Mesin Pembunuh Itu Bernama UN

Posted: 19 Mei 2013 in Arbiter
Tag:, , , , , , , ,

“Berita bagus Pak, polisi tidak tahu. Tidak juga ayahnya. Semua orang akan berpikir ini bunuh diri, Pak. Penyebab kematian yang ditulis adalah tekanan hebat di rongga pernafasan yang menyebabkan sesak. Bodoh sekali mempercayainya. Mati tercekik di sini (leher). Padahal selama empat tahun tertekan di sini (pikiran)! Bagaimana? Yang ini memang tidak dilaporkan. Para mahasiswa ini juga punya hati, Pak. Bukan mesin yang bisa terus menahan tekanan di sini (pikiran). Andai memahami, mereka akan tahu, ini bukan bunuh diri, ini pembunuhan.”

Inilah pernyataan Rancho kepada Prof. Viru ketika pemakaman Joy Lobo, mahasiswa gantung diri di kamarnya akibat karyanya yang tidak dihargai oleh sang professor dalam film “3 Idiot”. Sang professor begitu saklek sehingga kretaivitas mahasiswa dalam film tersebut terbunuh. Mereka hanya diangggap subyek dari pendidikan yang tak memberi ruang untuk berekspresi. Pendidikan yang hanya menjadikan siswa sebagai baskom ilmu pengetahuan, bukan pembebasan atau pencerahan.

Sepenggal cerita daalam film “3 Idiot” ini ternyata bisa menggambarkan ganasnya dunia pendiidikan di tanah air. Apalagi kalau bukan mesin pembunuh bernama ujian nasional (UN) yang hasil akhirnya sangat menentukan “masa depan” sang siswa. Perjuangan selama tiga tahun hanya ditentukan sehari tanpa melihat proses yang sebelumnya dilakukan. Paling mudah bisa dikatakan, “apa kata dunia jika tidak lulus UN?”

Fani Wijaya, siswa kelas 3 di sebuah SMP di depok ini terus dilanda kegamangan sembari hari yang menentukan, pengumuman hasil UN. Barangkali, akibat tidak tahan dengan tekanan di pikiran, Fani pun nekad meniru apa yang dilakukan Joy Lobo. Ia memutuskan mengakhiri hidupnya di selembar kain yang mencekik lehernya pada Sabtu 18 Mei 2013. Sebelumnya, pada 4 April 2013, seorang siswa SMK di Brebes Jawa Tengah melakukan hal sama akibat stres akan menghadapi UN. Sungguh tragis jika tragedi ini benar-benar karena UN yang sangat menghantui setiap siswa kelas 3 SMP dan SMU/SMK.

“Ternyata UN berdampak negatif, menghilangkan kehidupan siswa,” ujar Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait.

Pada 2010, siswa SMA 1 Pancasila, Wonogiri Virginia Endah menenggak cairan pengharum ruangan setelah dia dinyatakan tidak lulus UN. Nyawanya tertolong karena sang nenek mengetahui sehingga bisa segera dibawa ke rumah sakit. Wahyu Ningsih, siswa SMKN 3 Jambi meregang nyawa setelah minum racun pestisida akibat tidak lulus UN. Padahal riwayat pendidikan Wahyu Ningsih selama sekolah sangat bagus, jadi salah satu siswa berprestasi. Namun, hasil UN harus mengubur semua cita-citanya yang membuatnya harus mengakhiri hidupnya pula.

Di sisi lain, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M Nuh pernah menyatakan, siswa yang melakukan bunuh diri tersebut jangan selalu dikaitkan dengan UN. Bisa juga akibat masalah lain yang membuat mereka tertekan dan bunuh diri. Namun, faktanya, mereka yang bunuh diri tersebut sebelumnya tertekan dan ketakutan dengan UN.

Sepertinya sangat pas jika menggunakan kata-kata Rancho kepada Prof. Viru untuk menganalisis fenomena tersebut. Memang, Fani, Wahyu Ningsih, dan Deni tidak dibunuh secara langsung, tapi dia terpaksa mengakhiri hidupnya akibat tekanan pikiran. Inikah model pendidikan yang hendak kita tempuh dengan meracuni siswa dengan tekanan yang sangat hebat? Bukan kah tujuan utama pendidikan untuk menyempurnakan peradapan dan pembebasan masyarakat, bukan sekedar orang-orang patuh? Faktanya bisa kita lihat di lingkungan sekitar, terutama siswa yang sedang menunggu nasibnya di depan mesin pembunuh bernama UN.

Referensi:

http://us.metro.news.viva.co.id/news/read/413944-takut-tak-lulus-un–siswi-smp-ini-pilih-gantung-diri
http://edisicetak.joglosemar.co/berita/banyak-siswa-bunuh-diri-un-jalan-terus-14289.html
http://video.tvonenews.tv/arsip/view/68583/2013/04/05/stress_jelang_un_siswa_smk_tewas_gantung_diri.tvOne
http://jakarta.okezone.com/read/2013/05/18/501/809096/komnas-anak-un-selalu-mencekam-bagi-siswa
http://www.tp.ac.id/berita-pendidikan/siswa-bunuh-diri-jangan-salahkan-un

Iklan
Komentar
  1. za berkata:

    apa bedanya UN sama sidang akhir mahasiswa ?
    bagi saya gak ada bedanya UN tidak salah, proses tersebut mu tidak mau harus di jalani, sebagai uji kelayakan suatu lembaga pendidikan dalam mendidik…sekg pertanyaan saya orientasi penilaian itu bagaimana ? orientasi terhadap hasil akhir or proses ?

    • arief setiawan berkata:

      Komparasinya ga apple to apple. Mahasiswa jelas, pendidikan tinggi. Beda dengan SD-SMU yg berstatus pendidikan dasar-menengah. Pola pikir subyek pelaku di dua institusi ini juga beda. Orientasi penilaiannya? Kembalikan saja seperti zaman dulu, semuanya pasti lulus. Tentu saja, klo ingin bersekolah di sekolah2 tertentu ada prasyaratnya dan itu harus dikejar oleh sang murid dengan bantuan guru…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s