Musim Dingin di Eropa

Posted: 10 Februari 2012 in Arbiter
Tag:, , , , , , ,

Eropa sedang alami cuaca buruk karena musim dingin di luar kebiasaan. Benar kah?

Pertanyaan ini kiranya sangat cocok untuk dilontarkan karena akibat musim dingin yang membeku ini, ratusan orang meregang nyawa. Aktivitas kehidupan terganggu akibat suhu minus di luar kebiasaan ini. Bayangkan saja bagaimana dinginnya Rusia kalau begitu adanya (cukup bayangkan Moskow saja, ga perlu sampai ke Siberia, hehe)!

“Musim dingin tahun ini (2011-2012) merupakan musim dingin yang ‘terpanas’ dan ‘teraneh’”. Begiltulah lontaran seorang kawan yang sudah setahun lebih tinggal di Moskow. Ia membandingkan musim dingin tahun lalu (2010-2011) dengan saat ini. Menurut dia, tahun ini dinginnya tak semenusuk seperti setahun yang lalu.

“Tahun lalu sampai minus 28 (derajat Celcius),” katanya.

Puncak musim dingin biasanya terjadi sekitar pertengahan hingga akhir Januari. Namun, sampai hampir pekan ke dua Februari ini, suhu terendah di Kota Moskow tercatat (versi internet sih) mencapai minus 23 derajat Celcius (Wuihh….lemari es saja kalah dingin, brrr…). Aktivitas warga pun tetap berjalan “normal” seperti biasanya.

Tak hanya itu saja. Fenomena musim dingin di Rusia juga mematahkan pepatah yang selama ini cukup diakui validitasnya di Indonesia. “Mustahil minyak bisa bercampur dengan air.” Tentu saja, bukan minyaknya yang saya maksud, hanya analogi saja. ini tentang kisah percumbuan matahari dan hawa dingin kala musim dingin berlangsung.

Hipotesis, sengatan matahari akan meluluhkan hawa dingin berlaku di semua tempat. Namun, di Rusia hal itu tak berlaku. Sengatan matahari nan terik tidak berarti menyuguhkan kehangatan. Teriknya sinar matahari dan hawa dingin yang menusuk merupakan dua entitas beda. Mereka bekerja bak sistem sel dalam sebuah organisasi klandestin (bawah tanah). Sinar matahari hanya memberikan penerangan. Suhu tetap dikuasai hawa dingin yang menusuk. Matahari nan terik dan suhu dingin menusuk tulang bercumbu dengan mesra.

Seorang kawan yang lain bercerita tentang ganasnya musim dingin di di Rusia, khususnya Moskow. Saat malam pergantian tahun dari 2011 ke 2012, suhu kota Moskow tak seperti setahun sebelumnya. Kala itu sekitar minus 3 derajat Celcius. Padahal, setahun silam di waktu yang sama, suhunya sudah mencapai minus belasan derajat Celcius. Malahan, di Yekaterinburg, saat itu suhu mencapai minus 11 derajat Celcius. Beda jauh dengan setahun sebelumnya yang mencapai hampir minus 30 derajat Celcius.

“Ini bisa jadi tanda musim dingin tahun ini bisa lebih panjang dibanding tahun lalu,” tuturnya dengan gaya bak seorang peramal cuaca. 

Paparan kawan-kawan di atas mengagetkan ku tentang bencana musim dingin yang sekarang terjadi di daratan Eropa. Simpati dan belasungkawa amat dalam untuk korban dan keluarganya. Cukup aneh, Rusia, khususnya Moskow, yang biasanya dingin menusuk tahun ini lebih “panas”. Namun, di negara tetangganya menikmati musim dingin yang hebat. Fenomena apakah ini? Apakah sekedar anomali biasa saja atau akibat perubahan iklim? Biar para klimatolog dan meteorolog saja yang menyimpulkan hal ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s