Kalau kita menonton film Hotel Rwanda atau Sometimes in April, pikiran kita bakal dibawa lari pada peristiwa sangat menyedihkan di Rwanda. Genosida pada paruh 1990-an yang terjadi di negara tersebut telah meluluhlantakkan sendi-sendi kehidupan masyrakatnya. Sangat mengerikan dan di luar batas nalar manusia. Di luar persoalan genosida tersebut, Rwanda ternyata telah melesat, berlari menyalip kita yang terlena dan hanya jalan di tempat.

Mungkin, banyak alibi untuk menutupi ketertinggalan kita dari negara yang baru saja lepas dari dari konflik kemanusiaan tersebut. Reformasi yang gagal, masih dalam fase transisi demokrasi, ata apa pun bisa jadi alasan untuk mengelak fakta ketertinggalan Indonesia dengan Rwanda. Tertinggal dalam upaya perang melawan korupsi yang ternyata di Rwanda jauh lebih baik. Kita layak iri dengan negara yang baru membangun pada akhir era 1990-an selepas konflik ini.

Tak hanya Rwanda, Indonesia juga tertinggal dibandingkan Bosnia yang notabene juga baru membangun pasca kehancuran era 1990-an. Bosnia, seperti yang kita ketahui semua, merupakan negara yang jadi ladang pembantaian manusia oleh Serbia. Logika sederhananya, negara yang lebih dulu membangun idealnya jauh lebih maju dengan salah satu indikator minimnya korupsi. Logika tersebut buyar dengan fakta yang ada. ternyata kita jauh tertinggal.

Lebih mengenaskan lagi, Timor-Leste yang baru saja menjadi negara berdaulat (1999) dan pernah di bawah “bimbingan” Indonesia pun ternyata posisinya lebih baik dari Indonesia. Sangat ironis di tengah gemerlap beragam prestasi ternyata kita masih jauh tertinggal dalam hal persepsi korupsi. Mereka berlari dan kita hanya jalan santai, seolah-olah tak ada permasalahan dalam penegakan hukum ini. Kita pun hanya jadi penonton. Penonton yang hanya bisa bertepuk tangan ketika pertandingan dinilai bagus. Hanya terdiam ketika sang jago alami kekalahan.

Anakhronisme juga muncul dengan negara komunis yang di Indonesia sering dipersepsikan atheis, Kuba. Asumsikan saja persepsi komunis yang itu benar-benar atheis. Di Indonesia, jangankan atheis, berbeda dalam memahami makna Ketuhanan saja bisa langsung dihajar dan negara diam saja. Faktanya, negara komunis Kuba itu ternyata jauh lebih maju dari kita dengan peringkat Indeks Persepsi Korupsi (IPK) 2012 yang jauh lebih baik. Idealnya, negara yang mengaku Bertuhan harusnya lebih baik karena ada kekuatan lebih besar yang layak untuk ditakuti. Namun, fakta berbicara lain.

Itulah segelintir dari potret korupsi di Indonesia yang menempatkan negara kita ini jauh berada di negara-negara yang baru saja lepas dari konflik atau dinilai tak Bertuhan. Akal sehat pasti menolak dengan beragam latar belakang dari berbagai negara yang disebut di atas. Mereka baru saja membangun saja sudah lumayan bagus IPK-nya. Bagaimana dengan Indonesia tercinta? Selalu diselimuti kabut tebal merajalelanya korupsi. Para Pahlawan Nasional mungkin menangis melihat fenomena yang terjadi saat ini. Ini bukan kutukan, tapi kenyataan yang sejatinya bisa diubah kalau kita mau melakukannya dengan konsisten.

Tentang IPK 2012
Ranking IPK 2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s