Integrasi Teknologi dan Pemberdayaan Masyarakat

Posted: 15 November 2013 in Arbiter
Tag:, , , , , , , , ,

Secanggih apa pun teknologi yang digunakan, hal tersebut tak akan berguna jika penggunanya (masyarakat) tidak memunyai kesadaran untuk memeliharanya. Inilah asas yang berlaku usaha penggunaan teknologi tepat guna yang langsung bersinggungan dengan masyarakat. Tanpa adanya pemberdayaan masyarakat, infrastruktur secanggih apa pun yang sudah ada hanya akan menjadi monumen tanpa arti.

Dalam sebuah proyek, aspek sosial seringkali tidak mendapatkan porsi yang semestinya. Aspek teknis sering mendapatkan perhatian utama meski sdah disaadari bahwa masyarakat merupakan subyek dari proyek tersebut. Pengabaian aspek sosial ini sering menyebabkan infrastruktur yang telah dibangun menjadi tak berdaya guna sesuai rencana dari sisi masa pemakaian. Apalagi jika hal tersebut menyangkut hajat hidup orang banyak, seperti pengadaan air bersih.

Pengalaman memberi pelajaran berarti dalam hal ini terkait pembangunan sarana air bersih bagi masyarakat. Pelibatan masyarakat dengan memperhatikan aspek sosial dan budaya memegang peran penting suksesnya proyek tersebut. Dalam hal ini, penggunaan teknologi mikrohidro menjadi pilihan dengan pertimbangan dukungan aspek geografis. Untuk membangun beragam sarana dan prasarana yang ada, hal itu bukanlah sesuatu yang sulit. Namun, bagaimana pemeliharaannya setelah proyek selesai menjadi tantangan tersendiri. Di sini lah pemberdayaan masyarakat akan tampak perannya secara nyata.

Proyek pengadaan air bersih tersebut dilaksanakan di salah satu desa wilayah Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Air bersih cukup sulit didapatkan meski sungai mengalir membelah desa. Namun, air sungai tersebut tak layak untuk konsumsi. Menurut cerita beberapa tokoh masyarakat setempat, beberapa tahun sebelumnya sudah ada pembangunan sarana air bersih. Namun, ketiadaan “kontrak sosial” dalam masyarakat menyebabkan infrastruktur yang ada tak berfungsi maksimal, bahkan rusak. Dari pengalaman tersebut, sebelum proyek dikerjakan, survey sosial dengan pendekatan partisipatoris dilakukan. Bahkan, ketika pembangunan, pendekatan-pendekatan terus berlangsung agar lahir sebuah “kontrak sosial” yang nantinya jadi pedoman bagi masyarakat.

Paparan pengalaman di atas menegaskan, aspek manusia memunyai peran penting dalam pembangunan infrastruktur. Infrastruktur yang hanya mengandalkan kecanggihan teknologi hanya akan menjadi monumen karena tidak melibatkan manusia sebagai subyek dari pembangunan. Artinya, masyarakat yang hanya dijadikan obyek dari pembangunan, rasa memiliki dari sarana yang ada akan rendah. Karena itu, aspek teknologi dan manusia harus menjadi kesatuan untuh agar rencana yang sudah dibuat bisa berjalan dengan semestinya.

Pengarusutamaan Gender
Persoalan kesataraan gender merupakan masalah yang cukup kompleks karena hal ini berkaitan dengan sistem nilai dalam masyarakat dan peraturan negara. Tak bisa dipungkiri, semua proyek yang bersifat pekerjaan umum pun tak luput dari persoalan ini. Begitu pula proyek pengadaan air bersih yang menggunakan teknologi mikrohidro dan pemberdayaan masyarakat dalam paragraf di atas. Aspek gender menjadi salah satu perhatian utama dalam kerangka pemberdayaan masyarakat.

Dalam proyek pengadaan air bersih tersebut, perempuan mendapatkan peran cukup besar dalam setiap prosesnya. Perempuan mendapatkan porsi lebih karena mereka yang nantinya menjadi pihak yang akan menggunakan fasilitas tersebut dengan intensitas tertinggi. Meniggalkan perempuan dalam proses berarti sedang menanam bom waktu yang akan meledak kapan saja. Karena itu, perempuan dalam setiap pengerjaan proyek pekerjaan umum pada dasarnya memunyai peranan vital yang sayangnya hal tersebut sering diabaikan.

Meski demikian, aspek sosio-kultural tetap menjadi rujukan dalam upaya pengarusutamaan gender. Keterlibatan dalam acara pengajian rutin, arisan, dan PKK di desa lokasi proyek menjadi metodenya. Cara yang sebenarnya biasa tapi memunyai dampak cukup besar. Dari pertemuan-pertemuan tersebut, beberapa “kontrak sosial” bisa tercapai, perlahan tapi pasti. Hal ini sangat penting mengingat perempuan lah (di lokasi proyek) yang akan terus-menerus bersentuhan dengan infrastruktur yang ada.

Pengarusutamaan gender ini merupakan bagian integral dari pemberdayaan masyarakat. Suatu proyek yang mengabaikan aspek kesetaraan gender, dalam jangka panjang, tak akan memberi arti banyak kepada masyarakat. Teknologi, pemberdayaan masyarakat, dan pengarusutamaan gender merupakan bagian integral dalam suatu pembangunan infrastruktur untuk kepentingan umum.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s