Jejak Pelarian Wiji Thukul: Puisi yang Tercecer

Posted: 19 Januari 2013 in Politik
Tag:, , , , , , , , , , , , , , , ,

Dalam pelarian dari kejaran rezim Suharto, Wiji Thukul ternyata tak berdiam diri. Salah satu korban penghilangan paksa 1997-1998 ini ternyata terus menulis puisi-puisi perlawanan terhadap rezim fasis-militeristik ini. Puisi pelarian ini tidak dia sebar atau bacakan kepada khalayak seperti karyanya yang lain. Dia titipkan kepada sahabatnya, Yosep Adi Prasetyo alias Stanley, untuk disimpan.

“Saya bertemu dengan Wiji Thukul beberapa kali. Saya mendapatkan kumpulan puisi ini saat-saat terakhir kali sebelum dia memutuskan untuk pindah ke luar kota, mengingat Jakarta dinilainya sudah tidak aman,’ tulis Stanley di Jurnal Dignitas Volume VIII No. 1 Tahun 2012 yang diterbitkan Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam).

Stanley mendapatkan amanat untuk menyimpan puisi-puisi tersebut ketika Wiji Thukul harus lari dari kejaran rezim penguasa. Saat itu, Wiji Thukul menjadi buronan penguasa karena dinilai terlibat dalam peristiwa 27 Juli 1996 di depan kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia Jalan Diponegoro Jakarta Pusat. “Tolong ini kamu pegang. Siapa tahu suatu saat ada gunanya,” pesan Wiji kepada Stanley.

Puisi-puisi pelarian Wiji Thukul ini berjumlah sekitar 27 buah. Puisi tersebut ditulis dalam lembaran kertas berjumlah 13 buah. Wiji menuliskannya dengan pensil kala berjuang dari kejaran aparat militer rezim Suharto. Inilah puisi-puisi Wiji Thukul seperti yang ditulis di Jurnal Dignitas:

Wiji Thukul

(1)

Para jendral marah-marah

Pagi itu kemarahannya disiarkan oleh televisi. Tapi aku tidur. Istriku yang menonton. Istriku kaget. Sebab seorang letnan jendral menyeret-nyeret namaku. Dengan tergopoh-gopoh selimutku ditarik-tariknya, Dengan mata masih lengket aku bertanya: mengapa? Hanya beberapa patah kata ke luar dari mulutnya: ”Namamu di televisi …..” Kalimat itu terus dia ulang seperti otomatis.

Aku tidur lagi dan ketika bangun wajah jendral itu sudah lenyap dari televisi. Karena acara sudah diganti.

Aku lalu mandi. Aku hanya ganti baju. Celananya tidak. Aku memang lebih sering ganti baju ketimbang celana.

Setelah menjemur handuk aku ke dapur. Seperti biasa mertuaku yang setahun lalu ditinggal mati suaminya itu, telah meletakkan gelas berisi teh manis. Seperti biasanya ia meletakkan di sudut meja kayu panjang itu, dalam posisi yang gampang diambil.

Istriku sudah mandi pula. Ketika berpapasan denganku kembali kalimat itu meluncur. ”Namamu di televisi….” ternyata istriku jauh lebih cepat mengendus bagaimana kekejaman kemanusiaan itu dari pada aku.

(2)

aku diburu pemerintahku sendiri
layaknya aku ini
 penderita penyakit berbahaya

aku sekarang buron

tapi jadi buron pemerintah yang lalim
bukanlah cacat

pun seandainya aku dijebloskan

ke dalam penjaranya

aku sekarang terlentang
di belakang bak truk
yang melaju kencang
berbantal tas
dan punggung tangan

kuhisap dalam-dalam
segarnya udara malam
langit amat jernih

oleh jutaan bintang

sungguh

baru malam ini

begitu merdeka paru-paruku

malam sangat jernih

sejernih pikiranku

walau penguasa hendak mengeruhkan
tapi siapa mampu mengusik
ketenangan bintang-bintang?

(3)

Buat L.Ch & A.B.

darahku mengalir hangat lagi
setelah puluhan jam
sendi-sendi tulangku beku

kurang gerak

badanku panas lagi

setelah nasi sepiring

sambel kecap dan telur goreng

tandas bersama tegukan air

dari bibir gelas keramik yang kau ulurkan dengan senyum manismu

kebisuan berhari-hari
kita pecahkan pagi itu
dengan salam tangan
pertanyaan

dan kabar-kabar hangat

pagi itu

budimu menjadi api

tapi aku harus pergi lagi
mungkin tahun depan
atau entah kapan

akan kuketuk lagi
daun pintumu
bukan sebagai buron

(4)

Kado untuk Pengantin Baru

pengantin baru

ini ada kado untukmu
seorang penyair

yang diburu-buru

maaf aku mengganggu

malam bulan madumu

aku minta kamar satu

untuk membaringkan badanku

pengantin baru

ini datang lagi tamu
seorang penyair

yang dikejar-kejar serdadu

memang tak ada kenikmatan

di negri tanpa kemerdekaan
selamanya tak akan ada kemerdekaan
jika berbeda pendapat menjadi hantu

pengantin baru

ini ada kado untukmu

seorang penyair yang dikejar-kejar serdadu

(5)

kuterima kabar dari kampung

rumahku kalian geledah

buku-bukuku kalian jarah

tapi aku ucapkan banyak terima kasih
karena kalian telah memperkenalkan sendiri
pada anak-anakku
kalian telah mengajari anak-anakku
membentuk makna kata penindasan
sejak dini

ini tak diajarkan di sekolahan

tapi rejim sekarang ini
memperkenalkan kepada semua kita
setiap hari di mana-mana
sambil nenteng-nenteng senapan

kekejaman kalian
adalah buku pelajaran
yang tak pernah ditulis!

(6)

Wani,

bapakmu harus pergi

kalau teman-temanmu tanya
kenapa bapakmu dicari-cari polisi
jawab saja:
”karena bapakku orang berani”

kalau nanti ibu didatangi polisi lagi
menangislah sekuatmu

biar tetangga kanan kiri datang
dan mengira ada pencuri
masuk rumah kita

(7)

Pepatah Buron

penindasan adalah guru paling jujur
bagi yang mengalami

lihatlah tindakan penguasa
bukan retorika bukan pidatonya

kawan sejati adalah kawan yang masih berani
tertawa bersama

walau dalam kepungan bahaya

(8)

kekuasaan yang sewenang-wenang
membuat rakyat selalu berjaga-jaga
dan tak bisa tidur tenang

sampai mereka sendiri lupa
batas usianya tiba

dan dalam diamnya

rakyat ternyata bekerja
menyiapkan liang kuburnya

lalu mereka bersorak

ini kami siapkan untukmu tiran!

penguasa yang lalim

ketika mati tak ditangisi rakyatnya

sungguh memilukan

kematian yang disyukuri dengan tepuk tangan

(9)

ujung rambut ujung kuku
gendang telinga

dan selaput bola mataku
tidak mungkin lupakan kamu

bilur di punggung
nyeri di tulang berhari-hari

darah di helai rambut ujung kuku
dendang telinga

dan selaput bola mataku

telah mengotori namamu

nyeri di tulang
berhari-hari

bilur di punggung
karena sabetan

telah mencoreng namamu

kau tak kan bisa mencuci namamu
sekalipun 1000 mobil pemadam kebakaran
kau kerahkan

kau tak kan bisa mencuci tanganmu
sekalipun 1000 pengeras suara
melipatgandakan pidatomu

suara rakyat adalah suara Tuhan

dan kalian tak bisa membungkam Tuhan
sekalipun kalian memiliki 1.000.000 gudang peluru

(10)

Jakarta simpang siur
ormas-ormas tiarap

tiap dengar berita

pasti ada aktivis ditangkap

telepon-telepon disadap
koran-koran disumbat

rakyat was-was dan pengap
diam-diam orang cari informasi
dari radio luar negeri

jangan percaya

pada berita mass media cetak

dan elektronika asing!

Penguasa berteriak-teriak setiap hari
Nasionalismenya mirip Nazi

(11)

berhari-hari – ratusan jam – ratusan kilometer – puluhan kota – bis – colt – truk – angkutan – asap rokok – uap sampah – tengik wc – knalpot terminal – embun subuh – baca koran – omongan penguasa – nonton tivi – omongan penipu – presiden marah-marah – jendral-jendral marah-marah – intelektual bayaran ikut-ikutan – sekretariat organisasi aktivis diobrak-abrik – penculikan – penggrebegan – pengejaran – pembenaran dibikin kemudian – semua benar karena semua diam

(12)

apa penguasa kira

rakyat hidup di hari ini saja

apa penguasa kira

ingatan bisa dikubur

dan dibendung dengan moncong tank

apa penguasa kira

selamanya ia berkuasa

tidak!

tuntutan kita akan lebih panjang umur
ketimbang usia penguasa

derita rakyat selalu lebih tua
walau penguasa baru naik
mengganti penguasa lama

umur derita rakyat

panjangnya sepanjang umur peradaban

umur penguasa mana

pernah melebihi tuanya umur batu akik
yang dimuntahkan ledakan gunung berapi?

ingatan rakyat serupa bangunan candi
kekejaman penguasa setiap jaman
terbaca di setiap sudut dan sisi

yang menjulang tinggi

(13)

ketika datang malam
aku menjadi gelap
ketika pagi datang
aku menjadi terang

aku rakyatmu

hidup di delapan penjuru

kau tak bisa menangkapku
karena kau tak mengenalku

kau tak bisa mendengarkan aku
karena kau terus berbicara
berbicara dan berbicara

dengan mulut senapan

pembantaian- pembantaian
dan pembantaian
mayat-mayat bergelimpangan
mayat-mayat disembunyikan

kau tak bisa menguburkan aku

kau tak bisa menyembuhkan lukaku
karena kau tak kenal aku

karena kau terus berbicara

berbicara dan berbicara

dengan tembakan dan ancaman

dan penjara

(14)

habis cemasku

kau gilas

habis takutku

kau tindas

kini padaku tinggal
tenaga mendidih!

segala telah kau rampas
kau paksa aku tetap bodoh
miskin dan nelan ampas

kini padaku tinggal tenaga
mengepal-ngepal

di jalan-jalan

habis cemasku

kau gilas

habis takutku

kau tindas

aku masih tetap waras!

(15)

ayo kita tebakan!

dia raja

tapi tanpa mahkota

punya pabrik punya istana
coba tebak siapa dia?

dia adalah aku!

dia kaya

keluarganya punya saham di mana-mana
tapi negaranya rangking tiga
paling korup di dunia
coba tebak siapa dia?
dia adalah aku!

dia tua

tapi ingin tetap berkuasa

tak boleh ada calon lain

selain dia

kalau marah

mengarahkan angkatan bersenjata

rakyat kecil yang tak bersalah ditembak jidatnya
coba tebak siapa dia?

dia adalah aku!

dia sakti

tapi pasti mati

meski seakan tak bisa mati
coba tebak siapa dia?

dia adalah aku!

siapa aku?

aku adalah diktator

yang tak bisa tidur nyenyak!

(16)

hujan malam ini turun
untuk melindungiku

intel-intel yang bergaji kecil
pasti jengkel dengan yang memerintahmu

hujan malam ini turun
untuk melindungiku

agar aku bisa istirahat
agar tenagaku pulih
setelah berhari-hari lelah
agar aku tetap segar
dan menang

hujan malam ini turun
untuk melindungiku

bunyi kodok dan desir angin
membikin pelupuk mataku membesar
aku ngantuk dan ingin tidur

biarlah para serdadu di ibukota
berjaga-jaga dengan senapan M-16nya

biarlah penguasa sibuk sendiri
dengan ketakutannya

karena telah mereka taruh sendiri
bom waktu di mana-mana

mereka menciptakan musuh
dan menembaknya sendiri

mereka menciptakan kerusuhan
demi mengamankannya sendiri

hujan malam ini turun
untuk melindungiku

malam yang gelap ini untukku
malam yang gelap ini selimutku

selamat tidur tanah airku
selamat tidur anak-istriku
saatnya akan tiba
akan tiba
bagi merdeka
untuk semua

(17)

bernafas panjanglah
jangan ditelan kalut
bernafas panjanglah
jangan dimakan takut
bernafas panjanglah
jangan berlarut-larut
bernafas panjanglah
jangan surut

bernafas panjanglah
walau gelap
bernafas panjanglah
walau pengap

bernafas panjanglah kau, bernafas panjanglah para korban
bernafas panjanglah aku

bernafas panjanglah kalian

bernafas panjanglah semua

bernafas panjanglah

melihat tank-tank dikerahkan
bernafas panjanglah

melihat tentara mondar-mandir
berselendang M-16

bernafas panjanglah

mendengar para aktivis ditangkapi
bernafas panjanglah

para kambing hitam yang diadili

bernafas panjanglah
dengan pemutar-balikan ini

mereka ingin sejarah dibaca bersih
bagaimana mungkin

jika mereka menulis dengan sobekan daging
laras senapan

dan kubangan darah

baca kembali semuanya
dan bernafas panjanglah

bernafas panjanglah akal
bernafas panjanglah hati
bangun
dan bernafas panjanglah!

(18)

di ruang ini yang bernafas cuma aku
cecak dan serangga

air menetes rutin dari kran ke bak mandi
semakin dekat aku dengan detak jantungku

dingin ubin, lubang kunci, pintu tertutup, kurang cahaya
kini bagian hidupku sehari-hari

di sini bergema puisi
di antara garis lurus tembok
lengkung meja kursi
dan rumah sepi

puisi yang ditajamkan
pukulan dan aniaya
tangan besi penguasa

(19)

bulan agustus sudah tiba

penduduk ramai-ramai pasang bendera

tapi aku hanya lihat yang di seberang rumah saja
kuintip dari lubang kunci

sebab aku dikejar-kejar penguasa

sudah puluhan hari aku tak melihat angkasa
kehidupan di sekelilingku kusimak

dari datak-deru dan tawanya

aku tak bisa lihat wujud dan wajahnya

aku ditahan bukan dipenjara
aku disel bukan dibui

sebab kehidupan sehari-hari
adalah penjara nyata rakyat negeri ini

(20)

sebuah bank

memasang iklan

ukuran setengah halaman koran, teriaknya: Dirgahayu Republik Indonesia 51 th

dengan huruf kapital

iklan itu juga memekik-mekik: MERDEKA MERDEKA MERDEKA

sementara itu ratusan aktivis

di daerah dan di ibukota ditangkapi

sebuah iklan

ukuran setengah halaman koran

menggusur kenyataan yang sewenang-wenang
yang seharusnya diberitakan

MERDEKA MERDEKA MERDEKA
siapa yang merdeka?

(21)

di atas rumah ada burung
ku tahu dari kicaunya

di luar rumah ada orang
kutangkap lagi dari cakap
dan langkah kakinya

ini rumah biasa

tak beda penjara
ta

di pagi kubaca di koran

kabar penangkapan-penangkapan

tapi sore ini

ku dengar di jalan

orang latihan baris-berbaris

untuk merayakan hari kemerdekaan

(22)

Bagi Siapa Kalian Memetik Panenan

pagi dingin

udara masih mengandung embun
bukit-bukit di kejauhan

disaput arak-arakan halimun

matahari terbit

sempurna bulat merah setampah di langit
batang-batang pohon besar dan cabang-cabangnya
seperti ratusan penari

yang mengangkat tangannya tinggi-tinggi
kususuri keheningan ini

sendiri

jilatan matahari
segarnya udara pagi

alangkah indah negri ini

andai lepas dari masa ganas tirani

(23)

nonstop 24 jam

yang berkuasa di sini
adalah cahaya

saban pagi ia membuat garis-garis lurus
di sekitar jendela

gambar motif gorden tampak jelas
coklat hitam dan putihnya

lalu pada sore hari
ia mengubah warna langit-langit
sudut-sudut tembok

bidang ubin dan susunan benda-benda
yang ada di dalamnya

dan bila malam tiba

telapak kakiku diberinya mata
demikian pula punggung tangan
dan jari-jarinya

saat aku terbaring
serasa yang ada
cuma desir angin
detak jantung
tulang-tulang
dan hembusan nafasku saja

tapi aku harus pergi

dari kesunyian ini

sebelum penguasa merenggut
aku dan damai ini

Sumber: Beritasatu.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s