Sejak 16 Januari 2013, berita-berita sudah mengabarkan adanya banjir di Jakarta. Banjir terjadi di daerah yang sedari dulu menjadi langganan air bah ini. Saya pun menyimak berita itu tanpa ada firasat apa pun tentang Jakarta. Masih menilai sebagai hal “wajar” karena daerah-daerah tersebut memang sering sekali terkena banjir.

Jam sudah menunjukkan pukul 02.00 waktu Moskow (GMT +4 atau lebih lambat 3 jam dari WIB), saya pun beraanjak ke peraduan. Sebelum benar-benar tertidur, saya sesekali membaca berita dari tanah air tentang situasi Jakarta terkini. “Masih belum ada perubahan, normal,” gumamku. Setelah itu aku pun tak tahu karena sudah terbawa mimpi di tengah dinginnya Moskow.

Langit masih gelap dan waktu sudah menunjukkan pukul 09.00. Aku terbangun dari tidurku. Aku langsung melihat telepon seluler dan ada beberapa notifikasi yang masuk. Setelah aku lihat, notifikasi itu ternyata berisi gambar-gambar dan mention tentang jantung ibukota Indonesia yang terendam. Bunderan HI kebanjiran, tanggul latuharhary jebol, Jakarta banjir besar. Intinya seputar banjir di Jakarta hari itu (17 januari 2013).

Aku pun langsung membuka situs jejaring sosial dan berita online. Astaga, Jakarta benar-benar terendam. Banjir ada di mana-mana. Bayanganku langsung tertuju pada Ibukota yang sudah ku akrabi sejak 2008 lalu. Banyak tempat yang ku kenali terendam amukan air. Ibukota pun jadi “chaos” akibat banjir ini. Banyak tempat tergenang air dari Ciliwung dan sungai-sungai lainnya. Segitiga emas ekonomi Jakarta (Sudirman-Thamrin-Kuningan) pun tak luput dari amukan air. Jakarta lumpuh!

Dari berita yang saya tonton melalui internet, sungguh menyayat hati melihat para pengungsi. Merasa tak berguna juga ketika melihat tim SAR bekerja dengangigih mengevakuasi warga dan mendistribusikan bantuan. Dari Moskow, saya hanya bisa melihat tanpa melakukan apa-apa. Tanganku tak sampai menuju ke kota yang telah menemaniku selama empat tahun itu.

Berita tentang banjir Jakarta terus ku amati dalam-dalam. Tak lupa pula terus memantau pemberitaan tentang banjir di seluruh pelosok negeri. Ditemani bongkahan es yang menggumpal akibat derasnya salju, aku hanya bisa berdoa untuk masyarakat yang menjadi korban banjir. Semoga mereka terus dikaruniai kekuatan dalam menghadapi musibah ini. Juga berpikir lebih keras lagi untuk terus menyiasati banjir dengan segala dampaknya, termasuk turut menyertakan alam semesta dalam proses demokrasi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s