Purnama Berbalut Rindu 2

Posted: 4 April 2012 in Arbiter
Tag:, , , , , , , ,

Bapak ku pernah bercerita, kala purnama jadi sebuah pengharapan bagi anak-seusianya. Maklum, hanya di kala purnama di kampung tampak terang, selebihnya tidak. Namun, saat ini, purnama bukan berarti saat bermain. Purnama menandakan hari yang dinanti bakal segera tiba, randezvous. Pertemuan yang selalu dinanti setelah sekian lama mengumpulkan kepingan rindu.

Purnama tampak lagi setelah sebulan bersembunyi di balik ketiak bumi. Ingatan kembali muncul tentanbg janji terhadap rembulan kala pergi. Ada harapan yang senantiasa hadir kala purnama tiba. Ada sepucuk rindu yang hendak disampaikan dengan tertatih. “Segera ku kan datang.”

Cahaya purnama memang kelihatan tak seterang dulu ketika listrik masih langka. Cahayanya dimangsa lampu kota penuh warna, gemerlap bak panggung pertunjukan. Namun, purnama tetap percaya diri menunjukkan keindahannya. Ia jadi petanda sebuah harapan yang harus jadi kenyataan dengan segera, bukan sekedar ekspektasi kosong.

Tiap purama tiba selalu lahirkan bahagia. Ya, berarti menghitung mundur. Sedikit demi sedikit bisa menaklukan sang waktu yang awalnya terasa berjalan amat sangat lambat. Purnama memberi sedikit jalan untuk mempercepat jalannya sang waktu, tanpa fee bak ketika hendak menggolkan anggaran di tempat panas yang lain itu.

“Lihat langit sekarang. Rembulan sedang penuh. Berarti kurang beberapa kali purnama lagi,” terangnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s