya. Saat itu, kekuasaan masih bersifat konvergen ke satu titik sehingga terjadi relasi bossism kepada elit nasional. Mereka mendapat keistimewaan atas tindakannya oleh rezim. Pendekatan ini memang bisa “meredam” potensi konflik, plus pendekatan struktural-fungsional yang dilakukan secara ketat. Namun, rezim Suharto sejatinya telah menciptakan bom waktu yang apabila meledak langsung menghancurkan semuanya tanpa sisa.

Runtuhnya rezim Suharto mengubah tatanan sosial-politik yang telah mapan. Para local strongmen pun berubah mengikuti arus kekuasaan yang bergerak divergen. Menurut Olle Törnquist, para local strongmen tersebut bermetamorfosis dengan menyatakan dirinya sebagai penguasa abadi di wilayah kekuasaannya. Tidak lagi terikat pada aturan “pusat” yang selama ini harus mereka ikuti dan patuhi. Lebih dari itu, menurut Vedi Hadiz, reformasi 1998 dibajak oleh predatory interest yang sudah dipelihara sejak lama oleh rezim Suharto sehingga terjadi polarisasi kekuasaan.

Pendapat Törnquist dan Hadiz ini bisa jadi pisau analisis fenomena keberadaan ormas yang sering melakukan aksi vandalisme yang nyata-nyata “bergabung” dengan salah satu pasangan capres dan cawapres. Local strongmen bisa jadi analogi untuk pimpinan ormas-ormas tersebut dari pusat hinggga daerah. Raja-raja kecil sedang hendak diciptakan dan mereka pun secara otomatis sedang merakit bom waktu terjadinya konflik sosial (lihat, van Klinken, 2007).

Situasi demikian tentu saja membahayakan demokrasi. Demokrasi pun bisa dibajak dan sejarah mencatat, hal tersebut sering terjadi. Pembajakan dilakukan secara legal dan demokratis. Naiknya Mussolini dalam tampuk kekuasaan di Italia merupakan contoh bagaimana demokrasi dibajak dengan sempurna oleh seorang diktator. Untuk itu, demokrasi harus dilindungi agar bisa terus bertahan.

So(e)-har(d)-to Jail

Untuk soal status kepahlawanan Suharto, sikap saya belum berubah dari empat tahun yang lalu. Hanya partai minim inovasi dan kreativitas saja yang tetap mengusung isu pentingnya mengangkat Suharto sebagai pahlawan nasional. ”Partai yang seperti ini adalah partai yang tidak inovatif, tidak kreatif. Mereka seperti mengais-ngais barang lama saja. Mereka tidak menyadari bahwa kemenangan masa lalu partainya dahulu bukan karena partainya hebat, tapi karena permainan kekuasaan, pemaksaan politik,” papar peneliti LIPI, Indria Samego di Republika.

Karena belum ada perubahan sikap, maka tulisan lama tentang usulan pengangkatan Suharto sebagai pahlawan nasional bisa dibaca di tautan berikut:

Suharto Layak Jadi Pahlawan?
Maaf, Ia Bukan Pahlawan

Referensi
Törnquist, Olle. “Dynamics of Indonesian Democratisation.” Third World Quarterly, Vol. 21, No. 3 (Jun., 2000)
Hadiz, Vedi & Robison, Richard. (2005). “Neo-liberal Reforms and Illiberal Consolidations: The Indonesian Paradox.” Journal of Development Studies, 41:2, 220-241

Van Klinken, Gerry. (2007). Communal Violence and Democratization in Indonesia Small Town Wars. Oxon: Routledge contemporary Southeast Asia series
Pilih Prabowo atau Jokowi? http://tikusmerah.com/?p=1280
http://historia.co.id/artikel/persona/1382/Majalah-Historia/Dokter_Antifasis
http://www.berdikarionline.com/tokoh/20120916/cipto-mangunkusumo-sang-pejuang-kesehatan-rakyat.html
http://politik.rmol.co/read/2014/04/29/153182/Akademisi:-Prabowo-Subianto-Potensial-Berlaku-Fasis-
http://indoprogress.com/2014/04/menghadang-fasisme/
http://www.tribunnews.com/pemilu-2014/2014/05/31/fpi-fbr-dan-pemuda-pancasila-deklarasi-dukung-prabowo-hatta
http://pemilu.tempo.co/read/news/2014/06/01/269581584/p-FPI-dan-FBR-Dukung-Prabowo-Mahfud-Mereka-Bisa-Lunak
http://www.tribunnews.com/pemilu-2014/2014/05/31/fpi-fbr-dan-pemuda-pancasila-deklarasi-dukung-prabowo-hatta
http://www.republika.co.id/berita/pemilu/berita-pemilu/14/03/19/n2oscr-usung-kembali-soeharto-parpol-lakukan-perjuangan-melawan-lupa
https://arieflmj.wordpress.com/2010/10/19/kasus-suharto-seharusnya-segera-dibawa-ke-pengadilan/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s