Kisah Sepuntung Rokok (1)

Posted: 12 Agustus 2013 in Arbiter
Tag:, , , , , , , , , , , , , , , ,

Berhenti merokok terlihat sebagai sesuatu yang sangat mudah. Bagi bukan ahli hisap, berhenti merokok terlihat sebagai sesuatu hal yang ringan: stop rokok! Memang, secara kasat mata begitu adanya. Namun, bagi seorang perokok, berhenti merokok merupakan suatu perjuangan tersendiri. Banyak pertaruhan yang harus dilakukan karena harus kehilangan kenikmatan saat menghisap asap tembakau dan kebiasaan organ tubuh yang terlibat dalam aktivitas merokok. Kalau katanya band DEWA, ”hidup adalah perjuangan”. Haishhh…..

Perkenalkan, saya adalah seorang perokok aktif sejak sembilan tahun silam. Awalnya per hari habis 1-2 batang rokok saja, bahkan 1-2 sedotan hasil join sama teman. Seiring perjalanan waktu, “prestasi” saya pun meningkat bisa menjadi 1-2 bungkus rokok per hari. Tak ada waktu bagi tangan untuk menganggur tanpa sebatang rokok. Jemari tangan terus bermain dan bibir tanpa henti komat-kamit menyedot rokok. Sungguh nikmat, apalagi ditambah secangkir kopi panas. “Surga dunia”, begitulah kata banyak teman. Harus diakui, memang begitulah adanya, sangat melenakan.

Tak bisa dipungkiri, rokok adalah sahabat setia yang menemani kemana pun pergi. Apalagi klo sedang ada masalah dan stress, rokok pun tak pernah berhenti tersulut. “Supaya bisa lebih tenang,” itulah adanya, sebuah apologia. Hal paling dipikirkan setelah bangun tidur bukanlah hutang pekerjaan yang belum selesai atau lainnya, tapi “apakah masih ada stok rokok untuk bisa ku hisap pagi ini?” Bahkan, momok paling menakutkan ketika bulan puasa tiba bukanlah haus atau lapar, tapi diharamkannya rokok. Mau tak mau harus tetap dijalani, dan berbuka pun bukan dengan makanan/minuman yang manis, cukup air putih ditambah sebatang rokok. Nikmat sekali.

Dalam jerat nikotin ini, saya pun sering bertanya kepada kolega perokok lainnya tentang tips untuk berhenti merokok. Terutama kolega yang berhasil menghentikan kebiasaan merokoknya dengan sukses. Sayangnya, semua jawaban yang saya peroleh tak ada yang memuaskan. Mayoritas berkata, “dokter anjurkan berhenti merokok ketika saya sakit bla..bla..bla..” Alhasil, saya pun tak tertarik untuk melanjutkan pertanyaan tentang tips berhenti merokok karena semuanya akibat resep dari dokter. Saya inginnya benar-benar tips karena kesadaran atau sesuatu di luar alasan kesehatan. Yah, belum ketemu juga sampai saat ini.

Perlu Tindakan Represif

Ketika datang kesempatan ke luar negeri, kesempatan untuk bisa berhenti merokok semakin besar, minimal berkurang lah. Benar adanya, frekuensi merokok pun berkurang drastis akibat faktor paksaan adanya aturan dilarang merokok dalam ruangan. Siapa yang mau dalam bekapan musim dingin nan ganas berlama-lama di luar ruangan? Bunuh diri namanya kalau hanya demi sebatang rokok harus kedinginan. Suhu ekstrem ternyata kurang punya daya paksa meskipun secara kuantitas berhasil menurunkan frekuensi merokok.

Dalam usaha berhenti merokok, teori sosial posmodern ala Foucault tak bisa digunakan. Hukuman tanpa menyentuh badan bak penjara panoptik tak bisa diterapkan untuk mengobati pecandu nikotin ini. Tidak bisa, tidak! Hukuman/paksaan tersebut harus langsung menyentuh badan agar lebih terasa efeknya (jangan artikan harfiah hal ini). Paksaan yang membuat tubuh merasa sakit akan lebih efektif mengurangi, bahkan menghapuskan kecanduan terhadap rokok. Penegakkan hukum yang gelap mata oleh aparat negara bisa menjadi solusi konkret untuk hal ini. Jangan lupa, naikkan harga rokok sedemikian rupa agar para perokok berpikir ratusan kali sebelum membelinya.

Inilah fakta yang saya hadapi dalam dua bulan terakhir di negara berbeda. Aturan ketat terhadap perokok dan harga rokok yang selangit merupakan kombinasi sempurna untuk memaksaku berhenti merokok. Tentu saja, plus dorongan dan paksaan dari orang-orang tercinta untuk segera mengakhiri kebiasaan merokok ini. Berat booo…sungguh tak pernah terbayangkan sebelumnya terkait siksaan yang harus ku hadapi di fase-fase awal, sekitar 1-2 minggu pertama. Pernah suatu ketika mencoba merokok seteklah tiga hari tak hisap sama sekali. Bumi terasa kebolak-balik, kepala pusing, bak ada gempa hebat sedang melanda plus perut mual. Rokok sisa dua batang pun ku hancukan bak mematahkan ranting kering yang jatuh dari pohon. Ngaplo!

Siksaan ketika memutuskan berhenti merokok memang sangat berat. Dalam seminggu lebih menjadi orang limbung akibat harus akhiri kebiasaan jemari yang senantiasa sibuk dengan sebatang rokok dan bibir yang terus mengecap asap tembakau. Namun, ini bukanlah akhiran karena perjuangan masih panjang. Semoga saja bisa terus kuat seperti ini, minimal bisa mengurangi secara drastis dan spartan. Usaha ini pun mengingatkan ku pada pernyataan seorang kawan ketika bersantai di sudut kantin kampus tujuh tahun silam. “Ada dua keputusan besar dalam hidupku yang pernah ku ambil, salah satunya yaitu memutuskan untuk berhenti merokok”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s