Purnama Berbalut Rindu* (1)

Posted: 10 Februari 2012 in Arbiter
Tag:, , ,

Di suatu purnama aku pergi. Di suatu purnama pula aku kan kembali…

Kutipan dari film Ada Apa Dengan Cinta yang kesohor tersebut bisa mewakiliku saat sejak pergi jauh dari seseorang yang amat ku cintai hingga beberapa bulan mendatang. Inilah kalimat yang senantiasa ku ingat selalu semenjak meninggalkan tanah air. Susunan kata yang mewakili makna pengorbanan, cinta, harapan, dan penantian.

Rembulan tampak bulat dengan sempurna, tanpa sudut sama sekali. Malam itu, rasa sedih ku pendam sedalam-dalamnya dalam lubuk hati. Aku tak mau siapa pun tahu, bahkan orang terdekat sekali pun. Aku tak ingin tenggelam dengan perasaan yang campur aduk tak karuan. Aku pun tahu apa yang sejatinya dirasakan oleh seseorang yang pasti menemaniku hinggga akhir hayat.

Saat itu, aku melarangnya untuk menangis di depan mata ku. Bukan bermaksud melarang seseorang menangis, aku hanya ingin melihatnya tampak tegar meski kesedihan mendalam sedang melandanya. Pelukan hangatnya kala melepas kepergianku sangat berkesan di lubuk hati. Aku akan selalu mengingatnya sampai kapan pun.

“Aku tadi ga nangis kan?” Inilah kalimat yang membuat hatiku berdegup kencang. Di satu sisi aku merasa bersalah karena melarang seseorang untuk menangis. Padahal, saat itu, sejatinya aku juga menangis meski di dalam hati. Aku juga tak ingin dia tahu tangisan yang sebenarnya terjadi pada ku.

“Seandainya bisa mengatur waktu, aku akan membuat satu hari bukan 24 jam, tapi jauh lebih lama dari itu dan mempercepatnya ketika ku berkehendak,” kata ku dalam hati.

Langkah ku terasa gontai ketika masuk ke dalam pesawat terbang yang membawa ku ke ujung dunia. Inilah kenyataan yang harus dihadapi. Aku tak ingin mengecewakannya karena karena dialah aku kuat menjalani semua itu. “Kesempatan hanya ada sekali, tidak ada untuk yang kedua kalinya,” tuturnya.

Selama perjalanan, aku hanya bisa sekedar tidur ayam. Pikiran ku masih terbayang-bayang dengannya. Di mana pun berada, bayangannya tak bisa lepas dari pikiran ku, meski hanya sekelebat saja. Karena itu, barang pertama yang kucari kala menginjak kota asing ini, yakni nomor telefon lokal. Hal itu baru bisa ku wujudkan sehari kemudian.

Aku sangat bahagia kala mendengar suaranya meski hanya sebentar. Sebuah kebahagiaan yang tak ternilai harganya.

*Semua tulisan bersambung dengan judul ini ku persembahkan untuk istriku tercinta Hesti Nurina Paramita.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s