Sumber: Okezone.com

Indonesia bukanlah negara yang baru dikenal oleh negara Rusia maupun rakyatnya. Kenangan manis kemesraan masa lalu masih melekat kuat hingga saat ini. “Keterputusan” hubungan emosional di era rezim Suharto tak menghapus memori yang terlanjur melekat kuat tersebut. Indonesia tetap jadi bagian dari sejarah sejarah masyarakat Rusia yang pernah merasakan manisnya persahabatan tersebut, bahkan generasi setelah mereka.

Beda dengan negara lain, di Rusia, Indonesia tak hanya dikenal sekedar kemolekan Pulau Dewata saja. Mereka juga mengenal aspek lainnya selain Bali. Barangkali, ini disebabkan oleh kedekatan hubungan Indonesia-Rusia (saat itu bernama Uni Soviet) pada dekade 1950-an hingga medio 1960-an. RSUP Persahabatan, Tugu Tani, dan Stadion Gelora Bung Karno merupakan contoh nyata kedekatan hubungan dua negara ini. Selain itu, akhir era 1950-an, ribuan pelajar Indonesia belajar pada banyak universitas di Rusia.

Menurut cerita seorang kawan, orang-orang Rusia yang mengalami masa-masa indah hubungan Indonesia-Uni Soviet masih tetap mengenang memori tersebut. Indonesia, menurut dia, dikatakan sebagai “adik” bagi bangsa Rusia kala itu. Hal ini menggambarkan betapa mesranya hubungan Indonesia-Rusia sebelum terjadinya gonjang-ganjing politik pada 1965. Kontras sekali dibandingkan dengan ketika era Suharto berkuasa. Hubungan mesra tersebut menjadi beku, sedingin daratan Siberia.

Melekatnya memori masa lalu hubungan Indonesia-Rusia tampak jelas ketika para mahasiswa Indonesia dipanggil oleh dosen seusai kuliah. Awalnya mereka bingung apa maksud sang dosen. Namun, sang dosen ternyata hanya bertanya tentang Candi Prambanan yang ada di buku sembari bertanya di mana kota asal tiap-tiap mahasiswa tersebut. Kemudian, sang dosen juga bercerita tentang kisah yang diutarakan ibunya tentang mahasiswa Indonesia.

“Dulu, ketika pertama kali jadi dosen, Ibu saya mengajar mahasiswa Indonesia. Mahasiswa dari Indonesia di Rusia dulu itu banyak, tapi karena alasan politik mereka akhirnya banyak yang tak bisa pulang,” tuturnya.

Di hari yang sama, seorang kawan juga bercerita hal hampir sama. Dosennya juga bercerita tentang mahasiswa Indonesia yang dulu pernah ia ajar. Menurut kawan ini, sang dosen bertutur, dulu banyak mahasiswa Indonesia yang belajar di Rusia. Namun, banyak dari mereka yang tidak bisa pulang setelah menyelesaikan studinya. “Karena di Indonesia saat itu ada perang,” ujar kawan satu ini mengisahkan kembali apa yang dikatakan dosennya.

Mereka yang tidak bisa pulang setelah belajar di Rusia ini merupakan mahasiswa ikatan dinas (Mahid) yang dikirim oleh pemerintah. Mereka dikirim ke berbagai negara untuk belajar agar setelah menyelesaikan studinya kembali ke tanah air guna membangun negara yang baru seumur jagung ini. Perubahan politik pasca peristiwa G 30 S/1965 membuat mereka harus memendam keinginan terdalamnya untuk bisa pulang ke tanah air. Presiden Wahid (Gus Dur) kala itu menyebut mereka sebagai “orang-orang kelayapan”.

Tentunya kita bisa membayangkan andaikata sekitar 5000 mahasiswa yang dikirim ke berbagai negara saat Pemerintahan Sukarno itu pulang semua. Akselerasi pembangunan kemungkinan besar lebih cepat karena banyak tenaga terdidik yang mencurahkan tenaganya secara langsung untuk proses tersebut. Sejarah berkata lain. Para mahasiswa terse but harus menjadi eksil yang harus memendam kerinduannya atas kampung halamannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s