Partai Politik

Posted: 13 November 2013 in Politik
Tag:, , , , , ,

Beberapa hari yang lalu, iseng-iseng membuka laman partai politik (parpol) yang sekarang duduk di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Saya membuka satu per satu, terutama soal visi-misi dari parpol tersebut. Tak lupa pula membuka laman beberapa parpol di Rusia untuk sekedar membandingkannya. Saya sangat terkejut karena isi dari laman parpol di Indonesia dan Rusia beda jauh. Mereka lebih detail dalam memaparkan visi-misi dengan program kerja yang cukup rinci.

Setelah membaca satu per satu, ada kesimpulan yang saya buat: “mengidentifikasi parpol di Indonesia merupakan tantangan tersendiri. Sangat sulit karena semuanya hampir sama.” Hampir sama karena semuanya berbicara tentang demokrasi dan kesejahteraan rakyat tanpa ada penjelasan bagaimana mencapai cita-cita tersebut. Abstrak dan sangat lentur bak pasal subversif yang dulu sering digunakan oleh rezim Suharto untuk memenjarakan lawan-lawan politiknya.

Bagi peneliti atau peminat politik Indonesia, “kesamaan” program kerja parpol ini merupakan keanehan dalam sebuah negara demokrasi multi-partai. Kalau mau kasar, mengapa Indonesia tak menerapkan partai tunggal saja? Multi-partai seperti saat ini hanya sia-sia belaka karena pada dasarnya sama. Mereka hanya meneriakkan demokrasi, hak asasi manusia, kesejahteraan rakyat, dan anti-korupsi. Bagaimana cara mereka mengimplementasikannya? Bisa dikatakan, konstelasi dan kontestasi politik yang sedang berlangsung merupakan sumber jawaban dari pernyataan tersebut.

“Saya bingung dengan karakteristik dan program kerja parpol di Indonesia. Semuanya sama. Bahkan, antara yang tertulis dengan praktek politiknya bertentangan,” tutur seorang kawan yang sekarang jadi peneliti politik.

Apa yang dikatakan seorang kawan di atas ternyata benar adanya. Laman parpol di Rusia jadi pembanding. Alamak, mereka menuliskan program kerjanya cukup rinci dan satu sama lain memunyai perbedaan jelas. Artinya, tiap pilihan dalam pemilihan umum akan membawa konsekuensi tersendiri. Ada partai yang begitu detail menjelaskan program kerjanya pada tiap bidang. Keluarga, politik luar negeri, keamanan nasional, perumahan, pensiun, pendidikan, kesehatan, dan lain-lain mereka jabarkan. Alhasil, menurut pendapat saya, andai inginkan pensiun memadai maka kita harus memilih partai “A”, bukan partai “B”.

Koalisi yang mereka bangun pun tak asal-asalan. Silakan amati potret Pemilu 2004 dan 2009. Beberapa partai mengajukan pasangan presiden dan wakil presiden dalam Pemilihan Presiden. Logikanya, mereka mengajukan calon karena memunyai visi-misi berbeda. Anehnya, setelah presiden terpilih, partai-partai yang awalnya bersaing karena memunyai visi-misi beda, akhirnya bergabung juga. Tak peduli dengan ideologi atau visi-misi yang bertentangan, asalkan bisa masuk dalam lingkaran kekuasaan.

Semoga Tuhan memberkahi sistem politik Indonesia saat ini. Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s