Sumber: ictwatch.com

Siapa yang tak tahu skandal water gate yang memaksa Presiden Amerika Serikat Richard Nixon mundur dari jabatannya? Skandal politik terbesar abad ke-20 ini sangat populer dan sering jadi perbincangan sampai sekarang. Nixon yang takut kebobrokannya terungkap akhirnya menyerah sebelum Kongres AS memutuskan untuk melakukan impeachment terhadap sang presiden. Dibalik skandal ini, ada sosok menarik yang sering luput dari perhatian, yaitu sang informan atau narasumber dua wartawan Washington Post Carl Bernstein dan Bob Woodward: Deep Throat.

Tulisan ini bukan untuk mengulas kembali skandal water gate yang kesohor dan mengguncang dunia. Lebih pada sang nara sumber Deep Throat yang penuh kesadaran dan bertanggungjawab memberikan informasi akurat terkait kecurangan Presiden Nixon. Keteguhan hati ketiga orang ini (Deep Throat, Carl Bernstein, dan Bob Woodward) yang selama 33 tahun menyimpan rahasia siapa sebenarnya Deep Throat layak diapresiasi. Namun, tiga tahun sebelum kematiannya (2005), Deep Throat akhirnya membuka jati dirinya, yaitu Mark Felt yang saat skandal water gate menyeruak ke permukaan menjadi orang nomor dua di Federal Bureau of Investigation (FBI).

Skandal water gate muncul setelah upaya kotor Presiden Nixon yang melakukan penyadapan terhadap kantor Partai Demokrat. Namun, operasi di gedung water gate pada 16 Juni 1972 alami kegagalan karena ketahuan dan pelakunya ditangkap. Presiden Nixon yang berjuluk “tricky dicky” (Dicky yang licin) ini pun membuat klarifikasi. Namun, presiden yang terkenal dengan “benteng” para penjilat serta haus kekuasaan ini pun harus mengakui kerja keras Barnstein dan Woodward. Skandal politik ini pun akhirnya terungkaap berkat jasa besar Deep Throat yang terus-menerus memberikan informasi eksklusif terkait keterlibatan petinggi Gedung Putih di dalamnya.

Dalam konteks kekinian, apa yang dilakukan Deep Throat telah menginspirasi banyak orang untuk melakukan hal sama. Memberikan informasi “rahasia” ke publik dengan cara virtual via media sosial. Fenomena seperti ini pun juga membanjir di Indonesia. Entah itu melalui twitter atau facebook atau media sosial lainnya. Mereka berkoar-koar tentang sesuatu untuk memberikan pencerahan kepada publik, bahkan ada pula yang gunakan sebagai alat untuk menjatuhkan lainnya. Para pseudo ini ini pun adakalanya memang memberikan informasi akurat, dan sering juga asal bicara dengan mulut besarnya. Tentu saja, jenis pseudo yang ke dua ini sangat tak layak jika disebut Deep Throat. Saya membebaskan pembaca yang budiman untuk menaimnya.

Kerja Mark Felt dengan nama pseudo Deep Throat bukanlah aksi menyerang yang bersifat ad hominem argumentum. Bukan juga karena iri hati akibat tidak dicalonkan sebagai Capres AS saat itu. Lebih dari itu, merupakan pengorbanan besar untuk mengungkap kebenaran. Kerja pseudo yang lebih menekankan serangan terhadap individu hanyalah tindakan orang bodoh yang eksistensinya rendah. Tentu saja, mereka ingin memamerkan kebodohannya kepada khalayak untuk mendapatkan tepuk tangan meriah.

Referensi:
http://abudira.wordpress.com/2010/02/08/skandal-watergate-trik-konyol-presiden-paranoid/
http://blog.tempointeraktif.com/buku/watergate-kisah-orang-orang-di-sekeliling-presiden/
http://bredmart.blogspot.ru/2012/08/skandal-watergate-skandal-centurygate.html
http://www.antaranews.com/view/?i=1146057340&c=SBH&s=

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s