Sumpah Pemuda, Dulu dan Kini

Posted: 29 Oktober 2013 in Politik
Tag:, , , , , , ,

Sumber: balibackpacker.blogspot.com

Tiap 28 Oktober, gegap gempita peringatan Sumpah Pemuda selalu hadir. Optimisme atas kebangkitan pemuda bermunculan dengan Kongres Pemuda II 1928 sebagai titik tolaknya. Tak ada yang salah dari peringatan ini. Namun, selayaknya kaum muda juga harus lebih kontekstual dalam melihat tantangan zaman. Jika tidak, Sumpah Pemuda hanya akan menjadi epos yang sekedar menjadi seremoni belaka.

Potret peringatan Sumpah Pemuda bisa dikatakan hanya seremoni di tengah ilusi dari hegemoni kekuatan besar yang mencengkeram negeri ini. Sumpah Pemuda perlu diletakkan kembali dalam konteks membangun dan memperkuat bangunan dasar negara-bangsa. Tak bisa lagi kita bernostalgia dengan hasil Kongres Pemuda II 1928 yang hasilkan Sumpah Pemuda tersebut. Perlu dikembangkan semangat lain yang lebih kontekstual dan menyentuh persoalan dasar saat ini.

Pada 1928, Sumpah Pemuda lahir sebagai manifestasi perjuangan merebut kemerdekaan. Sumpah Pemuda melahirkan tekad bersama agar perjuangan yang berserakan tersebut menjadi satu entitas dengan identitas bersama: bahasa, bangsa, dan tanah air. Namun, persoalan yang dihadapi pemuda masa kini sangat berbeda dan samar adanya: upaya homogenitasi dan disintegrasi secara halus. Oleh siapa? Tentu saja kekuatan modal-finansial yang hendak menjadikan Indonesia sebagai entitas monolitik sehingga menyuburkan disintegrasi.

Proyek besar tersebut pada dasarnya terus berjalan dan penguasa senantiasa menjadi “pendukung” utamanya. Pemuda pun senantiasa diberikan suguhan melenakan supaya menjadi insan apolitis dengan budaya pop di tengah kompleksitasnya permasalahan yang ada. Selain itu, para pemuda, dan seluruh rakyat Indonesia, dibuat untuk menjadi manusia satu dimensi dengan mencabut akar sosial serta budaya.

Inilah tantangan besar pemuda zaman sekarang. Lawan bukan lagi tentara bersenjata yang siap menyerang setiap saat, tapi pengetahuan yang tak bebas nilai. Pengetahuan yang bisa menghancurkan aspek sosial, kultural, dan politik sebagai warga negara. Perlawanan harus terus digencarkan dengan pengetahuan yang membebaskan, bukan membelenggu. Termasuk, merobohkan bobroknya birokrasi yang menjadi lintah bagi nasionalisme.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s