Professor Sikorsky Sumber: http://www.lestari.info

Hanya sepelemparan batu dari Lapangan Merah Moskow, beberapa orang Rusia berkumpul membicarakan nusantara. Mereka mendiskusikan Indonesia dari berbagai aspek dengan beragam sudut pandang. Saat itu, forum diskusi ini membicarakan sastra Indonesia, yaitu novel berjudul Hikayat Siti Mariah karya Haji Mukti.

Professor Sikorsky mendapat kesempatan untuk menjabarkan isi novel tersebut. Dia menjelaskan beberapa aktor-aktor yang terlibat dalam novel dengan editor Pramoedya Ananta Toer. Tak luput pula konteks sosial, budaya, dan politik yang diceritakan didalamnya. “Novel ini sangat menarik sekali,” katanya.

Professor Sikorsky membaca novel Hikayat Siti Mariah bukan yang dicetak dalam Bahasa Rusia, tapi Bahasa Indonesia. Beliau menunjukkan buku bersampul merah jambu kepada forum diskusi yang dihadiri sekitar 20 orang. Tak lupa pula menjelaskan kapan novel itu pertama kali diterbitkan Haji Mukti, yakni 1850. Buku yang ditunjukkan tersebut diterbitkan Hasta Mitra pada 1987.

“Novel ini juga pernah diterbitkan di harian Medan Prijaji yang dipimpin Tirto Adhi Soerjo pada 1910-1912. Koran pertama berbahasa melayu di Indonesia”, imbuhnya.

Hikayat Siti Mariah merupakan karya sastra berbahasa melayu pertama yang terbit di era cultuur steelsel. Bercerita tentang Siti Mariah, anak diluar perkawinan antara Elout van Hogerveldt dengan Sarinem. Siti Mariah ketika bayi diberi nama Urip karena pernah jatuh dan masih hidup. Kisah cinta sangat kentara dalam novel ini, penuh liku dan tikungan tajam.

“Saya baru tahu ada buku (novel) berjudul Hikayat Siti Mariah ini,” ujar seorang kawan. Saya pun mengamini pernyataan seorang kawan tersebut. “Saya juga baru pertama kali tahu,” jawabku.

Menurut mahasiswa S3 Sastra Rusia Ahmad Sujai yang sering mengikuti diskusi serupa, mereka tak hanya berbicara tentang sastra Indonesia. Namun, sastra dan budaya jadi tema favorit dalam forum diskusi para pecinta nusantara di Rusia tersebut.

“Diskusi sebelumnya bicarakan soal mistik di Indonesia. Mereka sangat antusias dan menarik sekali,” tuturnya.

Kelompok diskusi “Nusantara” ini melakukan pertemuan sebulan sekali. Diskusi dilakukan bukan dengan Bahasa Indonesia, tapi Bahasa Rusia. Sangat wajar, karena diskusi tersebut sebenarnya ditujukan untuk warga Rusia tanpa menutup kemungkinan menggunakan Bahasa Inggris atau Bahasa Indonesia sebagai pengantarnya. Salju yang sangat lebat pun terasa sangat hangat ketika meninggalkan gedung pertemuan itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s