Sejarah tak hanya berbicara tentang masa lalu. Sejarah juga berbicara tentang masa kini dan masa depan. Apa yang akan kita lakukan saat ini merupakan sejarah bagi masa depan.

Pernyataan ini merupakan aksiomatik dari tiap jejak langkah suatu bangsa maupun individu. Masa depan suatu bangsa sangat tergantung dari apa yang sekarang dilakukan oleh warga negaranya dan kebijakan yang diambil pemerintah.

Masa kini merupakan masa lalu bagi masa depan sehingga menjadi sejarah bagi generasi mendatang.

Peringatan Hari Pahlawan merupakan wujud penghormatan terhadap masa lalu. Apa yang terjadi pada 10 November 1945 telah memberikan dasar perjuangan bagi bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan.

Pertempuran Surabaya pada saat itu bukan dilakukan untuk dikenang masa kini, tapi demi masa depan sebuah negara-bangsa yang baru saja merdeka.

Apa yang terjadi di Surabaya 67 tahun silam menjadi latar bagi perjalanan bangsa Indonesia. Peristiwa tersebut menginspirasi berbagai pergolakan di daerah lainnya guna mempertahankan kemerdekaan dengan slogan “Merdeka atau Mati!” Berbagai perlawanan kemudian tumbuh bak jamur di musim hujan hingga kemerdekaan yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 benar-benar bisa berdiri tegak.

Pahlawan dan sejarah suatu bangsa bukanlah entitas yang berdiri sendiri. Keduanya saling beiringan karena dalam sebuah sejarah pasti ada pahlawan yang merupakan aktor dari peristiwa heroik tersebut. Mengupas cerita pahlawan berarti juga membicarakan sejarah yang terjadi didalamnya.

Oleh karena itu, Hari Pahlawan penulis maknai sebagai sebuah peristiwa sejarah yang jadi pondasi masa kini, bukan sekedar tindakan para aktor didalamnya.

Mengurai Sejarah Kesemerawutan

Media massa di tanah air hampir tiap hari memberitakan masalah korupsi di negeri ini. Mulai dari penyelidikan kasus hingga vonis tersangka korupsi.

Namun, apa yang sudah diberitakan media massa tersebut tak pernah membuat jera orang-orang serakah dan mereka yang tergila-gila memeroleh kekayaan dengan cara korupsi.

Kesemerawutan yang terjadi saat ini bukanlah pertistiwa yang hanya berlangsung sekarang. Kasus-kasus korupsi tersebut akan menjadi cermin bagi masa mendatang.

Hal tersebut bakal menjadi lebih parah jika para terduga kuat tidak ditindak dengan semestinya karena bisa menjadi preseden di masa depan. Korupsi jadi sah karena menurut riwayatnya tidak ada penegakkan hukum terhadap si pelaku.

Sejarah akan mencatat bagaimana penegakkan hukum terhadap terduga korupsi sangat lemah. Mereka yang gigih dan konsisten dalam memperjuangkan permberantasan korupsi “dikalahkan” oleh lemahnya penegakkan hukum.

Paling menyedihkan, jika di masa depan, “para pemenang” tersebut dijadikan pahlawan akibat ketidaktahuan latar sejarahnya.

Tak hanya korupsi, penegakkan hak asasi manusia juga bisa menjadi potret buram sejarah masa kini. Paling nyata dalam kasus HAM yaitu kriminalisasi terhadap korban.

Dalam banyak kasus, masyarakat yang mempertahankan hak-haknya menjadi tersangka. Namun, pelaku bebas melenggang di berbagai panggung tanpa merasa bersalah karena penegakkan hukum yang sangat lemah.

Ketiadaan penuntasan kasus-kasus pelanggaran HAM, terutama pelanggaran HAM yang berat, bakal menjadi justifikasi peristiwa serupa di masa mendatang.

Tindakan brutal di masa lalu bukan perbuatan salah bisa menjadi image yang terbentuk pada generasi penurus kelak karena tidak ada penuntasan secara hukum. Seorang penjahat HAM dan hal ini bisa merusak peradapan yang dibangun sejak lama.

Apa yang terjadi sekarang sangat bertentangan dengan masa lalu yang dilakukan para pejuang kemerdekaan. Para pejuang gigih merebut dan mempertahankan kemerdekaan dengan mengorbankan banyak hal dari hidupnya.

Namun, nilai-nilai kepahlawanan tersebut tidak menjadi jiwa bagi sebagain penerusnya, tapi sekedar seremoni belaka. Hari Pahlawan yang diperingati tiap tahun tidak menjadikan pemberitaan kasus korupsi di media massa menurun drastis.

Benang kusut ini harus diurai agar tidak menjadi duri dalam daging sejarah tanah air tercinta. Peringatan Hari Pahlawan bisa menjadi momentum untuk mengurai kesemerawutan yang terjadi selama ini.

Pertama, kesadaran akan kaitan masa kini dan masa depan perlu untuk disosialisasikan sedemikian rupa. Adanya kesadaran ini diharapkan mampu memberikan semangat kepada siapa pun untuk menjadi teladan.

Kedua, penegakkan hukum bukan hanya jadi slogan, tapi kenyataan. Penegakkan hukum ini menjadi elemen penting untuk mencegah segala jenis impunitas terhadap para pelanggar hukum.

Adanya impunitas berarti memberikan peluang untuk mengulangi kasus yang sama karena di masa kini dinyatakan sebagai suatu “kebenaran” oleh negara.

Tentu kita semua tak ingin jika seorang koruptor dan/atau penjahat HAM menjadi pahlawan yang senantiasa kita peringati setiap 10 November.

Menjadi sangat penting untuk merekonstruksi peringatan Hari Pahlawan. Rekonstruksi supaya peringatan hari bersejarah tersebut lebih kontekstual dengan keadaan kekinian dan lebih berdaya dalam merespon tantangan masa depan.

Membuatnya lebih berdaya bukan berarti melupakan dan menganggap sebagai masa lalu saja. Lepih pada bagaimana memberdayakannya sebagai sarana untuk bangkit dari keterpurukan dan upaya mengurai kesemerawutan.

Bagaiamana pun juga, jasa para pahlawan sangatlah besar untuk tanah air tercinta. Namun, kita juga perlu untuk menciptakan “pahlawan-pahlawan” baru masa kini yang berani mengambil langkah tegas sebagaimana yang dicontohkan para pejuang kemerdekaan dulu.

Menjadi sebuah tantangan di masa kini untuk menyatukan kenangan masa lalu dan harapan untuk masa depan demi Indonesia yang lebih baik. Merdeka!***

Tulisan ini dimuat di Harian Riau Pos

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s