Perangkat untuk pengaturan kelas pasti ada. Ketua, wakil ketua, sekretaris, dan bendahara dibentuk dengan pemilihan secara demokratis. Begitu pula di kelas ku ketika Sekolah Dasar. Kami tiap Catur Wulan senantiasa mengadakan pemilihan ketua kelas. Tiap Cawu pula lah kelas ramai dengan huru-hara dukungan. Demokrasi mini dengan periode jelas, bukan “seumur hidup” selama setahun.

Setelah Ketua kelas terpilih, sang guru kemudian membentuk seksi-seksi dibawahnya yang nantinya membantu kerja ketua kelas. Bahkan kelas kami pun memunyai perpustakaan mini yang tiap harinya ada penjaganya. Tak banyak koleksi di dalamnya, setidaknya ada usaha untuk membudayakan membaca. Warga kelas kami boleh meminjam buku-buku di perpustakaan yang jumlahnya sangat terbatas itu.

Wali kelas IV dan V kami saat itu Pak Khaerum. Beliau mengajarkan tertib organisasi modern di kelas kami. Bukan sekedar ada ketua kelas dan perangkat-perangkatnya. Di dalamnya juga dikenalkan mekanisme kontrol atas kinerja ketua kelas. Tiap bulan kami mengadakan rapat kelas yang dipimpin ketua. Wali kelas hanya menonton, tak turut campur dalam rapat yang luar biasa itu. Wali kelas hanya membantu memecahkan persoalan rumit ketika kami tak bisa memecahkan bersama-sama atau melemparkan suatu permasalahan dalam rapat.

Alhasil, perangkat kelas tak hanya jadi pajangan nama saja. Kami pun tak menyadari pelajaran apa yang diberikan oleh Pak Khaerum tentang kepemimpinan dan demokrasi ini. Maklum anak-anak, hanya sekedar ikut saja tanpa mau tahu apa esensi yang ada di dalamnya. Sekedar turut meramaikan dan menyimak para petinggi kelas memaparkan persoalan dan menggali aspirasi dari warganya. Namun, hanya satu yang bisa kami rasakan langsung, tahu bagaimana cara menjalankan organisasi dalam skala kecil.

Pelajaran tentang demokrasi ini ternyata melampaui zamannya. Bayangkan saja, saat itu pertengahan 1990-an yang mana suksesi kekuasaan di negeri Indonesia merupakan hal tabu. Namun, kami secara periodik telah melakukannya. Selain itu, hal tersebut menjadi pelajaran berharga bagaimana cara mengelola organisasi beserta perangkat-perangkatnya. Sang pemimpin bukan hanya jadi simbol, tapi benar-benar bisa dirasakan keberadaannya.

Dari gedung di pelosok desa ini kami belajar tentang kepemimpinan dan demokrasi. Semua pelajaran tersebut baru ku rasakan manfaatnya ketika di perguruan tinggi. Organisasi yang ada di perguruan tinggi sudah cukup rumit, tapi mekanisme kontrol yang ada di dalamnya ternyata sama dengan apa yang pernah ku lakukan ketika SD. Guruku benar-benar sadis dalam hal ini, sudah memberikan pelajaran yang tak akan pernah di dapat dari bangku sekolah sejak dini.

Lomba Masak

Ada tradisi baru ketika Pak Khaerum menjadi wali kelas kami. Untuk menyambut berakhirnya Cawu, kami dibagi dalam beberapa kelompok untuk ikuti lomba masak. Kami harus memasak sendiri, tidak boleh membawa makanan jadi dari rumah untuk ikut dilombakan. Harus dari hasil kreasi sendiri meski entah bagaimana rasanya.

Kami memasak sedari pagi hingga siang. Sebellumnya, kita juga belanja bahan untuk masakan di pasar dekat sekolah. Cukup menyenangkan juga. Namun, tetap saja, para cowok di kelas kebanyakan tidak melakukan apa-apa karena semuanya ditangani anggota perempuan. Mau tanggung resiko jika kami para cowok yang memasak?

Sayur kelor dan tempe serta tahu goreng jadi menu wajib. Makanan khas Lumajang yang memang jadi primadona masyarakat. Sangat segar dan lezat. Semua hasil masakan tersebut disajikan di meja berdasar kelompok. Para guru pun menilai hasil masakan kami, sangat mendebarkan sekali. Namun, bukan hasil penjurian yang paling ditunggu, tapi makan bersamanya. Setelah penjurian, kami pun makan bersama berdasar kelompok dan seringkali saling incip satu sama lain.

Tak hanya itu saja, Pak Khaerum juga mengajarkan tentang pentingnya dokumentasi. Tiap lomba masak pasti ada fotografernya, yaitu sang wali kelas kami sendiri. Selain itu, kami juga ada sesi foto bersama sehingga kenangan masa SD tersebut tidak hilang. Sangat lucu sekali jika melihat hasil jepretan Pak Khaerum ketika kami SD. Teman-teman semua sudah berubah dan menyebar di berbagai tempat dan aku saat ini terdampar di negeri beruang merah untuk melanjutkan studi.

Kebersamaan menjadi hal sangat penting yang diajarkan wali kelas kami. Sungguh, semuanya itu tak pernah saya disadari kala melakukannya. Baru terasa ketika aku beranjak dewasa. Kebersamaan terhadap kelompok yang berjuang bersama tak boleh lenyap begitu saja. Inilah kelas kami di SDN Tempeh Tengah 4, Lumajang, Jawa Timur di antara sawah, kuburan, pasar, sungai, dan gudang tembakau.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s