Membangun Sistem Peringatan Dini Bencana Banjir

Posted: 17 November 2013 in Arbiter
Tag:, , , , , , , , ,

Banjir. Fenomena ini erat sekali dengan kehidupan masyarakat Indonesia, baik di perkotaan maupun perdesaan. Keamanan manusia perlu mendapat perhatian lebih akibat bencana alam banjir ini. Oleh karena itu, mitigasi bencana sangat diperlukan guna meminimalkan jatuhnya korban, terutama jiwa. Sebagai bagian dari mitigasi bencana, upaya pencegahan jatuhnya korban jiwa harus dilakukan. Sistem peringatan dini (early warning system) merupakan fase yang tak bisa dilewatkan dalam mitigasi bencana.

Banjir bukanlah peristiwa yang bisa diremehkan begitu saja meski sering terjadi. Banjir senantiasa membawa penderitaan bagi para korbannya. Berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB), banjir menduduki peringkat pertama bencana alam di Indonesia periode 1815-2013. Korban jiwa yang ditimbulkan oleh banjir juga lumayan besar, menduduki peringkat ke tiga. Oleh karena itu, segala upaya perlu dilakukan guna mencegah timbulnya korban dan untuk menjaga kemanan manusia.

bencana
Sumber: http://dibi.bnpb.go.id

Sistem peringatan dini terhadap datangnya banjir menjadi elemen sangat penting. Hasil penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pekerjaan Umum bisa digunakan untuk membangun sebuah sistem peringatan dini yang bisa digunakan masyarakat secara luas. Flood Forecasting and Warning System (FFWS) bisa menjadi alternatif dalam upaya mitigasi bencana banjir ini. Selain mudah pengoperasiannya, juga hemat biaya dan buatan anak bangsa.

Penggunaan FFWS ini lebih cocok untuk sistem peringatan dini terhadap banjir akibat luapan sungai atau waduk (meningkatnya debit air). Dalam artian, luberan air yang terjadi tidak muncul secara sporadis (bertahap). Daerah aliran Bengawan Solo, Sungai Brantas, dan Kali Lamong merupakan contoh lokasi tepat penggunaan FFWS sebagai instrumen untuk mitigasi bencana. Harapannya, penggunaan FFWS akan meminimalkan kerugian, terutama jatuhnya korban jiwa.

Mitigasi bencana sebagai sebuah rezim, juga harus mampu mengantisipasi jika terjadi banjir dengan kecepatan arus air yang cukup tinggi (debris). Contohnya ketika lahar dingin gunung berapi menerjang dan banjir bandang terjadi. Dua jenis banjir ini tentu saja cukup sulit untuk diperkirakan karena kejadiannya berlangsung cepat. Meski demikian, bukan tidak mungkin untuk mengantisipasinya dengan bentuk peringatan dini kepada warga yang wilayahnya berpotensi terkena terjangan banjir debris.

Banjir debris dapat diantisipasi dengan memberdayakan sumber daya dalam masyarakat dan kearifan lokal yang ada. Pada prinsipnya, sistem peringatan dini untuk banjir debris berbasis pada pemberdayaan masyarakat. Masyarakat memegang peran penting sebagai penyebar kabar dari pusat informasi yang telah ditentukan. Kerjasama antar elemen masyarakat menjadi kunci keberhasilan sistem peringatan dini ini. Menurut hasil penelitian Balitbang PU, Sistem peringatan dini banjir debris berjalan dengan tahapan sebagai berikut:
1. Informasi prakiraan banjir debris diberikan dari stasiun pemantau di hulu ke stasiun induk berdasarkan data curah hujan dan pengamatan visual pada alur sungai melalui radio;
2. Informasi diterima stasiun induk, diteruskan ke pos-pos pemantau lainnya di sepanjang sungai;
3. Informasi yang diterima pos-pos pemantau di sepanjang sungai diteruskan ke warga yang berada di daerah bahaya melalui media sirine manual dan/atau kentongan;
4. Mendengar tanda bahaya dari sirine dan/atau kentongan, semua warga di daerah bahaya menyelamatkan diri melalui jalur evakuasi yang sudah ditentukan.

Banjir tak pernah mengenal wilayah, apakah perkotaan atau perdesaan. Sistem FFWS dan peringatan dini banjir debris berbasis masyarakat, menurut penulis, kurang cocok bila diterapkan di perkotaan yang mana memunyai karakteristiks tersendiri. Banjir yang terjadi di wilayah perkotaan, pada umumnya, terjadi akibat kompleksitas tata ruang kota. Jakarta bisa menjadi contoh dalam hal ini. Banjir di Jakarta, menurut pendapat beberapa ahli, tak hanya disebabkan oleh air kiriman dari hulu Ciliwung. Juga banyak disebabkan oleh minimnya area serapan di ibukota ini.

Sumur resapan merupakan salah satu alternatif untuk mengurangi dampak banjir di perkotaan. Selain itu, juga memunyai keuntungan lain, yaitu sebagai sarana konservasi air. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi bisa dimanfaatkan dalam hal ini. Hasil kajian Pusat Litbang Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum bisa menjadi contoh bagaimana membangun resapan yang multi-fungsi. Berfungsi untuk mengurangi dampak banjir dan juga sebagai sarana konservasi air tanah di tengah rapatnya bangunan.

Ketiga metode di atas merupakan bagian integral dari rezim mitigasi bencana, terutama terkait upaya bencana banjir. Ketiganya perlu diterapkan secara simultan dengan mempertimbangkan karakteristik kewilayahan, potensi bencana banjir, dan sumber daya yang tersedia. Upaya ini perlu ditempuh agar keamanan manusia terjaga dengan tetap bisa bersahabat dengan air tanpa harus melakukan rekayasa sedemikian rupa di tengah potensi bencana yang ada.

Referensi:
http://dibi.bnpb.go.id/DesInventar/dashboard.jsp
http://123.231.252.9/index.php/hasil-litbang/354-sumur-resapan
http://123.231.252.9/index.php/hasil-litbang/169-flood-forecasting-and-warning-system-ffws
http://123.231.252.9/index.php/hasil-litbang/337-ffws
http://123.231.252.9/index.php/hasil-litbang/210-sistem-peringatan-dini-banjir-debris-berbasis-masyarakat

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s