“Ekstasi” Pagi

Posted: 15 Februari 2012 in Arbiter
Tag:, , , , ,

Ecstasy is a glassful of tea and a piece of sugar in the mouth.” – Alexander Pushkin

Pagi itu tampak biasa-biasa saja. tak ada yang istimewa dibandingkan pagi lainnya. Matahari bersinar seperti biasa meski agak sedikit bermuram durja. Enggan terbit menantang siang meski jam dinding terus beranjak naik. Setelah tertegun beberapa detik, pagi itu ternyata tak biasa. Ternyata, pagi itu menunjukkan kuasanya, bersuhu minus 30 derajat celcius.

Aku hanya tertegun menikmati dingin yang menusuk tulang. Tak pernah terbayangkan sebelumnya harus berada di tempat yang suhunya terbalik 180 derajat dibandingkan tanah air. Bayangan langsung menuju Kota Surabaya yang panasnya menyengat. Ini bukan Surabaya, jangan pernah sekedar bayangkan panasnya sinar matahari, bahkan kehangatannya saja. “Selisih 60 derajat celcius,” gumamku membandingkan.

Hawa dingin menggigil ini harus dihadapi, mustahil untuk dihindari. Mau tak mau, kita lah yang harus mengalah terhadap kekuatan alam. Manusia hanya bisa menyesuaikan diri tiada daya untuk berbuat apa-apa, paling banter menyiasatinya tanpa bisa menundukkannya. Hanya ada dua pilihan, gunakan pakaian tebal saat keluar ruangan atau tarik selimut lebih dalam lagi agar hawa dingin tak menembus kulit. Hanya itu yang bisa dilakukan.

Mustahil pula sepanjang hari hanya dalam buaian selimut tebal. Kehidupan harus terus berjalan meski tantangannya sangat dalam. Seteguh teh hangat bisa sedikit mencairkan kebekuan yang jauh lebih dingin dari lemari es ini. Benar apa yang pernah dikatakan penyair kesohor dari Rusia, Alexander Pushkin, secangkir teh hangat dan sejumput gula bisa jadi “ekstasi” yang mampu mengembalikan gairah hidup yang beku karena dingin.

Kebekuan musim dingin bukan berarti kehidupan berhenti. Semua tetap berjalan normal meskipun secara kualitas dan kuantitas berkurang. Bagi mereka yang menggantungkan hidup dari hawa dingin akan tetap melanjutkan aktivitasnya tanpa menghiraukan berapa suhu saat itu. Adanya hanya lintasan kehidupan yang harus dihadapi dengan berbagai macam siasat dan cara.

Suhu 30 derajat di bawah nol ini memang cukup membuat “takjub”. Di antara gigitan hawa dingin, beberapa manusia yang penuh dedikasi terus melakukan kewajibannya. Mereka membersihkan jalanan dari “sampah” salju semalaman. Mereka tak mengenal dingin walaupun lainnya saat itu bersembunyi dibalik selimut hangatnya. “Srok…srok..srok…,” begitulah bunyi sekop para pekerja itu yang membersihkan jalanan dari salju yang sudah jadi es.

Bayanganku langsung tertuju pada petugas kebersihan di Jakarta yang begitu gigih menaklukkan udara dingin ibukota. Mereka “hidup” ketika lainnya sedang terlelap di bawah hembusan hawa dingin air conditioner. Mereka benar-benar manusia tangguh dalam menghadapi kehidupan tanpa menyerah sedikit pun terhadap semua tantangan yang ada. Bumi manusia mengharuskan mereka untuk menerjang segala kondisi meski itu “di luar” batas “kewajaran”.

Pagi itu pun harus tetap ku hadapi. Secangkir teh dan sejumput gula menandai hari baru meski hawa dingin menerjang tanpa ampun. Apa pun keadaannya, hari baru harus siap untuk disambut karena ia tak pernah terulang kembali. Matahari mungkin bisa menipu dengan keengganannya menyinari bumi, tapi jam dinding di ruangan tak pernah kenal kompromi. Ia hanya berputar 24 jam saja tanpa mengenal musim.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s