Siapa yang tidak suka mendapatkan barang-barang mewah dengan gratis dan langsung diantar ke rumah? Siapa juga yang tidak suka menggunakan fasilitas cepat dan kilat untuk pelayanan SIM yang harusnya ngantri berjam-jam? Siapa pula yang tidak suka diberi rumah mewah di Jakarta yang harganya mencapai miliaran rupiah? Siapa pula orang yang suka menolak hadiah dan akses yang mudah-bebas hambatan karena jabatannya?

Siapa lagi orang “aneh” itu kalau bukan Hoegeng Iman Santoso, seorang tokoh yang pernah menjadi orang penting di kepolisian negeri ini pada era tahun 1970-an. Seorang Kapolri (1968-1971), Deputi Operasi Kepolisian (1966), Panglima Angkatan Kepolisian (1968), Kepala Direktorat Reskrim Polda Sumatera Utara (1956), Kepala Imigrasi (1960), dan Menteri Iuran Negara dalam Kabinet “100 Menteri” (1965).

Seorang polisi yang memiliki jiwa kerja keras, bertanggung jawab, berdedikasi, dan antikorupsi. Seseorang yang bisa menjadi cermin buat siapa saja, bukan hanya polisi, namun juga kita semua.

Hoegeng lahir di Pekalongan, 14 Oktober 1921. Ayahnya adalah seorang Kepala Kejaksaan yang selama hayatnya tidak pernah mempunyai tanah dan rumah pribadi. Ibunya seorang perempuan sederhana yang sering menanamkan nilai-nilai budi pekerti baik kepada Hoegeng kecil, yang terlahir dengan nama Iman Santoso. Dia sering dipanggil Bugel (gemuk), yang kemudian sampai dewasa lebih populer dipanggil Hoegeng.

Jujur dan Berani
Lingkungan keluarga dan kehidupan kerja ayahnya telah membentuk Hoegeng untuk menjadi seorang manusia jujur dan profesional. Sang ayah, Sukarjo Hatmaja, bersama Ating Natadikusumah (Kepala Polisi) dan Soeprapto (Kepala Pengadilan) adalah orang-orang yang memiliki andil dalam membentuk kepribadian dan cita-cita Hoegeng. Dan Hoegeng kecil pun ingin menjadi polisi. Seorang polisi jujur, bertanggung jawab dan anti-suap.

Itu dibuktikannya hingga cita-citanya menjadi polisi terwujud. Hoegeng adalah orang paling bersikukuh dan bersikeras agar instansi kepolisian yang dipimpinnya bersih dari tindak-tanduk korupsi, penyalahgunaan wewenang, dan hal buruk lainnya. Bukan saja di kepolisian, bahkan Hoegeng pun berani menembus dan memeriksa pejabat kementerian yang diduga korupsi dan menyalahi tugas dan wewenang sebagaimana mestinya.

Sebagai contoh, di masa jabatannya sebagai orang nomor satu di kepolisian, seorang mantan Menteri Kehakiman dihukum satu tahun akibat terbukti bersalah menerima suap Rp. 40.000. Juga, pernah seorang mantan Menteri Luar Negeri didenda Rp. 5.000 karena dianggap teledor membawa uang titipan sebesar USD 11.000 ke luar negeri. “Pemerintahan yang bersih harus dimulai dari atas. Seperti halnya orang mandi. Guyuran air mandi selalu dimulai dari kepala,” demikian Hoegeng pernah berucap.

Di masa jabatan keduanya sebagai Kepala Reskrim di Medan, Sumatera Utara, Hoegeng harus berperang melawan bos dan mafia perjudian dan penyelundupan. Mereka tidak segan-segan memberikan hadiah kemewahan berupa barang-barang perlengkapan rumah tangga, kendaraan, dan sebagainya. Hoegeng membalas hal tersebut dengan tidak segan-segan keluar dari rumah dinasnya, mengeluarkan barang-barang yang bukan miliknya, serta menginap di hotel sederhana hingga semua hadiah mewah itu keluar dari rumah dinasnya. Medan pun gempar! Seorang polisi yang baru saja berada di kota itu sanggup menolak semua hadiah dan fasilitas yang diberikan oleh para bos dan mafia kriminal itu.

Bahkan, di kota yang terkenal keras akan judi dan sindikat penyelundupan itu, Hoegeng mengembangkan forum kerja sama yang berusaha memberantas semua kejahatan, termasuk korupsi. Beliau mengajak sejumlah pihak dari masyarakat umum serta militer untuk bahu-membahu memberantas kejahatan yang terjadi di Kota Medan saat itu.

Prestasi yang pernah diukir Hoegeng, diantaranya mengungkap kasus perkosaan tukang jamu gendong yang melibatkan salah seorang anak pejabat di Yogyakarta, kasus penyelundupan mobil mewah yang didalangi Robby Tjahyadi. Selain itu, masih ada kasus yang juga tak kalah menghebohkan, seperti kasus tertembaknya mahasiswa ITB Rene Coenrad pada Oktober 1970 yang melibatkan taruna Akabri.

Melibas Korupsi Sampai Ke Akar
Hoegeng tidak saja bersikukuh melibas korupsi di lembaga kepolisian yang dipimpinnya. Di keluarganya sendiri, mulai dari isteri dan anak-anaknya tidak diberi kesempatan untuk merasakan kenikmatan jabatan sang ayah dengan cara yang tidak benar. Seperti dengan terpaksa Hoegeng menutup usaha florist milik istrinya yang berada di Cikini, Jakarta Pusat, hanya gara-gara takut pelanggan bunga istrinya tersebut berasal dari orang -orang yang ingin memanfaatkan diri dan jabatannya. Padahal, saat itu Hoegeng yang dipindahtugaskan dari Medan kembali ke Jakarta baru diangkat sebagai Kepala Jawatan Imigrasi. Dia tidak ingin orang-orang berkepentingan di bidang imigrasi memborong bunga-bunga jualan sang istri agar semua urusannya lancar.

Bahkan, pernah suatu kali anaknya memperoleh sebuah sepeda yang di masanya sangat keren dan mahal, entah dari siapa. Hoegeng menolak sepeda tersebut dan diletakkannya begitu saja di depan rumah. Lebih ekstrem lagi, suatu kali anaknya pernah mengurus SIM dengan cara cepat menggunakan jasa anak buahnya. Namun, entah darimana Hoegeng tahu perbuatan anaknya tersebut. Maka, saat kartu mengemudi itu selesai dibuat, ia segera menelepon pihak kepolisian yang mengurusi pembuatan SIM agar tidak memberikan anaknya SIM sebelum mengikuti prosedur yang berlaku. Lebih dari itu, anak kesayangannya pun ditegur keras.

Apa yang selalu diperjuangkan Hoegeng tidak selalu mendapat sambutan baik dari atasannya. Pada 1971, Hoegeng diberhentikan dari jabatannya sebagai Kepala Kepolisian oleh Presiden Soeharto, meski jabatannya belum berakhir. Setelah itu, Hoegeng ditawari untuk menjabat sebagai Diplomat di Belgia. Namun, Hoegeng menolaknya. Ia menganggap dirinya bukanlah seorang politisi, melainkan polisi. Akhirnya Hoegeng pun memilih untuk menjadi orang biasa.

Mengisi masa pensiunnya, Hoegeng menghabiskan waktu dengan hobi yang kemudian menjadi sumber penghasilannya, yakni mengisi acara “Hawaiian Senior” di TVRI, bernyanyi, melukis, dan menjadi narasumber di sebuah stasiun radio. Pensiunan sebagai polisi dan pejabat penting tidak menjadikannya memiliki kekayaan dan uang banyak. Bayangkan, dana pensiunannya hanya senilai Rp. 10.000 per bulan. Itu pun dipotong lagi sehingga yang yang diterimanya hanya Rp. 7.500 per bulan. Baru pada 2001, pensiunannya berubah menjadi Rp. 1.170.000 per bulan.

Namun, aktivitas di masa pensiunannya masih saja membuat gerah sebagian orang. Acara bernyanyi dan menari ala Hawaiian-nya diberedel. dan siaran radionya ikut dihentikan karena dianggap pedas dan provokatif. Di penghujung hayatnya, Hoegeng dikenal sebagai salah satu aktivis “Petisi 50” bersama mantan Gubernur DKI jakarta Ali Sadikin yang kritis terhadap kinerja pemerintahan.

Kesederhanaan dan kesahajaan seorang Hoegeng terus terpancar hingga akhir hayatnya. Pada 14 Juli 2004, Hoegeng kembali pada Sang Khalik dengan damai. Pesan terakhir kepada keluarganya adalah, ia ingin dimakamkan di tempat pemakaman umum dan bukan di taman makam pahlawan. Maka, ia lantas dikebumikan di TPU Giri Tama, Bogor.

Semoga nilai-nilai kejujuran dan keberanian seorang Hoegeng tersebut menjadi nilai positif dan inspirasi bagi kita semua. Dan satu pesan yang sering beliau dengungkan bahwa, “Sangat baik untuk menjadi orang penting, tapi jauh lebih penting menjadi orang baik”.”

Sumber: Dikutip secara langsung tanpa editing dari SINI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s