Coretan Dinding Toilet

Posted: 14 September 2012 in Arbiter
Tag:, , , , , , , , , , , ,

Bagaimana sih toilet yang menarik itu? Hampir pasti semua akan bilang, toilet menarik itu yang terlihat bersih, rapi, dan modern. Ternyata bukan. Toilet menarik itu yang penuh dengan beragam coretan usil. Entah itu kegalauan, protes, atau sekedar iseng saja. Lumayan, bisa jadi teman bacaan kala sedang melaksanakan panggilan alam.

Toilet penuh coretan di dindingnya apa ga tampak kumuh? Saran saya, jangan lihat sisi tersebut. Coba nikmati sisi lain dibalik semua coretan yang ada. Di sana bakal ketemu banyak cerita yang jujur dari lubuk hati. Apalagi yang coretannya panjang bak dongeng, semakin memacu adrenalin untuk terus membacanya sampai tuntas tanpa sisa 

Dinding toilet jadi tempat curhat sang penulisnya. Mereka ingin perasaannya diketahui orang lain, tapi karena takut disebut curcol, tempat rahasia ini pun jadi lawan tanding. Tak akan ada orang yang tahu siapa penulisnya, kecuali aksi corat-coret tersebut dilakukan di toilet rumah. Paling ekstrem, pas lagi semedi sambil curhat di dinding ada yang ngintip. Wadohhh….

Karena hal ini, barangkali, seorang pemimpin perlu sesekali masuk ke toilet umum untuk mencari aspirasi kawulanya. Tulisan di sisi dinding toilet tersebut merupakan curhat terdalam yang tak tersampaikan. Mereka bisa leluasa menulis apa pun sesuka hati. Persis seperti toilet kampus saya dulu sebelum direnovasi yang mana dindingnya penuh dengan coretan protes a la mahasiswa. Bahkan, ada pula yang coretan tentang perasaan terhadap seseorang. (Ga berani nembak gitu simpelnya, hehe).

Coretan di dinding toilet sangat menarik jika kita telaah lebih jauh jauh lagi. Coretan tersebut penuh dengan makna, menggambarkan realitas yang ada. Dinding tersebut menjadi alat untuk ungkapkan suara yang dibungkam atau takut untuk dilontarkan. Kecuali, coretan tersebut hanya sekedar kata-kata jorok, tentunya itu sangat merusak pemandangan.

Kita tak tahu siapa penulis coretan tersebut. Kita juga tak tahu kapan coretan tersebut ada, kecuali kalau tiap hari kontrol dinding-dindingnya. Ini mirip ide Foucault tentang Tahun Tanpa Nama. Saat itu ia mengajak para penulis buku untuk tidak mencantumkan namanya sebagai pengarang. Hal ini erat metode discourse analysis yang ia kembangkan. Sebuah teks tak bisa dilepaskan dari latar belakang penulisnya dan situasi sosial, politik, dan budaya saat penulisan dilakukan.

“Suara-suara pinggian” ini banyak yang tak mencermati. Sangat menarik jika kita senantiasa membaca “teks” di dinding toilet yang memang rahasia tersebut. Bisa jadi, inspirasi bakal hadir karena ada masukan ide dari sana.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s