“Apa sih beda puasa di Rusia dan di Indonesia? Toh sama saja kan, keduanya ada di muka bumi?” Pertanyaan seperti ini memang wajar memang wajar jika muncul ke permukaan. Antara Indonesia dan Rusia memang tak ada bedanya, sama-sama di bumi. Namun, terkait Ramadhan, ada banyak hal yang membedakan antara Indonesia dan Rusia. Tak hanya soal kultur saja, juga paling mencolok yakni lamanya waktu berpuasa.

Pergantian siang dan malam di Indonesia senantiasa berjalan konstan. Perbedaannya tidak terlalu mencolok. Kalau Ramadhan, rata-rata kita berpuasa sekitar 14 jam per hari. Hal itu hampir senantiasa terjadi dengan anomali yang yang sekiranya bisa “diabaikan”. Namun, rumus seperti ini tak berlaku di Rusia. Posisi garis lintang Rusia yang cukup tinggi membuat lamanya siang dan malam jauh berbeda. Semuanya tergantung musing yang sedang berlangsung.

Ramadhan di Rusia, khususnya Moskow, tahun ini bertepatan dengan musim panas. Alhasil, siang berlangsung sangat panjang dan matahari istirahat di peraduannya tak terlalu lama. Sebagai gambaran, Subuh berlangsung sekitar pukul 03.25, sedangkan Maghrib sekitar pukul 21.50. Bisa dihitung sendiri kan berapa lama mereka yang menjalankan puasa Ramadhan di Rusia (Moskow) harus tidak makan dan minum serta lainnya? Lebih ekstrem lagi kalau menengok lebih ke utara lagi. “Kalau di Saint Petersburg, puasa Ramadhan bisa berlangsung selama 21 jam,” ujar seorang kawan yang tinggal di bekas ibukota Rusia era Tsar ini.

Ramadhan tahun ini bukanlah puasa terpanjang yang bakal dihadapi umat Islam di Rusia. Ramadhan 2014 bisa jadi yang terpanjang kelak karena diawali sejak Juni. Akhir Juni, sekitar tanggal 23-29, merupakan puncak musim dari musim panas. Seperti Juni kemarin pada tanggal-tanggal tersebut, matahari terbenam dari Kota Moskow sekitar pukul 22.30. Bahkan, di Saint Petersburg saat itu terjadi malam putih, yakni hari dimana malam sangat singkat, paling lama cuma satu jam saja. Hampir mustahil kan puasa dengan waktu berbuka dan imsak hanya sejam?

Penduduk Rusia yang menjalankan Ramadhan barangkali bisa tersenyum “lega” tiap 20 tahun. Apa penyebabnya? Karena Ramadhan bisa berlangsung di musim dingin. Pada musim ini, siang berjalan lebih singkat daripada malam. Pengalaman menunjukkan, pukul 09.00 matahari masih malu untuk keluar dari peraduannya. Masyarakat beraktivitas saat Subuh, padahal itu sudah pukul 09.00. Matahari pun jauh lebih cepat masuk ke peraduannya. Alhasil, Ramadhan kala musim dingin bakal jadi lebih singkat dibandingkan di Indonesia (kelak).

Nikmati Saja

Merayakan Ramadahan di Rusia tentunya jauh berbeda dengan di tanah air. Hingar-bingar keceriaan manusia dan hiruk-pikuk menjelang buka puasa tak ada sama sekali. Semua berjalan seolah-olah tak ada apa-apa, seperti hari biasa saja. Namun, hanya hati mereka yang merayakannya secara religi atau kultural yang bisa mengecapnya. Tak ada yang istimewa, apalagi gelontoran iklan TV bernuansa Ramadhan seperti di tanah air, nihil. Cukup dinikmati sendiri atau bersama kawan-kawan yang merayakannya.

Ramadhan di Rusia harus dinikmati dengan hati ceria. Tak perlu membayangkan seperti di tanah air karena sudah kelihatan jauh bedanya. Sebagai gambaran, untuk mengetahui waktu buka atau imsak kita harus andalkan jam. Mustahil jika harus menunggu corong dari Mushala atau Masjid yang meraung-raung memberi tanda seperti di Indonesia. Karena itu, diusahakan penunjuk waktu kita harus tepat biar lebih mantap. Jika tidak, bisa-bisa kita ketinggalan buka atau bablas imsaknya. Apa mau seperti ini?

Tak selamanya puasa di Rusia itu sulit. Ada kalanya keceriaan hadir ditengah kesulitan adaptasi aktu serta perbedaan kultur yang ada. Kegembiraan itu hadir nyata ketika ada buka bersama. Berkumpul dambil bercerita macam-macam sehingga nuansa Indonesia hadir dengan nyata. Tentu saja, menu yang tersedia juga pasti khas Indonesia. Persis seperti di tanah air dengan tempat berbeda. Semua bercerita tentang banyak hal. Semua berbaur satu sama lain.

Rusia memberikan pengalaman tersendiri di Bulan Ramadhan. Ada kehangatan kekeluargaan di antara satu sama lain. Ada juga kesulitan yang menghadang terkait kondisi alam dan perbedaan kultur. Semuanya berjalan bersama bak komposisi musik yang harmonis dan penuh gairah. Dibalik itu semua, ada banyak hal yang juga “hilang” ketika Ramadhan berlangsung. Ada yang hilang, tapi hal baru juga hadir di daalamnya. Ya, eta Rossiyaa…

Iklan
Komentar
  1. Beckam Durasim berkata:

    ea lma baet pusa dieropa m

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s