Paradoks Logika dan Takhayul

Posted: 30 Januari 2014 in Sosial-Budaya
Tag:, , ,

Ketika Rene Descartes menyatakan cogito ergo sum di abad pertengahan, saat itulah Eropa masuk ke era modern dengan rasio dan logika sebagai metode berpikir. Mereka mulai meninggalkan berbagai hal yang irasional dan tak masuk akal. Termasuk Rusia, juga terpengaruh oleh tradisi Eropa yang berubah. Namun, di tengah perubahan tersebut, beragam hal irasional dan tak logis masih terus ada, bahkan hingga sekarang. Potret sosial yang tak bisa dihindari karena merupakan fakta sosial.

Beragam pantangan dalam masyarakat Rusia masih terus ada dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini selayaknya yang juga terjadi di Indonesia. Beragam mitos masih tetap hidup sampai sekarang. Inilah realitas sosial di tengah masyarakat meski dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi sudah relatif maju. Masyarakat memunyai mekanisme tersendiri untuk menjaga keseimbangan dan memahami beragam realitas yang ada. Terutama realitas yang tak dapat dicerap oleh panca indera.

Seorang kawan merasa heran dengan kebiasaan orang Rusia ketika menyerahkan uang kembalian di sebuah toko. Penjual atau kasir tidak pernah menyerahkan atau menerima secara langsung uang dari/kepada pembeli. Menurut situs berita Russia Beyond The Headlines, sikap tersebut bukan tanda antipati. Masyarakat Rusia percaya, uang bisa menjadi penyalur energi kepada pemiliknya, termasuk yang negatif. Karena itu, saat menyerahkan uang, orang Rusia meletakkannya di tempat tertentu.

Dalam tradisi di Indonesia, terutama Jawa, ada mitos bila seorang gadis tak elok jika setelah Maghrib duduk atau berdiri di depan pintu. Kata orang tua, hal itu akan membuat sang gadis tak enteng jodoh. Mitos seperti ini juga ada di Rusia. Dalam masyarakat Rusia, seorang gadis hendaknya tidak duduk di sudut meja. Mereka percaya, seorang gadis yang duduk di sudut meja akan kesulitan mendapatkan jodoh. Para orang tua pun sering menghindarkan anak gadisnya duduk di sudut meja.

Takhayul dalam masyarakat Rusia tak hanya terkait nasib buruk. Ada juga takhayul yang menjadi petanda baik meski pada awalnya mengalami hal tak menyenangkan. Bagi orang Rusia, ketika menginjak kotoran anjing maka tak perlu segera mengumpat atau memaki-maki. Beberapa masyarakat Rusia percaya hal tersebut bisa menjadi petanda datangnya dewi fortuna, yakni keberhasilan atau keuntungan dalam hal keuangan. Jangan langsung menyalahkan nasib jika mengalami hal demikian!

Mitos atau takhayul ternyata masih terus hidup dalam masyarakat meski sudah dikatakan sudah era modern dengan senjata rasio dan logika. Dalam kehidupan banyak hal yang pada dasarnya susah untuk dipahami dengan nalar empiris. Menurut antropolog Levi Strauss, keberadaan mitos ini untuk mengatasi kontradiksi empiris yang tidak terpahami maupun tidak mampu dikendalikan dalam tataran simbolis. Oleh karena itu, mitos atau takhayul akan terus hidup dalam masyarakat sebagai metode untuk memahami “keajaiban” alam dan menjaga keseimbangan relasi sosial.

Iklan
Komentar
  1. zimam berkata:

    Ah mosookkk..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s