Menciptakan Sejarah Masa Depan

Posted: 2 November 2012 in Arbiter
Tag:, , , , , , , , , ,

Tak ada firasat apa pun ketika aku berangkat sekolah ketika awal catur wulan II dimulai. Seperti biasa, berjalan penuh semangat berangkat ke sekolah melewati pasar desa yang penuh lalu-lalang pedagang dan pembeli. Bel berbunyi, semua murid langsung bergegas masuk. Tak disangka, hari itu ternyata mengubah cara pandang ku terkait pelajaran di sekolah hingga sekarang. Sang guru langsung mengumumkan “proyek” untuk beberapa muridnya.

“Arif, kamu mulai sekarang harus lebih fokus untuk belajar IPS, PMP (sekarang Pendidikan Kewarganegaraan), dan PSPB (sejarah). Nilaimu untuk mata pelajaran itu cukup bagus,” ujar wali kelas IV saat itu, Bu Suparti, di depan kelas.

Bu Suparti juga mengumumkan nama teman-teman sekelas lainnya yang bakal dididik untuk “proyek” spesialisasi ini. Semua mata pelajaran ada yang menggawanginya. Saat itu, banyak dari teman-teman yang terpilih karena masih dalam fase penjajakan. Usaha ini merupakan proyek untuk setahun ke depan dan memfokuskan keahllian tiap-tiap murid. Seminggu dua kali kami harus belajar mandiri di luar jam pelajaran untuk mata pelajaran yang telah ditugaskan tersebut. Cukup berat juga karena hal itu mencuri waktu bermain.

Pada pertengahan Cawu II, ada guru baru yang mengajar di kelas IV menggantikan Bu Suparti. Namanya Pak Khaerum, masih muda karena, sepertinya, baru saja lulus dari universitas. “Proyek” yang telah dicanangkan tetap dilanjutkan. Malah bisa dikatakan semakin intensif karena frekuensi belajar mandirinya semakin tinggi. Bisa dikatakan kami mendapatkan les privat gratis akibat cukup tingginya frekuensi belajar mandiri. Di tangan Pak Khaerum lah semuanya dimulai. Tidak hanya soal pelajaran saja, juga menyangkut kepemimpinan dan kebersamaan.

Di bawah bimbingan Pak Khaerum, seminggu dua kali aku harus ke rumah beliau untuk belajar IPS, PMP, dan PSPB. Saat itu, ada tiga teman yang juga turut serta didalamnya. Kami menikmati itu semua karena tidak ada paksaan untuk mempelajarinya. Bahkan, kami terhanyut dengan dengan aktivitas tersebut. Kami pun tak tahu secara detail untuk apa harus belajar secara khusus mata pelajaran tertentu. Namanya juga anak-anak, selama menyenangkan jalani saja tanpa usah berpikir terlalu rumit seperti orang dewasa. “Untuk pelajaran matematika dan IPA hari Senin dan Selasa. Untuk IPS, PMP, dan PSPB hari Rabu dan Kamis,” tuturnya kepada kami.

Sekolah ku bernama SDN Tempeh Tengah 4. Sekolah anak-anak kampung yang sampai sekarang masih berdiri kokoh dan tidak digabungkan dengan SD lainnya. Sekolah ku ini punya keunikan tersendiri karena posisinya. Bisa dikatakan, sekolah ini mengajarkan muridnya untuk bisa jadi manusia multi-talenta di bidang: juru kunci, pertanian, perdagangan, pergudangan, dan perikanan. Mengapa demikian? Di depan sekolah ada gudang tembakau milik swasta. Sebelah kanan ada sungai, di belakang ada sawah. Sebelah kiri ada tempat pemakaman umum dan agak ke depan ada pasar. Sangat kompleks bukan materi yang kami terima? 

Seiring perjalanan waktu, beberapa bulan kemudian kami pun naik kelas V. Naik kelas bukan berarti “proyek” sejak Cawu II kelas IV selesai, malah semakin tinggi frekuensi belajar mandirinya. Akhirnya kami pun tahu apa tujuan dari “proyek” tersebut. Ternyata, hal itu untuk persiapan lomba bidang studi yang dilaksanakan setiap tahun. Kami pun menanggapinya dengan biasa-biasa saja, maklum sepanjang tak ganggu jam bermain maka hal itu layak untuk diteruskan.

Ketika Cawu III kelas V, Pak Khaerum memutuskan untuk memilih siapa saja yang nantinya maju mewakili SDN Tempeh Tengah 4 untuk lomba bidang studi. Aku masih ingat, untuk matematika diwakili Devi, sedangkan IPA oleh Sita. Namun, perlombaannya bukan di saat kami kelas V, tapi ketika Cawu I kelas VI mendatang. Semakin tinggi frekuensi belajar mandiri, bahkan kami harus sering belajar sendiri di ruang kantor guru agar bisa lebih fokus.

“Arif, kamu belajar sendiri di kantor. Nanti setelah istirahat baru masuk kelas lagi,” kata Pak Khaerum kepadaku ketika hendak memulai pelajaran jam pertama.

Aku pun pergi meninggalkan kelas dan teman-teman. Paling menyenangkan jika jam pertama pelajaran matematika atau IPA karena aku tidak begitu menyukainya. Bahkan bisa dikatakan, khusus matematika, aku tidak menyukainya karena sulit. Semuanya berlangsung hingga lomba tersebut dilaksanakan dan kebetulan Pak Khaerum yang membimbingku sejak kelas IV tak bisa mendapingi saat lomba. Ketika naik kelas VI, beliau dipindahtugaskan mengajar di Kepulauan Kangean, sebelah timur Pulau Madura.

“Proyek” tersebut akhirnya bisa sepenuhnya ku pahami ketika melanjutkan studi di Universitas. Apa yang telah dilakukan Bu Suparti dan Pak Khaerum ketika SD dulu menjadi latar bagi perjalananku setelahnya. Kurikulum dengan mata pelajaran sangat banyak tersebut hanya menciptakan manusia yang generalis. Tak bisa jadi “ahli” di bidang tertentu. Apalagi ditambah dengan informasi tentang bagaimana pendidikan di luar negeri yang memang fokus sesuai bakat anak. Aku pun akhirnya menyadari semuanya. Ternyata, “proyek’ sejak kelas IV SD tersebut bukanlah program biasa, tapi merupakan usaha untuk menciptakan sejarah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s