Bertuhan Tanpa Pedang (1)

Posted: 11 Juli 2013 in Sosial-Budaya
Tag:, , , , , , ,

Sumber: fabiolamaria.com

Bertuhan tanpa pedang, apakah mungkin? Inilah pertanyaan yang pertama kali muncul dalam benak ketika menemukan ide ini. Setelah merenung beberapa saat, jawaban itu pun terpenuhi: sangat mungkin. Meski demikian, kondisi tersebut bersyarat bukan sekedar situasi aksiomatik di tengah gemuruh semangat theisme yang menderu. Sangat mungkin terjadi apabila semua pihak bersedia melakukan pembaharuan selayaknya ketika memecah kebuntuan dengan berijtihad.

Saya dalam hal ini tidak hendak menghakimi agama tertentu, melainkan mencoba mengurai benang kusut “katastrofi” keagamaan. Sebuah perdebatan tanpa akhir tentang kebenaran dan repetisi kisah-kisah kepahlawanan yang penuh dengan darah. Dalam hal ini, saya tak hendak membahas soal kebenaran karena sudah di deklarasikan Nietzsche, “tuhan telah mati. Dibunuh ramai-ramai di tengah pasar.” Artinya, absolutisme tentang kebenaran telah “mati”, adanya hanyalah kebenaran relatif berdasarkan perspektif tertentu. Ini era posmodernisme, tinggalkan positivisme!

Tak bisa dipungkiri, kita sering mendengar beragam kisah kepahlawanan terkait para pejuang agama. Entah itu di era para Nabi ketika hidup atau setelahnya. pendengar pun terpanah mendengar cerita gagah penuh epik kepahlawanan, dan tentunya berdarah. Kisah tersebut direproduksi secara kontinyu sehingga menjadi pengetahuan baru:”pedang bukanlah jalan kekerasan, tapi penegakkan”. Inilah penjara panoptik pengetahuan yang memberikan justifikasi bahwa kekerasan adalah sah meskipun tindakan tersebut tanpa dilandasi latar belakang sejarah yang mumpuni. Celaka itu namanya.

Di sisi lain, ada pula yang mengajarkan perdamaian tanpa secara radikal, nir-kekerasan. Sayangnya, penyebaran agama ini juga berlumuran dengan darah. Banyak penduduk asli di wilayah tertentu dibinasakan untuk memenuhi hasrat kapital. Padahal, mereka juga punya misi suci dalam pengembaraan jauh, penyebaran agama. Ajaran nir-kekerasan ternyata tak mempan karena motif ekonomi jauh lebih menguasai aspek manusia. tak pelak, seorang mantan pemuka agama bernama Feurbach mengritik ajarannya. Oleh Karl Marx kemudian dikembangkan lebih jauh dengan proposisi, “agama adalah candu”.

Epos tentang perang sengit antar pemeluk agama pada sebelum abad pertengahan menjadikan fenomena beragama di dunia layak dikritisi. Masing berargumen bahwa mereka benar. Tentu saja mereka berkata demikian dengan pedang terhunus. Jika tidak, mereka hadir dengan sejarah penuh darah yang kemudian diagung-agungkan. Ini bukanlah usaha penyadaran tentang agnotisme, bahkan atheisme. Sekedar untuk mendekonstruksi wacana yang selama ini berkembang terkait beberapa kepercayaan yang ada dalam masyarakat. Tanpa dekonstruksi, wacana kekerasan tersebut akan tetap hadir dalam kehidupan kita dan menjadi hantu bagi kemanusiaan.

Bersambung…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s