Matahari Musim Semi

Posted: 25 Mei 2012 in Arbiter
Tag:, , , , , , , , , ,

Apa yang ada dalam benak kita ketika membayangkan musim semi? Bunga bermekaran, pepohonan menghijau, dan kehangatan setelah tiga bulan dibekap salju musim dingin. Tampak indah dan siapa pun pasti membayangkan betapa nyamannya musim semi. Namun, dibalik keindahan musim semi tersebut ada sesuatu yang ganjil, yakni tipuan matahari.

Inilah yang ku alami ketika pertama kali menikmati musim semi di negeri beruang merah, Rusia. Setelah menggigil terkena salju musim dingin, kehangatan bakal tiba. Musim semi melahirkan janji adanya sinar dan panas matahari yang berlimpah. Benar-benar luar biasa bagi tubuh. Jaket tebal untuk sementara ditanggalkan, cukup dengan sweater atau baju hangat biasa saja. tak perlu lagi terlihat seperti binaragawan dengan jaket tebal tutup badan dari ujung kepala hingga telapak kaki.

Hangatnya matahari jadi sesuatu yang berharga kala musim dingin. Bumi hanya menampakkan satu warna, putih, sepanjang mata memandang. Hamparan salju tebal menutup pandang dan semua “terpenjara” dengan pakaian tebal untuk menghindari kedinginan. Suhu di bawah minus 20 derajat celcius jadi hal lumrah, bahkan pernah mencapai minus 30 derajat celcius. Malam semakin panjang, bahkan pukul 9 pagi pun matahari masih malu-malu untuk menampakkan dirinya.

Musim semi pun tiba dengan secercah harapan. Harapan untuk terbebas dari kebekuan yang senantiasa menyelimuti. Perlahan tapi pasti, hamparan karpet putih pun terhapus dari bumi. Matahari melabur bumi dengan warna-warni yang indah. Manusia pun tak segan lagi muncul menyusuri jalanan Moskow. Musim dingin pun pun pergi dan membuat ceritanya sendiri tentang es, salju, dan beku.

Bayangan keindahan musim semi seperti dalam tayangan televisi waktu di tanah air bisa menjadi halusinasi. Halusinasi tentang orientasi waktu yang sering menipu siapa pun. Matahari ternyata tak bisa dijadikan patokan untuk menunjukkan waktu. Teknologi lah yang bisa mewakilinya dengan jam tangan atau penunjuk waktu di telepon seluler. Apa pun bentuknya, teknologi jadi sandaran agar tak kehilangan orientasi waktu. Cukup berat juga ternyata.

“Jangan jadikan matahari sebagai patokan waktu. Satu hari itu hanya ada 24 jam, manfaatkan itu sebaik-baiknya,” ujar istriku kala menasehati saat musim dingin. Kala musim dingin, malam sangat panjang. Shalat Subuh yang biasanya dilakukan sekitar pukul 4-5 pagi (WIB), dilakukan pukul 8 pagi. Matahari pun cepat lelap dalam peraduan.

Rusia yang selama ini terkenal dengan dinginnya perlu untuk ditambah lagi. Ya, soal orientasi waktu jika berpatokan dengan matahari. Orang-orang dari negeri tropis banyak yang tertipu dengan lamanya siang, dan pastinya bekunya musim dingin. Bak dua sisi mata uang, hangat dan beku di Rusia punya konsekuensi sendiri-sendiri. Masing-masing harus dihadapi dengan semestinya. Menghindar dari dingin dan “kekacauan” orientasi waktu hanya jadi sesuatu yang sia-sia saja.

Aku pun hanya bisa bayangkan bagaimana kala musim panas tiba. Tentunya, matahari bakal semakin ganas dan malam pun singkat. Inilah Rusia. Apa pun harus dihadapi dengan suka cita. Menyalahkan dingin sama halnya mendakwa cermin atas keganjilan yang ada dalam diri kita. Kehilangan orientasi waktu sama saja dengan mengabaikan penunjuk jalan yang terpampang jelas di depan mata kita. Eta Rossiya…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s