Pertemuan Sengkuni dan Machiavelli: Para Penjilat Harus Disingkirkan

Posted: 15 Desember 2013 in Politik
Tag:, , , , , ,

”Tidak ada cara lain untuk menjaga diri bebas dari penjilatan ini daripada memberi tahu semua orang bahwa Anda tidak akan marah jika mereka mengatakan hal yang sebenarnya.”(Machiavelli)

Sengkuni atau Shakuni, siapa yang tak mengenalnya? Saya rasa, banyak yang tahu dengan salah satu toko sentral dalam Kitab Mahabharata. Tokoh antagonis yang digambarkan memunyai sifat licik, culas, dan penjilat. Tentu saja, hobinya mengadu domba keluarga Kurawa dan Pandawa supaya mereka terus bertempur. Dari pertempuran itulah dia berharap meraih keuntungan untuk memeroleh kesaktian.

Sengkuni merupakan tokoh yang terus-menerus menghasut Kurawa untuk memusuhi Pandawa. Sengkuni juga sosok penjilat agar tetap mendapat perhatian lebih dalam lingkaran Kurawa. Tanpa itu, pengaruh Sengkuni dalam Kurawa tak akan besar. Andai Sengkuni tak ada, barangkali, perang bharatayudha antara Kurawa dan Pandawa tak akan pernah terjadi. Namun, dia tetaplah Sengkuni, reinkarnasi dari Dwapara, dewa yang bertugas menciptakan kekacauan di bumi.

Membicarakan Sengkuni yang notabene tokoh pewayangan, ada satu orang kontroversial lagi dalam jagat politik. Siapa lagi kalau bukan Niccolo Machiavelli, penganjur realisme politik. Politik yang mendasarkan diri pada bagaimana merebut, mempertahankan, dan mengakumulasikan kekuasaan. Bahasa sederhananya, Machiavelli merupakan bapak politik kekuasaan. Nasehat-nasehatnya dalam buku Il Principe (Sang Penguasa) dijadikan rujukan bagaimana realisme dan anarkhisme politik kekuasaan harus dihadapi oleh seorang raja.

“Seorang penguasa harus secerdik kancil dan seganas singa dalam menghadapi musuhnya. Jika tidak bisa secerdik kancil, dia harus seganas singa ”. Itulah sepotong nasehatnya kepada sang raja ketika kekuasaannya hendak dirongrong musuh. Artinya, Machiavelli menyarankan agar sang penguasa memilih ditakuti daripada dicintai demi mempertahankan kekuasaan yang ada dalam genggamannya.

Dari sini, antara Sengkuni dan Machiavelle tampak tak ada bedanya. Keduanya mengusung pendekatan kekuasaan dengan segala cara dalam meraih tujuan masing-masing. Sengkuni dan Machiavelli bak pinang dibelah dua. Keras, licin, dan ambisius dalam artian negatif. Namun, meski tampak sama, di antara keduanya memunyai perbedaan mencolok, bahkan saling bertolak belakang, yakni sikap terhadap penjilat.

Sengkuni, seperti paparan di atas, jelas seorang penjilat sejati. Bagaimana dengan Machiavelli? Dalam bukunya Il Principe Bab XIII, Machiavelli tegas nyatakan, “Para Penjilat Harus Dihindari.” Bab ini jarang disinggung ketika sedang mempreteli nasehat politik Machiavelli. Bagi Machiavelli, penjilat merupakan benalu yang harus disingkirkan dari lingkaran kekuasaan. Keberadaan penjilat hanya akan memperlemah sang penguasa karena apa yang diutarakannya pada dasarnya kepalsuan.

Ada pelajaran berharga yang bisa dipetik dari Sengkuni dan Machiavelli ini. Sengkuni terang-terangan merupakan gambaran tokoh antagonis yang penuh dengan kepicikan dalam meraih sesuatu. Seorang penjilat ulung, pengadu domba, dan penjual harga diri. Ia akan memperdayai siapa pun yang lengah.

Machiavelli meski mengajarkan tentang realisme politik yang ada, nasehatnya dalam hal ini masih menyisakan masalah “etika”. Seorang penguasa hendaknya percaya kepada orang-orang yang berani mengutarakan fakta, bukan penjilat bak Sengkuni. Para penjilat merupakan duri dalam suatu sistem politik. Keberadaannya hanya akan memperparah situasi.

Apa yang diutarakan oleh Machiavelli terkait penjilat ini sangat relevan dengan situasi politik kontemporer, bahkan sejak dulu. Kekuasaan cenderung atau banyak diisi para penjilat yang memanipulasi kabar dengan semangat Asal Bapak Senang (ABS) atau melakoni hal-hal yang tak patut demi sebuah kedekatan dalam lingkarang kekuasaan. Keluar dari lingkaran kekuasaan merupakan bencana baginya sehingga dengan segala upaya akan dipertahankan kedekatan tersebut.

Inilah konttradiksi Machiavelli. Di satu sisi ia dianggap sebagai “penggagas” kepemimpinan diktatorial nan bengis. Namun, di sisi lain, ia memperingatkan para penguasa atau pemimpin atas bahaya para penjilat yang bergentayangan dalam struktur maupun pinggiran kekuasaan. Kalau penjilat harus disingkirkan, maka dia harus dibuang pada tempatnya. 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s